Kalis Mardiasih Ungkap Tantangan Membahas Isu Sosial: Konten Kerap Disalahpahami Saat Menyentuh Selebriti

Kalis Mardiasih Ungkap Tantangan Membahas Isu Sosial: Konten Kerap Disalahpahami Saat Menyentuh Selebriti

JAKARTA — Penulis sekaligus aktivis perempuan Kalis Mardiasih menceritakan tantangan yang ia hadapi sebagai konten kreator yang kerap mengangkat isu-isu sosial, khususnya terkait perempuan. Salah satu kesulitan terbesar, menurut dia, muncul ketika pembahasan bersinggungan dengan figur publik atau selebriti.

Hal itu disampaikan Kalis dalam program Creatorverse di iNews Media Group Campus Connect (ICC) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Kamis (7/5/2026). “Kalau kamu menghadapi selebriti, itu lebih sulit dibanding bergesekan dengan politik,” ujarnya.

Kalis menuturkan pengalamannya saat mengkritik pernyataan Atta Halilintar yang pernah menyampaikan keinginan memiliki 15 anak setelah menikah dengan Aurel Hermansyah. Dalam konten tersebut, Kalis menekankan hak perempuan untuk menentukan jumlah anak dan pengalaman reproduksi.

Namun, ia menyebut pemberitaan media membuat opininya terkesan menyerang pasangan selebriti tersebut. Padahal, ia mengaku fokus pembahasannya adalah soal hak kesehatan reproduksi perempuan. “Padahal saya sedang bicara soal hak kesehatan reproduksi perempuan, bukan soal artisnya,” kata Kalis.

Akibat situasi itu, Kalis mengatakan akun media sosial dan nomor pribadinya sempat dibanjiri pesan dari penggemar Atta-Aurel, termasuk dari luar negeri. Ia juga mengalami hal serupa saat membuat konten mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan Rizky Billar dan Lesti Kejora.

Pada kesempatan itu, Kalis membuat video edukasi yang menegaskan KDRT bukan semata urusan privat, melainkan isu publik yang perlu mendapat perhatian bersama. Meski demikian, video tersebut justru viral dan menuai kritik karena dianggap “ikut campur”. “KDRT itu bukan urusan privat tapi urusan publik. Negara saja punya undang-undangnya,” ujarnya.

Menurut Kalis, kesalahpahaman kerap terjadi karena sebagian orang menilai konten yang ia buat sebagai serangan terhadap individu tertentu. Ia menegaskan, tujuan utamanya adalah mengedukasi publik mengenai isu sosial yang lebih luas. “Kadang-kadang disalahpahami seolah saya menyerang selebritinya, padahal saya sedang membahas isu sosialnya,” katanya.