Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang dimulai dari Lampung dinilai belum menunjukkan bahwa ia masih memiliki daya dongkrak elektoral yang kuat. Minimnya antusiasme masyarakat dalam kunjungan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai relevansi “efek Jokowi” untuk mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) maupun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai safari politik tersebut bukan semata agenda silaturahmi. Menurutnya, langkah itu merupakan upaya mengonsolidasikan kekuatan politik keluarga sekaligus memperbesar peluang politik dua putranya, Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.
“Safari politik itu diarahkan untuk membesarkan Gibran dan Kaesang. Tujuannya menjaga kesinambungan trah politik Jokowi di tingkat nasional,” kata Jamiluddin dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).
Namun, ia menilai kunjungan di Lampung justru memperlihatkan sinyal sebaliknya. Di daerah yang pernah menjadi lumbung suara Jokowi pada Pilpres 2019 dengan perolehan sekitar 59,71 persen suara, sambutan masyarakat disebut berlangsung datar. Aktivitas warga dinilai berjalan seperti biasa, bahkan sebagian kelompok masyarakat menggelar aksi penolakan terhadap kedatangannya.
Bagi Jamiluddin, kontras antara besarnya dukungan pada masa lalu dengan respons publik saat ini menunjukkan bahwa pengaruh politik Jokowi terus mengalami penurunan.
“Jokowi bukan lagi magnet politik yang mampu menggerakkan massa atau menghipnotis pemilih seperti ketika masih berkuasa. Trust publik tampaknya sudah jauh berkurang,” ujarnya.
Atas dasar itu, ia meragukan safari politik tersebut dapat menjadi mesin pendulang suara bagi PSI pada pemilu mendatang. Penilaian serupa juga diarahkan kepada Gibran yang dinilai sulit memperoleh tambahan elektoral hanya dengan mengandalkan pengaruh sang ayah.
Menurut Jamiluddin, langkah Jokowi saat ini lebih menyerupai pertaruhan politik. Jika safari politik gagal mengubah persepsi publik dan mengangkat elektabilitas PSI maupun Gibran, agenda tersebut disebut berpotensi menjadi indikator bahwa pengaruh politik Jokowi telah memasuki fase penurunan.
“Kalau hasilnya tidak sesuai harapan, safari politik ini justru menjadi bukti bahwa efek elektoral Jokowi semakin melemah. Ambisi mempertahankan trah politik bisa lebih besar daripada kekuatan politik yang benar-benar masih dimiliki,” ucap mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.