Membaca "Kutukan Kediri": Antara Mitos, Ramalan Jayabaya, dan Psikologi Kekuasaan

Membaca "Kutukan Kediri": Antara Mitos, Ramalan Jayabaya, dan Psikologi Kekuasaan

Setiap kali muncul kabar tentang pejabat tinggi negara atau presiden yang disebut menghindari kunjungan ke Kediri, ruang publik kerap kembali dipenuhi perbincangan mengenai sebuah kepercayaan lama: “Kutukan Kediri”. Dalam narasi yang beredar, siapa pun penguasa yang menginjakkan kaki di wilayah tersebut diyakini akan mengalami kemunduran politik—mulai dari kehilangan jabatan, terseret skandal, hingga berakhir tragis dalam perjalanan kekuasaannya.

Bagi sebagian orang, kisah ini dipandang sebagai folklor yang menarik dan layak menjadi bahan diskusi. Namun bagi yang lain, kutukan tersebut dianggap nyata dan memiliki daya misterius. Berbagai peristiwa politik kemudian kerap dicocokkan dengan mitos itu, membentuk keyakinan kolektif yang terasa semakin menguat dari waktu ke waktu.

Meski demikian, jika ditelaah lebih jauh, isu ini dinilai tidak semata-mata berbicara tentang Kediri atau tentang kutukan itu sendiri. Narasi tersebut dapat dibaca sebagai cerminan ketakutan manusia terhadap kekuasaan—dan terutama terhadap kemungkinan kehilangan kekuasaan.

Dalam sejarah peradaban, upaya memprediksi masa depan bukanlah hal baru. Di Eropa abad pertengahan, raja-raja memelihara astrolog untuk membaca pergerakan bintang demi menafsirkan nasib kerajaan. Di Tiongkok kuno dikenal konsep Mandat Langit, yakni keyakinan bahwa kaisar menerima legitimasi dari langit dan dapat kehilangan legitimasi itu ketika bencana, kelaparan, atau kekacauan sosial terjadi.

Tradisi Jawa memiliki bentuknya sendiri. Salah satunya adalah konsep Wahyu Keprabon, legitimasi spiritual yang diyakini turun kepada seorang pemimpin. Dalam konteks ini pula berkembang ramalan yang dikaitkan dengan Raja Jayabaya dari Kediri. Dalam imajinasi budaya Jawa, Jayabaya tidak hanya dipandang sebagai raja historis, melainkan simbol kemampuan membaca arah zaman dan memahami siklus pergantian kekuasaan.

Menariknya, ramalan yang dinisbatkan kepada Jayabaya kerap tidak berfokus pada gambaran masa depan yang makmur atau bahagia. Tema yang dominan justru berkisar pada keruntuhan rezim, pergantian zaman, munculnya kekacauan sosial, serta datangnya pemimpin baru. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, ramalan Jayabaya lebih banyak berfungsi sebagai perangkat untuk memahami perubahan politik ketimbang sebagai panduan menuju masyarakat ideal.

Untuk memahami mengapa narasi seperti “Kutukan Kediri” dapat bertahan lama, pengalaman sejarah masyarakat Jawa menjadi salah satu konteks penting. Sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dipenuhi pergantian kekuasaan: Kediri runtuh, Singasari runtuh, Majapahit yang besar akhirnya hancur, Demak mengalami konflik internal, Pajang bertahan singkat, dan Mataram Islam pecah menjadi beberapa bagian akibat konflik internal serta campur tangan kolonial.

Pola yang berulang selama berabad-abad itu menegaskan satu pengalaman kolektif: tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi. Dari pengalaman historis tersebut, tumbuh keyakinan bahwa setiap penguasa pada akhirnya akan kehilangan kekuasaan, tidak peduli seberapa kuat atau disegani.

Di titik inilah mitos menemukan ruangnya. Ketika masyarakat menghadapi ketidakpastian yang sulit dijelaskan secara rasional, kecenderungan untuk mencari pola dan makna sering muncul sebagai cara memperoleh rasa kepastian psikologis. Dalam pembacaan semacam itu, “Kutukan Kediri” dapat dipahami bukan sekadar cerita mistis, melainkan refleksi dari ingatan sejarah, kecemasan politik, dan kesadaran bahwa kekuasaan selalu berada dalam siklus naik dan turun.