Herlina Harsono Njoto Resmi Raih Doktor Psikologi Unair, Angkat Komitmen Afektif Kader Partai

Herlina Harsono Njoto Resmi Raih Doktor Psikologi Unair, Angkat Komitmen Afektif Kader Partai

Politisi Partai Demokrat sekaligus Anggota DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto, resmi meraih gelar doktor setelah menuntaskan ujian terbuka Program Doktor Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair). Dalam disertasinya, Herlina mengangkat tema komitmen afektif kader partai politik dan menawarkan perspektif mengenai faktor-faktor yang membentuk loyalitas kader dalam organisasi politik.

Ujian terbuka tersebut juga menjadi ajang silaturahmi lintas kalangan. Sejumlah pejabat, politisi, dan akademisi hadir memberikan dukungan, di antaranya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Sekretaris DPD Demokrat Jawa Timur H. Mugianto, S.Pd., M.H., Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri, Ketua APSI Surabaya sekaligus Inspektur Kota Surabaya Dr. Ikhsan, S.Psi., M.M., Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog, serta Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Lambung Mangkurat Dr. Neka Erlyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Kehadiran para tamu disebut sebagai bentuk dukungan atas capaian akademik Herlina, yang menyelesaikan studi doktoralnya di tengah aktivitas politik dan tugasnya sebagai legislator.

Promotor Herlina, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai disertasi itu lahir dari perpaduan pengalaman panjang Herlina di dunia politik dengan proses akademik yang ketat selama menempuh pendidikan doktoral.

Menurut Suryanto, Herlina memiliki sudut pandang yang unik karena tidak mengamati dunia politik dari luar, melainkan mengalaminya langsung sebagai kader partai dan anggota legislatif. Dari pengalaman tersebut, Herlina melihat bahwa dinamika kehidupan partai tidak semata ditentukan oleh struktur organisasi, jabatan, atau kepentingan kekuasaan, tetapi juga dipengaruhi faktor psikologis yang membentuk keterikatan seseorang terhadap organisasi.

“Bertahan tidak selalu berarti mencintai organisasi. Seseorang dapat bertahan karena merasa tidak memiliki pilihan, karena mempertimbangkan kerugian yang akan diterima, atau karena benar-benar memiliki keterikatan emosional terhadap partainya,” ujar Suryanto, Senin (22/6/2026).

Suryanto menambahkan, salah satu kekuatan penelitian Herlina adalah upayanya mengurai makna loyalitas politik secara lebih mendalam. Penelitian itu tidak berhenti pada pengolahan data statistik, tetapi juga berusaha menjelaskan alasan seseorang tetap bertahan, berpindah, atau kehilangan keterikatan dengan partai yang selama ini menjadi rumah politiknya.

Dalam sidang terbuka, Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Andik Matulessy, sempat meminta Herlina merumuskan kontribusi teoritis utama disertasinya bagi perkembangan psikologi politik Indonesia. Menjawab pertanyaan tersebut, Herlina menegaskan bahwa komitmen emosional kader partai tidak terutama dibangun melalui hubungan yang bersifat transaksional. Menurutnya, identitas sosial dan kepemimpinan transformasional justru menjadi faktor yang lebih menentukan dalam membangun loyalitas kader.