Setiap kali persoalan muncul dalam kehidupan bernegara, sorotan publik hampir selalu tertuju pada mereka yang berada di puncak kekuasaan. Presiden, menteri, anggota parlemen, kepala daerah, dan pejabat negara kerap menjadi sasaran kritik karena merekalah pemegang kewenangan pengambilan keputusan.
Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa orang-orang seperti itu bisa memperoleh kepercayaan publik sejak awal? Pertanyaan ini membawa pembahasan melampaui urusan politik praktis, menuju ranah yang lebih mendasar, yakni kebudayaan.
Sebuah bangsa dapat dikenali dari hal-hal yang dipilih untuk dihargai dalam keseharian. Siapa yang paling mudah mendapat perhatian, bagaimana masyarakat memperlakukan orang jujur, berilmu, kaya, atau sekadar terkenal, menjadi petunjuk tentang nilai yang hidup di ruang publik. Begitu pula dengan berita yang paling cepat menyebar, candaan yang dianggap lucu, serta kemarahan yang cepat berganti dengan isu berikutnya. Hal-hal yang tampak sepele ini, ketika berulang, dapat berubah menjadi kebiasaan, lalu mengendap sebagai budaya.
Budaya, dalam pandangan ini, tidak pernah berada di luar politik. Justru budaya menjadi tanah tempat politik bertumbuh. Pemimpin lahir dari keluarga yang hidup di tengah masyarakat, bersekolah dengan kurikulum yang sama, menyerap percakapan yang sama, dan menyaksikan kebiasaan yang sama. Pengalaman itu kemudian ikut terbawa ketika seseorang memasuki ruang kekuasaan. Karena itu, pergantian nama pemimpin tidak selalu diikuti perubahan watak, terutama bila lingkungan yang membentuknya tetap berjalan dengan pola serupa.
Gagasan sosiolog Erving Goffman melalui teori dramaturgi membantu menjelaskan proses tersebut. Goffman memandang kehidupan sosial sebagai pertunjukan, di mana setiap orang memainkan peran sesuai harapan lingkungannya. Guru menjaga wibawa di depan murid, pejabat memilih kata-kata meyakinkan di depan kamera, dan tokoh masyarakat membangun citra yang sesuai dengan harapan pendukungnya. Perilaku semacam itu muncul karena manusia menginginkan pengakuan dari orang lain.
Dalam kerangka ini, “penonton” juga menentukan bentuk pertunjukan. Ketika masyarakat memberi penghargaan pada sensasi, ruang publik dipenuhi sensasi. Ketika popularitas lebih cepat menghasilkan pengaruh dibanding kapasitas, semakin banyak orang memilih menjadi terkenal lebih dulu dan berguna kemudian. Ketika kebisingan lebih menarik perhatian daripada argumentasi, kualitas percakapan publik ikut menurun. Politik, pada akhirnya, mengikuti insentif yang disediakan masyarakatnya.
Goffman juga membedakan panggung depan dan panggung belakang. Panggung depan adalah ruang ketika seseorang dilihat publik, sedangkan panggung belakang adalah ruang ketika seseorang menjalani kehidupan tanpa sorotan. Justru di ruang yang jarang terlihat itulah karakter memperoleh bentuknya. Anak belajar tentang kejujuran dari kebiasaan orang tua, murid belajar tentang keadilan dari guru, dan pegawai belajar tentang integritas dari atasan. Nilai tumbuh melalui tindakan yang berulang, bukan lewat pidato panjang.
Di titik inilah persoalan kebernegaraan kerap bermula. Banyak orang mengecam korupsi, tetapi menganggap wajar memberi uang pelicin demi mempercepat urusan. Banyak orang menuntut pejabat jujur, tetapi membenarkan kebohongan kecil untuk keuntungan pribadi. Ada pula yang marah pada penyalahgunaan kekuasaan, tetapi menikmati kedekatan dengan orang yang memiliki jabatan. Tindakan-tindakan semacam itu mungkin tidak langsung mengubah negara, tetapi ketika terjadi berulang dan meluas, ia membentuk standar moral bersama.
Demokrasi memberi hak kepada warga untuk mengawasi kekuasaan agar pemerintah tidak berjalan tanpa batas. Pada saat yang sama, demokrasi menempatkan masyarakat sebagai sumber legitimasi. Karena itu, pilihan-pilihan warga dalam keseharian ikut menentukan kualitas ruang publik yang kelak mereka warisi. Negara bergerak mengikuti arah yang dibentuk oleh kebiasaan warganya, sementara politik memperlihatkan hasil dari proses panjang tersebut. Wajah negara hari ini, dalam pandangan ini, merupakan pantulan nilai-nilai yang selama ini dibiarkan hidup, diberi penghargaan, dan diulang bersama.