China Gelar Survei Laut di Timur Taiwan untuk Siapkan Tata Ruang, Taiwan Tolak Klaim ZEE Beijing

China Gelar Survei Laut di Timur Taiwan untuk Siapkan Tata Ruang, Taiwan Tolak Klaim ZEE Beijing

Pemerintah China memperkuat pengelolaan perairan di sebelah timur Taiwan melalui survei sumber daya dan lingkungan laut yang digelar Kementerian Sumber Daya Alam pada 16–18 Juni. Survei ini disebut sebagai bagian dari persiapan penyusunan tata ruang wilayah laut serta perluasan model tata kelola pesisir ke kawasan yang dinyatakan berada dalam yurisdiksi Beijing.

Survei tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi ekologis dan sumber daya alam sebagai dasar pengembangan dan konservasi ruang laut pada masa mendatang. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang bersifat proyek khusus dan satu kali, kegiatan kali ini ditetapkan sebagai survei rutin tahunan.

Media pemerintah China, Yuyuantantian, menyatakan kegiatan itu mencerminkan upaya Beijing memperkuat pelaksanaan hak yurisdiksi dan inventarisasi sumber daya alam secara menyeluruh di kawasan tersebut. Dalam survei terbaru, China juga untuk pertama kalinya melakukan penelitian khusus terhadap populasi burung laut dan mamalia laut, termasuk cetacea. Langkah ini disebut menandai pergeseran dari survei umum menuju penelitian yang lebih terfokus berdasarkan spesies dan wilayah tertentu.

Pakar yang dikutip Yuyuantantian menyebut hasil pemetaan diharapkan mendukung agenda pengembangan ekonomi maritim, termasuk industri kelautan, eksplorasi minyak dan gas, serta pengembangan bioteknologi laut. Di sisi lain, pemerintah China juga menyiapkan program konservasi yang mencakup perlindungan ekosistem laut, pengendalian sumber pencemaran, dan pengelolaan terpadu di kawasan laut yang dinilai strategis.

Ke depan, China berencana mengembangkan tata ruang laut secara berlapis, mulai dari budidaya perikanan di permukaan dan kolom air hingga pembangunan infrastruktur dasar laut seperti kabel bawah laut, jaringan pipa, terowongan bawah laut, dan jembatan lintas laut.

Yuyuantantian menegaskan seluruh aktivitas tersebut dilakukan berdasarkan klaim Beijing atas zona ekonomi eksklusif (ZEE) di wilayah timur Taiwan. Media itu juga menyebut China memperluas instrumen pengelolaan dan penegakan yurisdiksi di kawasan tersebut, mulai dari latihan militer, patroli Penjaga Pantai China, penegakan hukum maritim, survei hidrografi, hingga inventarisasi sumber daya alam secara berkala.

Menurut Yuyuantantian, sejumlah pihak disebut berupaya mengganggu pelaksanaan survei rutin tersebut. Namun, operasi tetap berlangsung dengan dukungan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy) dan Penjaga Pantai China yang disebut bertugas mengamankan kegiatan di lapangan. China juga menyatakan koordinasi antara lembaga penegakan hukum maritim dan otoritas sumber daya alam akan terus diperkuat untuk memasukkan perairan di timur Taiwan ke dalam sistem pengelolaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Taiwan menolak klaim yurisdiksi Beijing atas perairan di timur pulau tersebut. Taiwan Coast Guard Administration (CGA) menegaskan China tidak memiliki hak kedaulatan maupun yurisdiksi di kawasan itu dan menyebut operasi penegakan hukum maritim yang dilakukan Beijing bertentangan dengan hukum internasional.

CGA menyatakan kapal-kapal penjaga pantai Taiwan akan terus memantau aktivitas kapal survei dan kapal penegak hukum China di kawasan tersebut. Otoritas itu menegaskan setiap upaya Beijing untuk menegaskan yurisdiksi di perairan timur Taiwan tidak akan diakui dan akan direspons sesuai prosedur yang berlaku. Pemerintah Taiwan juga menilai peningkatan patroli, survei hidrografi, dan operasi penegakan hukum maritim oleh China merupakan bagian dari upaya menciptakan kesan tertentu di kawasan tersebut.