Pengurus baru Karang Taruna Kabupaten Kudus didorong bergerak cepat dan inovatif untuk menghadapi tantangan lima tahun ke depan. Organisasi kepemudaan ini diminta menyusun program kerja yang selaras dengan upaya penanganan persoalan pemuda serta berbagai isu sosial di masyarakat.
Ketua Karang Taruna Kudus periode 2021–2026, Fiza Akbar, menekankan bahwa keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh daya tarik program yang ditawarkan. Menurutnya, pengurus perlu merumuskan kegiatan yang kreatif agar mampu merangkul semua kalangan muda.
“Kita rumuskan program kerja yang menarik yang bisa diikuti oleh semua kalangan. Khususnya anak-anak muda. Kalau kegiatan kita monoton, mereka tidak akan tertarik, dan pembekalan substansi yang kita siapkan tidak akan bisa masuk,” ujar Fiza.
Ia menilai, menarik minat generasi muda menjadi tantangan terbesar sekaligus pekerjaan rumah bagi kepengurusan baru. Setelah ketertarikan itu terbentuk, nilai-nilai pembinaan dan edukasi dinilai dapat ditanamkan secara lebih efektif.
Selain aspek keterlibatan pemuda, Karang Taruna Kudus juga dihadapkan pada urgensi penanganan 26 permasalahan sosial. Sejumlah isu yang disebut krusial antara lain kenakalan remaja, HIV/AIDS, orang terlantar, hingga kesejahteraan lansia terlantar.
Fiza menilai potensi anak muda di Kudus sangat besar, baik dari sisi tenaga, pemikiran, inisiatif, maupun kreativitas. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola dan dikolaborasikan secara matang melalui kemitraan yang kuat bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
“Urgensinya sangat penting untuk bermitra dengan pemerintah daerah agar masyarakat bisa diberdayakan betul. Potensi anak muda ini harus kita orkestrasi dengan baik,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Fiza juga mengingatkan pengurus baru mengenai esensi pengabdian di Karang Taruna yang menuntut keikhlasan. Ia menegaskan organisasi ini merupakan wadah perjuangan, bukan tempat mencari keuntungan material.
“Tidak ada siasat, yang ada adalah ghirah atau semangat berjuang. Kalau ragu-ragu mending tidak usah. Karena di sini jelas tidak dapat apa-apa, yang ada justru ‘nombok’. Jadi harus totalitas,” tegasnya.