JAKARTA — Perwakilan MBG Watch, Emi Astuti, menilai persoalan paling krusial dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah ketidaktransparanan tata kelola yang disertai indikasi korupsi.
Pernyataan tersebut disampaikan Emi dalam dialog Sapa Indonesia Malam di KompasTV, Jumat (26/6/2026). Menurutnya, masalah utama program ini terletak pada tata kelola yang tidak terbuka. “Jadi kalau masalah tata kelola ini kan yang paling krusial ini adanya ketidaktransparanan ya,” ujarnya.
Emi juga menyinggung adanya indikasi korupsi, termasuk kasus penangkapan ketua BGN dan wakil ketuanya. Selain itu, ia menyebut adanya persoalan lain berupa kolusi dan nepotisme di dalam pelaksanaan program. Hal-hal tersebut, kata Emi, masih menjadi masalah dalam tata kelola MBG.
Ia mengatakan, sejak awal program dicanangkan, MBG Watch telah menyampaikan kepada para pengambil kebijakan dan publik mengenai potensi korupsi serta risiko buruknya tata kelola. Namun, menurutnya, peringatan itu tidak mendapat perhatian.
Emi menyebut terdapat catatan “kejadian luar biasa” yang jumlahnya mencapai 449 kejadian. Ia juga menyatakan kejadian tersebut berdampak pada 39 orang yang mengalami keracunan hingga saat ini.
Menurut Emi, pemerintah semestinya sejak awal memikirkan dan mendesain program MBG secara matang. Ia menilai tujuan meningkatkan sumber daya manusia dan menurunkan angka stunting tidak cukup dicapai hanya melalui satu kegiatan, yakni pembagian makanan.
Ia menambahkan, program juga perlu dilengkapi target capaian yang jelas, mulai dari satu tahun hingga lima tahun. Sebagai contoh, ia menyarankan agar target tahun pertama difokuskan pada penyiapan sistem tata kelola serta mekanisme tender yang dilakukan secara terbuka.