Panggung politik nasional kembali diwarnai polemik setelah kunjungan mantan Presiden Joko Widodo ke Lampung. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi mengikuti prosesi adat pemberian gelar kebangsawanan yang mencakup ritual meletakkan kaki di atas kepala kerbau.
Respons PDI Perjuangan (PDIP) muncul tak lama kemudian. Sejumlah elite partai melontarkan sindiran dan menilai tindakan itu sebagai cerminan psikologis seseorang yang “ingin menginjak kepala kerbau”. Pernyataan tersebut memicu perang tafsir di ruang publik, dengan perdebatan yang tidak lagi terbatas pada pemaknaan ritual adat semata.
Dalam narasi yang berkembang, polemik ini dipandang sebagai bagian dari memburuknya hubungan politik antara PDIP dan Jokowi. Hubungan yang sebelumnya kerap dirujuk melalui istilah “petugas partai” kini bergeser menjadi perseteruan simbolik yang lebih terbuka, seiring tudingan PDIP mengenai menguatnya pengaruh politik berbasis keluarga yang mereka sebut sebagai “dinasti Mulyono”.
Polemik di Lampung juga memunculkan perbedaan cara pandang terhadap simbol. PDIP menempatkan simbol kerbau atau banteng sebagai representasi yang dianggap terkait dengan identitas dan sejarah politik partai. Karena itu, momen Jokowi dalam prosesi adat tersebut dibaca sebagian elite PDIP bukan sebagai ekspresi pelestarian budaya, melainkan sebagai tindakan yang dimaknai agresif secara simbolik.
Melalui kritik dan sindiran itu, PDIP dinilai sedang membangun narasi yang menegaskan perubahan posisi Jokowi dari figur yang pernah berada dalam struktur partai menjadi kekuatan politik personal yang tidak lagi berada dalam kendali organisasi. Tafsir tersebut juga menguatkan kesan bahwa ketegangan politik di antara keduanya telah memasuki tahap yang lebih terbuka dan konfrontatif.
Di sisi lain, polemik ini memperlihatkan benturan antara dua narasi yang saling berlawanan. Pihak yang mendukung Jokowi mempertahankan penjelasan bahwa prosesi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada tradisi lokal. Sementara PDIP, melalui respons sinisnya, mendorong publik untuk melihat kunjungan itu sebagai bagian dari pertunjukan politik yang sarat makna dan kepentingan.
Perdebatan mengenai ritual “kepala kerbau” di Lampung pada akhirnya menjadi penanda renggangnya relasi politik yang pernah berjalan seiring. Perselisihan yang semula tersimpan dalam dinamika internal kini tampil sebagai perang simbol dan opini di ruang publik, memperlihatkan bahwa batas kompromi politik di antara kedua pihak kian menipis.