Era digital melahirkan paradoks yang kian terasa dalam kehidupan sehari-hari: ruang publik tampak semakin religius sekaligus semakin materialistis. Di beranda media sosial, kutipan ayat suci dan doa mudah ditemui, namun hanya berjarak satu usapan dari konten pamer kemewahan, amarah yang direkayasa, hingga eksploitasi kemiskinan yang dibungkus sebagai “social experiment”. Keterbelahan ini, menurut analisis yang berkembang, bukan semata karena manusia modern kehilangan nalar, melainkan karena munculnya “mata uang” baru yang menggerakkan perilaku: retensi atau lamanya perhatian bertahan di layar.
Perubahan tersebut disebut terjadi bertahap selama sekitar satu dekade terakhir. Jika sebelumnya teknologi dipakai untuk memudahkan pencarian informasi dan menghemat waktu, kini arah desainnya dinilai bergeser menjadi upaya merebut perhatian secara otomatis. Kehadiran fitur gulir tanpa akhir mengubah tujuan: bukan sekadar membuat pengguna menoleh, melainkan menahan mereka berlama-lama. Ketika durasi menonton menjadi tolok ukur paling penting, peristiwa nyata pun terdorong untuk diubah menjadi tontonan. Sesuatu dianggap bernilai jika bisa direkam, disebarkan, dan ditonton.
Di balik layar, strategi itu digambarkan berlangsung di ruang-ruang kerja yang jauh dari keramaian: kantor raksasa teknologi, ruang rapat periklanan, hingga kamar tidur para pembuat konten. Para pemasar, perancang strategi, dan tim media memusatkan perhatian pada satu pertanyaan praktis: bagaimana membuat orang tidak menggulir layar dalam beberapa detik berikutnya. Dari pertanyaan itu, lahir berbagai teknik yang menargetkan respons psikologis paling cepat memancing perhatian.
Dalam logika retensi, konten yang memicu rasa takut, amarah, atau rangsangan seksual dinilai paling efektif menahan pengguna. Sebaliknya, konten yang tenang, mendalam, dan penuh empati cenderung sulit bersaing karena menuntut ketenangan dan waktu. Sistem digital tidak menilai benar-salah secara moral, melainkan membaca angka. Ketika algoritma dan skema pendapatan memberi “hadiah” pada konten yang menekan empati, produksi konten semacam itu pun meningkat karena dianggap menguntungkan.
Dampaknya, ruang agama dan kebaikan disebut ikut terdorong masuk ke mekanisme yang sama. Ajaran moral berisiko menjadi komoditas baru: kebaikan tidak lagi dilakukan secara diam-diam, tetapi dipertontonkan demi respons publik. Kepedulian pun dapat berubah menjadi reaksi singkat—menyala sebentar, lalu padam seketika—tergantung apa yang disajikan layar berikutnya. Dalam situasi seperti itu, tindakan sederhana seperti memberi tanda suka pada konten kesedihan bisa terasa sebagai pengganti kepedulian yang lebih nyata, sebelum perhatian berpindah ke hiburan lain beberapa detik kemudian.
Analisis tersebut juga menyoroti bagaimana tragedi kemanusiaan dapat tereduksi menjadi “jenis tontonan” di tengah arus konten. Contoh yang disebut paling nyata adalah perang di Palestina, ketika penderitaan manusia muncul berdampingan dengan iklan dan konten gaya hidup. Simbol dukungan seperti gambar semangka atau poster digital dapat tersebar luas, namun dalam sebagian kasus dinilai lebih dipicu oleh kekhawatiran akan reaksi penonton ketimbang kepedulian yang tulus. Ketika tangis dan reruntuhan bersisian dengan promosi produk dan video hiburan, martabat penderitaan manusia dikhawatirkan ikut terkikis karena berubah menjadi angka penonton dan pemantik engagement.
Kuatnya pola ini dijelaskan melalui model bisnis yang bertumpu pada pengamatan kebiasaan pengguna. Sistem tersebut disebut akan bekerja optimal jika pengguna terus-menerus merasa kurang, tertinggal, atau terdorong untuk menghakimi orang lain. Dalih yang kerap muncul—bahwa platform atau pengiklan hanya memberi apa yang disukai penonton—dipandang tidak sepenuhnya menjawab persoalan, karena selera publik dinilai dapat dibentuk oleh paparan berulang. Ketika kehebohan dan konflik terus disajikan untuk menahan perhatian, dampaknya dianggap bukan sekadar hiburan, melainkan pemiskinan batin yang berlangsung perlahan.
Kerugian yang dibayar masyarakat, menurut sudut pandang ini, melampaui biaya paket data. Yang dipertaruhkan adalah miliaran jam waktu manusia dan melemahnya rasa sayang. Harga diri pun berisiko diukur dari kemampuan menghasilkan uang lewat konten, sementara doa, tangisan, dan kebaikan dapat diperlakukan sebagai komoditas dengan nilai per klik. Dalam gambaran paling keras, manusia digambarkan bukan lagi sebagai subjek yang merdeka, melainkan bagian dari “kandang data” yang dikendalikan oleh insentif ekonomi.
Di tengah ketergantungan pada internet untuk sekolah dan pekerjaan, solusi yang ditawarkan bukan menyingkirkan gawai sepenuhnya, melainkan menjalankan “puasa digital secara sadar”. Intinya, melatih ulang kebiasaan: sengaja menolak konten yang memancing amarah, bersabar membaca tulisan panjang, serta memilih diam ketika mesin mendorong reaksi impulsif. Seruan lain ditujukan kepada pembuat iklan dan kreator agar memiliki batas etika, dengan pengingat bahwa ada hal-hal yang terlalu sakral untuk dijadikan umpan perhatian beberapa detik.
Pada akhirnya, analisis ini mengajak publik untuk bercermin: bila waktu, emosi, dan rasa sayang terus digadaikan demi memperkaya segelintir perusahaan, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar soal teknologi, melainkan soal arah nilai hidup. Di tengah profil yang memajang nama Tuhan, masyarakat diajak menilai ulang apakah yang sebenarnya lebih banyak disembah—keyakinan yang diyakini, atau mesin yang mengatur kedipan mata.