Maraton Jakarta 2026 Jadi Panggung Kritik: Warga Manfaatkan Cheer Signs untuk Suarakan Protes

Maraton Jakarta 2026 Jadi Panggung Kritik: Warga Manfaatkan Cheer Signs untuk Suarakan Protes

Akhir pekan kedua Juni 2026 menampilkan kontras tajam di jalan protokol Jakarta. Pada Jumat, 12 Juni 2026, sekitar 1.500 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi di Bundaran HI menuntut penurunan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok. Namun polisi memasang barikade di sekitar Menara BCA dan mengarahkan mahasiswa memindahkan aksi ke gedung DPR, dengan alasan Bundaran HI merupakan “jantung perekonomian” yang dinilai terlalu vital untuk ditutup.

Kurang dari 24 jam berselang, ruas jalan yang sama justru disterilkan untuk BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026. Penutupan kali ini dilakukan demi kelancaran 45 ribu pelari, dengan penyelenggaraan yang dijanjikan berlangsung “sterile, secure, safety, and smooth”.

Di tengah euforia maraton, muncul fenomena lain di pinggir lintasan. Di antara poster penyemangat, terlihat sejumlah cheer signs bernada kritik politik yang disampaikan dengan gaya jenaka dan menyindir. Beberapa di antaranya bertuliskan, “Yang harusnya stop itu MBG, bukan lari loe!” serta “A proud Indonesian runner, but not proud of the government”.

Fenomena itu memperlihatkan cara warga memanfaatkan momen yang ramai perhatian untuk menyampaikan aspirasi, terutama ketika ruang protes formal dianggap makin menyempit. Dalam konteks ini, papan penyemangat yang lazimnya hadir sebagai dukungan bagi pelari berubah fungsi menjadi medium kritik yang mudah terlihat publik.

Perbedaan perlakuan terhadap ruang kota menjadi sorotan. Pada satu sisi, demonstrasi diposisikan sebagai gangguan ketertiban dengan dalih menjaga jalan protokol sebagai pusat ekonomi. Pada sisi lain, penutupan jalan dalam skala lebih besar untuk maraton justru mendapatkan dukungan, termasuk pujian dari pejabat daerah dan pusat yang memandang ajang itu sebagai bukti kemampuan Jakarta menggelar acara kelas dunia sekaligus etalase pariwisata internasional.

Kontras tersebut menegaskan bahwa ruang publik tidak semata soal ketertiban dan kerapian, melainkan juga soal kemampuan menampung berbagai suara. Jalan yang sama dapat diperlakukan berbeda, bergantung pada jenis kerumunan dan citra yang dihasilkan.

Maraton internasional memiliki keunggulan yang sulit ditandingi demonstrasi biasa: sorotan. Ajang semacam ini kerap disiarkan dan diliput luas, baik oleh media maupun warga yang mendokumentasikan jalannya acara. Dalam situasi itulah, sebagian warga memanfaatkan keramaian untuk melakukan apa yang disebut sebagai “pembajakan visual” (visual hijacking)—menyisipkan pesan lain di ruang yang sudah menjadi pusat perhatian.

Alih-alih membangun panggung sendiri dan berharap diliput, warga cukup berdiri di pinggir lintasan dengan kardus dan spidol. Dalam waktu singkat, cheer signs yang muncul di antara kerumunan dapat menyebar luas melalui dokumentasi penonton dan peliputan acara.

Penggunaan humor juga dinilai membuat kritik terasa lebih aman dibandingkan demonstrasi. Sindiran di atas kardus tampil berbeda dari orasi dengan pengeras suara atau aksi massa besar. Dalam konsep Carnivalesque yang dijelaskan filsuf Mikhail Bakhtin, batas antara candaan dan kritik menjadi lebih samar: pesan tetap tersampaikan, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih ringan. Dalam suasana acara olahraga yang bertujuan merayakan kebersamaan, respons represif terhadap karton berisi candaan berpotensi terlihat janggal.

Dari sisi strategi, cara ini menggambarkan bentuk politik keseharian yang lebih berisiko rendah. Demonstrasi jalanan menuntut keberanian fisik dan kesiapan menghadapi risiko, mulai dari barikade hingga potensi penangkapan. Ketika ongkos itu dirasa terlalu mahal, sebagian warga memilih celah lain. Sosiolog James C. Scott menyebutnya sebagai “infrapolitik” atau weapons of the weak, yakni bentuk perlawanan dari samping ketika berhadapan langsung dianggap terlalu berbahaya.

Cheer signs menawarkan akses yang lebih mudah: tidak membutuhkan organisasi besar, biaya tinggi, atau kesiapan menghadapi aparat. Siapa pun dapat ikut menyampaikan pendapat hanya dengan perlengkapan sederhana. Meski demikian, cara ini bukan pengganti demonstrasi, karena aksi turun ke jalan memiliki kekuatan politik berbeda dalam menunjukkan jumlah massa dan tekanan publik secara langsung.

Namun kemunculan kritik di pinggir lintasan JAKIM 2026 menegaskan satu hal: ketika satu pintu ekspresi publik terasa tertutup, warga kerap menemukan pintu lain agar kritik tetap terlihat di ruang bersama.