Anggota DPRD Surabaya sekaligus politisi Partai Demokrat, Herlina Harsono Njoto, resmi meraih gelar Doktor Psikologi usai menjalani ujian terbuka Program Doktor Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Senin (22/6/2026).
Dalam disertasinya, Herlina mengangkat tema komitmen afektif kader partai politik dan menawarkan perspektif mengenai faktor yang membentuk loyalitas kader dalam organisasi politik.
Ujian terbuka tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat, politisi, dan akademisi. Mereka antara lain Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Sekretaris DPD Demokrat Jawa Timur H. Mugianto, Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri, Ketua APSI Surabaya sekaligus Inspektur Kota Surabaya Dr. Ikhsan, Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, serta Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Lambung Mangkurat Dr. Neka Erlyani.
Promotor Herlina, Prof. Dr. Suryanto, mengapresiasi capaian akademik tersebut. Ia menilai disertasi Herlina lahir dari perpaduan pengalaman panjang di dunia politik dengan proses akademik selama menempuh pendidikan doktoral.
Menurut Suryanto, Herlina memiliki sudut pandang yang berbeda karena menelaah dinamika partai dari pengalaman langsung sebagai kader dan legislator. Dari pengalaman itu, ia melihat kehidupan partai tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, jabatan, atau kepentingan kekuasaan, tetapi juga oleh faktor psikologis yang membentuk keterikatan seseorang terhadap organisasi.
“Bertahan tidak selalu berarti mencintai organisasi. Seseorang dapat bertahan karena merasa tidak memiliki pilihan, karena mempertimbangkan kerugian yang akan diterima, atau karena benar-benar memiliki keterikatan emosional terhadap partainya,” ujar Suryanto.
Dalam sidang terbuka, Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Andik Matulessy meminta Herlina menjelaskan kontribusi teoritis utama disertasinya bagi perkembangan psikologi politik Indonesia.
Herlina menyampaikan, komitmen emosional kader partai tidak terutama dibangun melalui hubungan yang bersifat transaksional. Ia menyebut identitas sosial dan kepemimpinan transformasional justru lebih menentukan dalam membangun loyalitas kader.
“Dalam konteks organisasi politik di Indonesia, komitmen afektif kader lebih ditentukan oleh kekuatan identitas sosial dan kepemimpinan transformasional, sementara pertukaran sosial yang bersifat transaksional justru dapat melemahkan keterikatan emosional terhadap partai,” kata Herlina.
Ia menjelaskan, temuan tersebut memperluas Social Exchange Theory yang selama ini berasumsi bahwa hubungan timbal balik akan memperkuat komitmen individu terhadap organisasi. Namun, menurut Herlina, dalam konteks politik Indonesia yang masih diwarnai patronase, ketimpangan distribusi sumber daya, dan relasi kekuasaan, pertukaran sosial tidak selalu menghasilkan loyalitas yang lebih kuat.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam psikologi politik Indonesia, komitmen kader tidak dibangun oleh apa yang diberikan partai, tetapi oleh seberapa kuat kader merasa menjadi bagian dari partai,” ujarnya.