Piala Dunia kerap menjadi peristiwa olahraga yang menyedot perhatian global. Menjelang edisi 2026, FIFA juga meluncurkan “The official anthem for the FIFA World Cup” berjudul DNA, hasil kolaborasi Andrea Bocelli, David Guetta, EJAE, dan Megan Thee Stallion.
Dalam konteks itu, dilakukan eksplorasi terhadap enam platform AI generatif populer—ChatGPT (OpenAI), Claude (Anthropic), Copilot (Microsoft/GitHub), Gemini (Google DeepMind), DeepSeek (DeepSeek AI, Tiongkok), dan Grok (xAI)—untuk memetakan opini dan prediksi terkait Piala Dunia 2026. Untuk menekan potensi “halusinasi” AI, riset awal menggunakan rujukan tepercaya, termasuk tautan resmi FIFA, dijadikan bahan prompting. Intervensi terhadap keluaran AI disebut dibatasi agar terlihat bagaimana prediksi mesin terbentuk.
Prediksi yang dihasilkan diposisikan sebagai analisis prediktif, bukan cerminan hasil pertandingan sesungguhnya. Dari penelusuran tersebut, tiap model dinilai memiliki kerangka analitis dan bias yang berbeda, yang disebut mencerminkan arsitektur serta data pelatihan masing-masing pengembang.
Piala Dunia 2026 disebut sebagai turnamen paling ambisius FIFA, karena untuk pertama kalinya diikuti 48 tim nasional—naik dari 32 tim pada edisi sebelumnya. Tim-tim itu dibagi ke dalam 12 grup (A hingga L). Turnamen juga istimewa karena diselenggarakan bersama oleh tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Perubahan format ini dinilai bukan sekadar memperbanyak peserta, tetapi turut mengubah dinamika kompetisi.
Dari enam platform AI, empat di antaranya—Claude, Gemini, ChatGPT, dan Grok—menempatkan Prancis sebagai kandidat terkuat, dengan Spanyol sebagai alternatif Eropa yang paling serius. Keempat model ini, sebagaimana dirangkum, memberi bobot besar pada variabel yang relatif mudah dikuantifikasi, seperti keandalan skuad, konsistensi di turnamen besar terakhir, dan stabilitas kepelatihan. Prancis dianggap unggul dalam ketiga indikator tersebut sehingga dipandang sebagai pilihan paling aman secara statistik.
Perbedaan pendekatan tampak ketika DeepSeek menjadi satu-satunya yang memilih Argentina, sang juara bertahan, sebagai pemenang. Argentina memenangi Piala Dunia 2022 setelah mengalahkan Prancis melalui adu penalti 4-2, usai laga berakhir 3-3 hingga perpanjangan waktu di Stadion Lusail, Qatar. DeepSeek menekankan faktor momentum psikologis dan kedekatan kultural suporter Amerika Latin dengan lokasi penyelenggaraan di Amerika Utara.
Copilot justru menjagokan Spanyol. Argumennya bertumpu pada kombinasi generasi muda—Lamine Yamal, Pedri, dan Rodri—serta basis konsistensi di Euro 2024. Namun, Copilot juga memberi pembatas yang jarang muncul pada model lain: peluang Spanyol sebagai favorit juara disebut sekitar 16 persen (16,1 persen), sementara 84 persen peluang gelar dinilai masih terbuka bagi tim lain. Angka tersebut dipaparkan sebagai refleksi realistis dalam format 48 tim, yang membuat fase gugur lebih panjang dan meningkatkan ketidakpastian.
Dalam membaca prediksi AI, salah satu catatan yang muncul adalah kecenderungan “eurosentris”. Hampir semua platform menghasilkan daftar kandidat yang didominasi tim Eropa dan Amerika Selatan. Hal ini dinilai mungkin berkaitan dengan distribusi data pelatihan yang banyak bersumber dari liputan media olahraga global yang historisnya berfokus pada liga-liga Eropa. Dampaknya, perkembangan sepak bola di Afrika, Asia Timur, dan Amerika Utara disebut cenderung kurang mendapat perhatian dalam keluaran model-model tersebut.
Sejumlah faktor nonteknis juga muncul sebagai variabel penting dalam hampir semua analisis AI, seperti tekanan mental, momentum, dan kepemimpinan di lapangan. Contoh yang disebut adalah Jerman yang tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018 meski berstatus juara bertahan, serta Kroasia yang melaju hingga final pada 2018 dengan beban kelelahan besar.
Gemini menyoroti kontradiksi dalam argumen mayoritas AI: di satu sisi, globalisasi sepak bola disebut memperkecil kesenjangan antarnegara; di sisi lain, daftar kandidat juara yang muncul tetap mirip dengan prediksi dua dekade lalu—Prancis, Spanyol, Brasil, Argentina, Inggris, dan Portugal. Gemini menilai tidak ada keberanian menyebut tim kuda hitam secara spesifik, padahal logika globalisasi yang mereka ajukan sendiri mengisyaratkan peluang kejutan.
Claude mengangkat perubahan format 48 tim sebagai variabel analitis tersendiri, bukan sekadar latar. Implikasinya dianggap konkret: untuk menjadi juara, tim harus memainkan delapan pertandingan, naik dari tujuh pada format 32 tim, dengan distribusi kelelahan yang berbeda. Manajemen fisik dan rotasi pun dinilai menjadi faktor strategis utama. Claude menilai tim seperti Spanyol—yang secara historis bertumpu pada sebelas pemain inti dengan variasi rotasi terbatas—berpotensi menghadapi risiko kelelahan kumulatif lebih besar.
Secara mayoritas, sintesis dari enam chatbot AI itu mengarah pada Prancis sebagai favorit. Penilaian ini dikaitkan dengan Kylian Mbappé yang pada 2026 disebut berusia 27 tahun dan berada di puncak karier, serta kombinasi pemain matang seperti Antoine Griezmann, Aurélien Tchouaméni, dan Mike Maignan, ditambah talenta baru dari akademi sepak bola Prancis. Faktor kepelatihan dan kemampuan mengelola ekspektasi di turnamen besar juga menjadi bagian dari argumen.
Spanyol digambarkan sebagai kandidat yang atraktif secara filosofis, dengan generasi Lamine Yamal (disebut berusia 18 tahun pada 2026), Pedri, Gavi, dan Rodri. Namun, Grok mencatat kerentanan historis Spanyol terhadap pertandingan berintensitas fisik tinggi, ketika ritme penguasaan bola dapat terganggu oleh tekanan agresif lawan.
Di sisi lain, DeepSeek menilai Argentina punya modal untuk mempertahankan gelar, antara lain motivasi juara bertahan dan potensi dukungan suporter besar di Amerika Utara yang dinilai dekat secara geografis dan kultural dengan Amerika Latin.
Prediksi yang dinilai kurang terwakili dalam respons AI adalah kemungkinan tim Amerika Serikat sebagai kuda hitam. Tim AS disebut memiliki generasi terbaik yang pernah dihasilkan negara itu, dengan banyak pemain utama berkarier di liga-liga top Eropa dan mendapatkan menit bermain reguler. Euforia sebagai tuan rumah, ditambah tekanan minimal sebagai underdog, dipandang dapat menciptakan kondisi psikologis yang menguntungkan. Disebut pula bahwa sejarah menunjukkan tuan rumah yang tidak dibebani ekspektasi juara berpotensi melaju jauh.
Pada akhirnya, rangkuman tersebut menegaskan keterbatasan prediksi. Model AI dinilai mampu mengidentifikasi variabel relevan, tetapi juga memperlihatkan bias yang konsisten, seperti kecenderungan eurosentris, abstraksi tanpa preseden empiris, serta kehati-hatian berlebihan untuk menyebut kuda hitam secara spesifik. Catatan lain adalah bahwa hampir semuanya disebut belum sepenuhnya mengintegrasikan implikasi format 48 tim sebagai variabel struktural yang dapat mengubah kalkulasi keunggulan kompetitif.
Dari sintesis itu, Prancis disebut sebagai favorit utama yang paling rasional, Spanyol sebagai penantang paling berbahaya, dan Amerika Serikat sebagai kuda hitam yang kerap diabaikan namun dinilai realistis. Namun, seperti adagium “bola itu bulat”, hasil akhir tetap ditentukan di lapangan—dan Piala Dunia selalu menyisakan ruang bagi kejutan hingga peluit terakhir final berbunyi.