Memorandum kesepahaman 14 poin antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 di tepi Danau Lucerne, Swiss, menghasilkan serangkaian konsekuensi yang dinilai menguntungkan bagi para pihak yang terlibat langsung dalam perundingan. Namun, pada waktu yang sama, perkembangan di Gaza dan Tepi Barat menunjukkan arah yang kontras: tidak ada skema pemulihan yang tercantum bagi Gaza, sementara pernyataan pejabat Israel justru menegaskan keberlanjutan kehadiran militer tanpa batas waktu.
Beberapa hari setelah penandatanganan, perundingan teknis lanjutan di kompleks hotel Bürgenstock dinyatakan berakhir dengan sukses. Dalam rangkaian hasil yang dilaporkan, Selat Hormuz kembali dibuka, blokade laut dicabut, dan Iran disebut memperoleh pencairan aset beku senilai 12 miliar dolar AS. Selain itu, terdapat rancangan dana rekonstruksi yang disebut-sebut bernilai sangat besar. Di tengah pengumuman tersebut, perhatian utama publik internasional tersedot pada isu stabilitas kawasan, jalur energi, dan tenggat penyelesaian persoalan nuklir.
Dalam kerangka kesepakatan itu, Iran mendapatkan beberapa hal sekaligus. Secara politik, pemerintahannya tetap bertahan setelah periode konfrontasi yang sebelumnya memunculkan harapan di sebagian kalangan di Washington dan Tel Aviv bahwa perang dapat mengguncang stabilitas rezim. Secara ekonomi, pencairan aset beku dan pencabutan blokade laut dipandang membuka ruang pemulihan, sementara pembukaan kembali Selat Hormuz mengembalikan jalur yang bernilai strategis bagi pendapatan dan posisi tawar Iran. Secara diplomatik, Iran kembali memperoleh jalur untuk berinteraksi di forum internasional, termasuk kembalinya inspektur badan atom dunia, dengan tenggat 60 hari untuk menuntaskan isu nuklir.
Amerika Serikat juga mendapatkan keuntungan yang dapat dikapitalisasi secara politik dan ekonomi. Setelah kesepakatan diumumkan, harga minyak dilaporkan turun dan pasar global menguat, sementara pembukaan Selat Hormuz membantu mengurangi risiko gangguan pasokan energi. Bagi pemerintahan Presiden Donald Trump, kesepakatan tersebut menjadi capaian yang dapat dipresentasikan sebagai penyelesaian pragmatis terhadap ketegangan kawasan.
Posisi Israel digambarkan lebih kompleks. Di satu sisi, terdapat kritik dari sebagian pejabat Israel yang menilai kesepakatan memberi terlalu banyak konsesi kepada Iran, sementara Israel bukan pihak dalam perundingan yang menentukan arah kesepakatan. Di sisi lain, dengan meredanya ancaman langsung terkait Iran melalui jalur diplomatik, Israel dinilai memperoleh ruang gerak yang lebih leluasa di Palestina, seiring perhatian dunia terserap oleh isu Hormuz dan nuklir.
Kesepakatan itu juga dilaporkan masih menyisakan kendala teknis. Jalur utama Selat Hormuz disebut masih tertutup oleh sekitar 80 ranjau laut yang perlu dibersihkan, meski rute alternatif di utara dan selatan kembali dilalui kapal. Perundingan teknis di Swiss sempat tertunda, dan serangan Israel ke Lebanon pada hari-hari awal disebut sempat mengguncang kerangka kesepakatan. Meski demikian, perbedaan dampak tetap mencolok: hambatan yang dihadapi para aktor utama lebih bersifat logistik dan penyesuaian, sementara situasi di Gaza menyangkut kelangsungan hidup dan masa depan wilayah tersebut.
Di Gaza, tidak ada ketentuan yang menjanjikan pembukaan blokade secara permanen atau kerangka rekonstruksi dalam hasil kesepakatan Swiss. Dalam pernyataan publik pada periode yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan Israel akan mempertahankan kehadirannya di Gaza, Lebanon, dan Suriah “selama diperlukan”. Pernyataan itu dipahami sebagai penegasan bahwa tidak ada batas waktu yang jelas bagi berakhirnya pendudukan.
Kontras tersebut menguat ketika laporan dan peringatan dari lembaga internasional muncul pada waktu yang berdekatan. Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk, dalam pernyataan kepada Dewan HAM pada pertengahan Juni, menyampaikan bahwa pada tahun ini Israel telah membunuh sekitar 57 warga Palestina di Tepi Barat dan mengeluarkan 23 perintah penyitaan tanah. Ia juga memperingatkan adanya pernyataan dari sejumlah pejabat senior Israel yang berbicara tentang pengusiran seluruh warga Palestina dari Gaza dan mengakhiri kemungkinan berdirinya negara Palestina yang layak, yang disebutnya sepenuhnya ilegal.
Türk menegaskan, “Kami sudah kehabisan bendera merah. Peringatan-peringatan kami sebelumnya tidak diindahkan.” Pada minggu yang sama, di Gaza dilaporkan seorang anak perempuan bernama Zeina memeluk jenazah ayah dan adik lelakinya yang berusia lima tahun, yang tewas dalam serangan rudal ke rumah mereka di Kota Gaza.
Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan perbedaan hasil yang diterima para pihak. Iran memperoleh pencairan aset, pencabutan blokade laut, dan jalur menuju normalisasi dengan tenggat waktu tertentu. Sementara itu, Gaza menghadapi pernyataan pendudukan tanpa batas waktu, dengan blokade dan kontrol perlintasan yang tetap berada di tangan pihak pendudukan, serta tanpa jaminan rekonstruksi dalam kerangka kesepakatan yang sama.
Kesepakatan Swiss pada akhirnya menutup satu bab ketegangan antara aktor-aktor besar kawasan, terutama terkait jalur energi dan isu nuklir. Namun, perkembangan di Gaza dan Tepi Barat pada periode yang sama menunjukkan bahwa stabilisasi yang dirayakan di satu meja perundingan tidak otomatis berarti perlindungan, pemulihan, atau kepastian politik bagi warga Palestina. Dalam pembacaan ini, kata “perdamaian” tampil sebagai capaian yang tidak dibagikan secara merata—menguntungkan sebagian pihak, sementara wilayah lain tetap berada dalam situasi yang dinyatakan berlanjut tanpa tenggat.