Komunitas Sahabat Andhikara menghadirkan program “Go to School” sebagai ruang belajar alternatif bagi pelajar untuk memahami isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejumlah topik yang dibahas meliputi perundungan, kekerasan seksual, kesetaraan gender, hingga inklusivitas sosial.
Co-founder Sahabat Andhikara, Aliya Chairunnisa, mengatakan komunitas ini dibentuk oleh tiga alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Mereka berangkat dari keresahan bahwa berbagai persoalan sosial masih terus terjadi meski perangkat aturan hukum telah tersedia.
“Kami melihat ada banyak isu sosial yang masih terjadi di masyarakat. Dari situ kami berpikir apa yang bisa kami lakukan sebagai bentuk kontribusi kecil untuk masyarakat,” kata Aliya dalam dialog bersama RRI, Minggu, 24 Mei 2026.
Aliya menjelaskan, Sahabat Andhikara berfokus pada isu hak asasi manusia, terutama perlindungan perempuan, anak, kelompok rentan, penyandang disabilitas, dan lansia. Menurutnya, pendidikan dipilih sebagai media utama karena perubahan sosial perlu dimulai dari hal mendasar, yakni membangun kesadaran dan empati generasi muda.
“Belajar bukan hanya soal menghafal atau mencari jawaban, tetapi memahami kenyataan sosial di sekitar dan bagaimana bersikap terhadap persoalan tersebut,” ujarnya.
Melalui “Go to School”, komunitas mendatangi sekolah-sekolah untuk membuka ruang diskusi yang dinilai lebih jujur dan relevan dengan kondisi nyata di masyarakat. Aliya menilai banyak isu yang sebenarnya dekat dengan kehidupan pelajar, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka di ruang kelas.
“Kami ingin murid-murid tahu bahwa isu seperti kekerasan seksual itu nyata dan bisa terjadi di mana saja, termasuk di sekolah, rumah, maupun media sosial,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membekali siswa tentang langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi atau menyaksikan persoalan sosial di lingkungannya.
Dalam kesempatan itu, Aliya turut menjelaskan mengenai catcalling yang kerap dianggap sebagai candaan. Menurutnya, catcalling merupakan tindakan verbal maupun nonverbal bernuansa seksual yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi korban.
“Sekecil siulan atau komentar terhadap fisik seseorang itu bisa termasuk catcalling jika membuat orang lain merasa terganggu,” ujarnya.
Sementara itu, relawan Sahabat Andhikara, Ulfa Rahayu, mengatakan dirinya bergabung karena ingin berbagi pengalaman dan membantu pelajar memahami realitas sosial yang tidak selalu dibahas dalam pembelajaran formal.
“Saya ingin hadir sebagai teman belajar mereka dan menjadi jembatan kecil antara realitas sosial dengan siswa,” kata Ulfa. Ia menyebut pendekatan yang digunakan dibuat santai agar siswa merasa nyaman berdiskusi dan menyampaikan pendapat.
Menurut Ulfa, kegiatan biasanya diawali dengan permainan ringan, pertanyaan sederhana, hingga storytelling untuk membuka suasana. Ia menilai antusiasme siswa cukup tinggi setelah kegiatan dimulai karena materi yang dibahas dinilai dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sahabat Andhikara berharap program “Go to School” dapat membantu membangun generasi muda yang lebih peka terhadap isu sosial serta memiliki keberanian untuk bersikap ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekitarnya.