Wacana “Reformasi Jilid 2” ramai diperbincangkan di media sosial dan portal berita pada awal Juni 2026. Percakapan publik itu menguat seiring kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, terutama pelemahan rupiah dan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang kemudian diikuti munculnya ultimatum dari gerakan mahasiswa.
Berdasarkan rangkuman analisis percakapan daring periode 1–9 Juni 2026 dengan kata kunci terkait isu reformasi dan kabinet, pembahasan di internet tercatat sangat masif. Total ada 19.086 sebutan yang menghasilkan lebih dari 17,6 juta interaksi warganet di berbagai platform.
Puncak percakapan di media sosial terjadi pada 7 Juni 2026, ketika isu berfokus pada ultimatum Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Sementara itu, pemberitaan media online mencapai puncak pada 9 Juni 2026, setelah ancaman aksi meluas dan muncul respons resmi dari Istana terkait langkah antisipasi.
Isu ini mengemuka setelah mahasiswa menyampaikan tenggat 18 hari pada 5 Juni 2026 agar kondisi ekonomi membaik. Jika tidak, mereka mengancam akan menggelar aksi bertajuk “Reformasi Jilid 2”. Sejumlah tokoh kemudian mengingatkan potensi eskalasi politik yang bisa menyerupai dinamika 1998, yang turut memicu polarisasi publik antara kelompok pro dan kontra demonstrasi.
Dalam ringkasan sentimen, media sosial cenderung didominasi sentimen negatif yang menyoroti persoalan ekonomi dan dukungan terhadap aksi. Namun, sentimen positif juga muncul dari kelompok yang menolak demonstrasi serta dari apresiasi terhadap langkah pemerintah dalam menindak korupsi. Di media online, sentimen dinilai lebih imbang antara dukungan terhadap stabilitas dan liputan kritik.
Pemetaan narasi di platform X memperlihatkan percakapan terbagi dalam empat klaster besar: publik kritis yang mendorong protes keras, publik positif yang menolak demo, publik umum yang membahas peluang kekacauan, serta jaringan media yang berperan sebagai pusat penyebaran informasi. Percakapan di X disebut banyak dipengaruhi akun-akun dari klaster publik kritis, termasuk pengamat dan akun anonim yang aktif mengamplifikasi peringatan krisis serta kekecewaan terhadap situasi ekonomi.
Perbedaan kecenderungan sentimen juga terlihat lintas platform. X dilaporkan didominasi sentimen negatif yang didorong kemarahan atas kondisi ekonomi. Facebook mencatat sentimen positif lebih tinggi yang dikaitkan dengan isu kebijakan sumber daya alam, meski tetap ada kecemasan terkait berita krisis. Instagram tetap dominan negatif, antara lain berisi kritik tokoh dan kekhawatiran pasar. Di YouTube dan TikTok, sentimen negatif juga kuat, dengan audiens menyoroti anjloknya rupiah dan menyatakan dukungan terhadap ultimatum serta protes masyarakat sipil.
Dari sisi emosi, percakapan memperlihatkan dominasi rasa takut (fear) terkait kemungkinan kerusuhan, antisipasi (anticipation) menunggu reshuffle dan perkembangan ultimatum, serta kemarahan (anger) terhadap dugaan korupsi dan kebijakan yang dianggap membebani masyarakat.
Tiga isu krusial yang paling sering disorot publik adalah rupiah yang disebut menyentuh Rp18.000 dan memicu ultimatum BEM, anjloknya IHSG, serta skandal dugaan korupsi pada pucuk pimpinan program gizi. Selain itu, warganet juga menyinggung isu ketenagakerjaan dan politik lain seperti gelombang PHK massal, indikasi kembalinya dwifungsi aparat, hingga krisis kepercayaan yang memunculkan wacana pemakzulan kabinet.
Di tengah eskalasi percakapan, pemerintah dan aparat menyatakan kesiapan meredam gejolak. Namun, sejumlah tokoh politik menilai situasi perlu dihadapi dengan gotong royong dan memprediksi potensi eskalasi besar dalam waktu dekat. Dari kalangan akademisi dan pengamat, isu ekonomi dinilai berkaitan dengan krisis kepercayaan. Sementara itu, sebagian aktivis 1998 justru mempertanyakan urgensi gerakan “Reformasi Jilid 2”.
Kesimpulan umum dari dinamika ini menunjukkan kondisi ekonomi yang memburuk beriringan dengan menurunnya kepercayaan publik, yang kemudian mendorong konsolidasi perlawanan melalui tenggat 18 hari. Di sisi lain, ada kekhawatiran dari sebagian publik bahwa demonstrasi dan potensi kerusuhan justru dapat memperburuk iklim investasi dan stabilitas.
Dalam pemberitaan, media arus utama disebut mendominasi peliputan. Fokus berita banyak tertuju pada pelemahan rupiah, perombakan pimpinan BGN terkait korupsi, wacana reshuffle menteri, serta ultimatum dari elemen BEM. Nada pemberitaan bervariasi, mulai dari laporan yang menekankan komitmen pemulihan ekonomi dan kesiapsiagaan aparat, hingga liputan yang mengutip kritik mahasiswa soal kemunduran demokrasi serta prediksi potensi penggulingan dalam waktu dekat.