Generasi Z dan Milenial kini menjadi kekuatan terbesar dalam peta politik Indonesia. Namun, berbeda dengan pemilih pada era sebelumnya, kedua kelompok usia ini dinilai semakin kritis dalam menentukan pilihan dan tidak mudah terpikat kampanye yang hanya mengandalkan pencitraan.
Tingginya literasi digital membuat Gen Z dan Milenial lebih aktif membandingkan informasi, memeriksa rekam jejak kandidat, hingga mengkritisi janji politik yang dianggap tidak realistis. Mereka juga disebut semakin menuntut transparansi serta program yang jelas dan dapat diukur.
Bagi Gen Z yang tumbuh bersama media sosial, informasi politik banyak diperoleh dari platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Mereka cenderung menyukai konten yang singkat, visual, dan mudah dipahami, tetapi tetap mengandung substansi. Kelompok ini juga dikenal vokal menyuarakan kritik, sehingga kampanye yang terlalu formal, kaku, atau agresif dinilai kurang efektif untuk menarik perhatian mereka.
Sejumlah isu menjadi perhatian utama Gen Z, mulai dari perubahan iklim, lingkungan, kesetaraan gender, hak asasi manusia, hingga persoalan lapangan kerja dan tingginya biaya hidup.
Sementara itu, Milenial memiliki pola yang sedikit berbeda. Selain media sosial, mereka masih mengandalkan portal berita dan video panjang di YouTube sebagai sumber informasi politik. Dalam menentukan pilihan, Milenial cenderung melihat rekam jejak, pengalaman, serta kemampuan calon pemimpin dalam menyelesaikan masalah. Mereka juga lebih tertarik pada diskusi mendalam dibanding slogan kampanye yang bersifat emosional.
Fokus perhatian Milenial banyak berkaitan dengan kebutuhan hidup yang semakin kompleks, seperti stabilitas ekonomi, akses perumahan, jaminan kesehatan, hingga kesejahteraan keluarga.
Meski memiliki karakteristik yang berbeda, kedua generasi tersebut memiliki satu kesamaan: menolak gimik kosong. Gen Z dan Milenial menginginkan solusi konkret terhadap persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Kampanye yang hanya berisi seremoni, pencitraan, atau janji tanpa ukuran keberhasilan dinilai semakin sulit diterima.
“Kalau cuma viral tapi tidak ada program yang jelas, saya pasti cari informasi lain. Sekarang semua jejak digital bisa dicek,” kata Nabila (22), mahasiswa asal Bandung. Menurutnya, isu pekerjaan dan lingkungan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan politik. “Yang saya cari bukan siapa yang paling ramai di media sosial, tapi siapa yang punya solusi yang masuk akal buat masa depan kami,” ujarnya.
Pandangan serupa datang dari kalangan Milenial. Arif (34), seorang karyawan swasta, mengatakan rekam jejak menjadi pertimbangan utama sebelum mendukung seorang kandidat. “Kami sudah pernah melihat banyak janji politik. Yang lebih penting sekarang adalah bukti kerja dan hasil yang bisa dirasakan masyarakat,” katanya. Arif menilai persoalan ekonomi rumah tangga, harga kebutuhan pokok, dan akses perumahan menjadi isu yang paling dekat dengan kehidupan Milenial saat ini.
Dengan jumlah pemilih yang mendominasi dalam berbagai kontestasi politik, arah dukungan Gen Z dan Milenial diperkirakan akan menjadi faktor penentu hasil pemilu. Kandidat yang mampu menawarkan program nyata, transparan, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda dinilai berpeluang lebih besar mendapatkan kepercayaan mereka.