Ekspor Hasil Laut Vietnam Naik 11% dalam Lima Bulan, Transparansi Asal Produk Jadi Kunci Hadapi Regulasi

Ekspor Hasil Laut Vietnam Naik 11% dalam Lima Bulan, Transparansi Asal Produk Jadi Kunci Hadapi Regulasi

Ekspor hasil laut Vietnam menunjukkan pemulihan bertahap dan mempertahankan tren pertumbuhan positif dalam lima bulan terakhir. Pada periode lima bulan pertama, nilai ekspor kumulatif tercatat lebih dari US$4,6 miliar, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dua komoditas utama, yakni udang dan ikan pangasius, turut mencatatkan pertumbuhan. Capaian ini disebut mencerminkan upaya industri dalam menjaga area budidaya dan penangkapan, sekaligus memastikan volume produksi yang besar serta kualitas yang tinggi.

Dari sisi pasar, pemulihan di Amerika Serikat dan Uni Eropa dinilai masih berlangsung perlahan. Sementara itu, Tiongkok menjadi pendorong pertumbuhan terpenting dan disebut menyumbang lebih dari 70% dari pertumbuhan keseluruhan sektor perikanan Vietnam dalam beberapa waktu terakhir. Dengan penerapan teknologi tinggi dalam budidaya, pemulihan ekspor, dan perluasan pasar, sektor ini menargetkan nilai ekspor melampaui US$12 miliar.

Meski mencatat sinyal positif, sektor perikanan Vietnam masih menghadapi tantangan dari regulasi pengendalian impor serta langkah anti-penangkapan ikan ilegal yang diterapkan AS dan Uni Eropa. Dalam konteks ini, transparansi asal-usul makanan laut dipandang bukan hanya sebagai persyaratan pasar, tetapi juga solusi penting untuk meningkatkan nilai industri perikanan.

Di Provinsi An Giang, berbagai langkah ditegaskan untuk memastikan kepatuhan, termasuk penolakan terhadap bahan baku ilegal. Pada musim puncak, sebuah pabrik disebut membeli 30–40 ton berbagai jenis makanan laut per hari, namun tetap menolak menggunakan makanan laut ilegal meski pasokan bahan baku terbatas.

Wakil Direktur Perusahaan Huy Nam, Nguyen Nam Vinh, menyampaikan bahwa pengendalian tidak hanya terkait keamanan dan kualitas pangan, tetapi juga dokumen pengiriman. Ia menekankan pentingnya memastikan setiap pengiriman mematuhi ketentuan pemberantasan penangkapan ikan IUU (Illegal, Unreported, and Unregulated).

Direktur Departemen Pertanian dan Lingkungan Provinsi An Giang, Le Huu Toan, mengatakan pihaknya membentuk tim lintas instansi yang melibatkan kepolisian, otoritas pajak, serta dinas terkait untuk melakukan inspeksi. Tim tersebut memeriksa 16 perusahaan dan tidak menemukan penyimpangan dalam aktivitas ekspor mereka ke Eropa, yang dinilai sebagai indikator positif kepatuhan.

An Giang juga disebut memimpin jumlah kapal penangkap ikan dengan sekitar 10.000 unit. Untuk memerangi penangkapan ikan ilegal, wilayah ini menerapkan berbagai solusi guna mendeteksi dan mencegah pelanggaran terkait penangkapan, perdagangan, dan penjualan komoditas hasil laut di laut.

Komisaris Politik Komando Penjaga Perbatasan Provinsi An Giang, Kolonel Nguyen Van Hiep, menyatakan pihaknya secara rutin memperkuat patroli, pengendalian, pengelolaan, dan pengawasan kapal yang beroperasi di laut. Ia juga menegaskan penerapan prosedur ketat untuk sandar dan berlabuh, serta pencegahan terhadap kapal yang tidak memenuhi persyaratan untuk beroperasi.

Ketua Komite Rakyat Provinsi An Giang, Ho Van Mung, menyatakan penanganan pelanggaran mencakup sanksi administratif hingga penuntutan pidana, dengan tekad kuat dan penegakan pada tingkat tertinggi sesuai ketentuan hukum.

Setiap tahun, An Giang memanen lebih dari 430.000 ton hasil laut. Pemerintah daerah menilai kepatuhan ketat terhadap aturan selama operasi penangkapan serta transparansi produk menjadi langkah kunci untuk meningkatkan reputasi dan citra merek industri secara keseluruhan.

Dalam arah pengembangan berkelanjutan, Vietnam menargetkan pertumbuhan ekspor hasil laut sebesar 10% pada 2026. Target ini dinilai tidak mudah mengingat berbagai tantangan yang saling terkait. Industri pun disebut beralih ke pengolahan mendalam untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan mentah, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas pasar.

Di salah satu pabrik pengolahan, kapasitas penanganan disebut mencapai sekitar 200 ton ikan mentah per hari. Untuk menjaga penjualan tetap stabil, perusahaan secara proaktif menjajaki berbagai ceruk pasar.

Wakil Direktur Jenderal Nam Viet Group, Do Lap Nghiep, mengatakan perusahaannya memperluas pasar, termasuk ke AS, Amerika Selatan seperti Brasil dan Kolombia, Timur Tengah, serta Rusia, yang disebut memiliki konsumsi tinggi terhadap produk mereka.

Selain fillet dan produk beku, sejumlah pabrik pengolahan makanan laut berinvestasi pada teknologi pengolahan canggih dan diversifikasi produk. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan kulit ikan mentah yang sebelumnya dibuang, kini diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi.

Disebutkan bahwa satu kilogram kolagen memiliki nilai ekspor sekitar US$13, atau 3–4 kali lebih tinggi dibanding nilai ekspor fillet ikan. Pelaku industri menilai, bila dikembangkan dengan baik, segmen ini dapat menjadi salah satu solusi yang efektif dan berkelanjutan bagi industri akuakultur.

Wakil Direktur Jenderal Perusahaan Aminavico, Kim Jin Seok, menilai Vietnam memiliki keunggulan bahan baku kulit ikan yang melimpah, lebih segar, dan berkualitas lebih tinggi dibandingkan Tiongkok dan India, baik dari hasil budidaya maupun tangkapan liar. Menurutnya, hal itu menjadi keuntungan bagi pabrik yang bergerak di pengolahan lanjutan.

Pada 2026, Vietnam menargetkan ekspor makanan laut senilai US$12 miliar, atau meningkat sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendekatan yang dinilai dinamis dan sistematis disebut menjadi fondasi untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan industri makanan laut Vietnam, terutama di tengah tuntutan transparansi dan kepatuhan terhadap standar internasional.