Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA dan SMP di Pekanbaru menuai keluhan dari sejumlah orang tua. Mereka menilai proses seleksi belum berjalan transparan dan membuat sebagian calon peserta didik baru merasa dirugikan.
Keluhan yang muncul disebut beragam, mulai dari penerapan jalur domisili yang juga menetapkan batasan usia, seleksi melalui jalur prestasi dan nonakademik, hingga kuota penerimaan yang dinilai tidak konsisten.
Salah satu kasus dialami calon peserta didik berinisial AP yang mendaftar ke SMPN 26 Pekanbaru melalui jalur domisili. AP dinyatakan tidak diterima dengan alasan faktor usia. Namun, orang tua AP mempertanyakan keputusan tersebut karena ada calon peserta didik lain berinisial YD yang diterima di sekolah yang sama melalui jalur yang sama, dengan usia yang disebut sama.
“Saya bingung dimana letak kesalahannya, daftar pakai jalur domisili, katanya kena di usia anak saya. Nah, tiba-tiba ada anak yang daftar, usianya sama dengan anak saya, jalur pendaftaran juga sama, malah lulus dan diterima di sekolah tersebut,” kata orang tua AP, Rabu (1/7) di Pekanbaru.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah orang tua yang anaknya mendaftar di SMAN 14 Pekanbaru. Mereka mempertanyakan alasan anak-anak mereka tidak lolos seleksi SPMB tahun ini.
SMAN 14 Pekanbaru disebut membuka penerimaan sebanyak 428 calon siswa baru. Dari data SPMB di sekolah tersebut, tercatat 390 peserta mendaftar. Namun, sejumlah calon peserta didik yang mengaku telah memenuhi persyaratan dinyatakan tidak lulus dalam sistem aplikasi SPMB, sementara masih terdapat sisa kuota 38 kursi.
“Padahal anak-anak kami memenuhi semua persyaratan, dan di aplikasi SPMB garisnya berwarna hijau yang berarti ada peluang anak-anak kami diterima. Jadi, untuk siapa kuota yang tersisa tadi,” kata salah satu orang tua yang enggan disebutkan namanya.
Rangkaian keluhan ini memunculkan pertanyaan dari para orang tua terkait pelaksanaan transparansi SPMB yang selama ini disampaikan. Mereka juga menyoroti pentingnya kesempatan yang adil bagi anak untuk memperoleh akses pendidikan.