Serangan Israel di Suriah dan Isu Penargetan Ahmad Sharaa: Tekanan Normalisasi hingga Dinamika Komunitas Druze

Serangan Israel di Suriah dan Isu Penargetan Ahmad Sharaa: Tekanan Normalisasi hingga Dinamika Komunitas Druze

Israel kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Suriah. Dalam rangkaian serangan tersebut, area di dekat istana kepresidenan Suriah—yang disebut sebagai lokasi Presiden Suriah Ahmad Sharaa—ikut menjadi sasaran.

Serangan ini terjadi ketika tekanan dari Amerika Serikat dan sejumlah pihak di kawasan terhadap Suriah dilaporkan meningkat, dengan dorongan agar Damaskus mengikuti langkah beberapa negara Arab yang telah menjalin normalisasi hubungan dengan Israel. Namun, Ahmad Sharaa disebut memilih mempertahankan posisi Suriah dan tidak mengikuti agenda tersebut.

Dalam narasi yang beredar, Sharaa menuntut Israel menarik diri dari wilayah Suriah yang diduduki secara ilegal, termasuk penarikan pasukan, unsur intelijen, serta milisi proksi yang diduga disusupkan melalui operasi rahasia. Sikap inilah yang disebut menjadi salah satu faktor Suriah kembali menjadi target serangan.

Selain serangan militer, upaya melemahkan pemerintahan Suriah juga dikaitkan dengan pemanfaatan isu minoritas Druze. Disebutkan bahwa Israel berupaya menggunakan sentimen minoritas untuk menekan Ahmad Sharaa. Logika yang disampaikan adalah: bila pemerintah Suriah berhasil merangkul minoritas, maka ruang untuk mengangkat isu intoleransi di forum internasional akan menyempit.

Disebutkan pula bahwa pemerintah Suriah relatif berhasil menjalin keterlibatan dengan mayoritas komunitas Druze. Pada Maret, pemerintah Suriah dilaporkan mencapai kesepakatan dengan perwakilan provinsi Suwayda yang mayoritas Druze untuk terintegrasi penuh ke dalam lembaga-lembaga pemerintahan Suriah.

Isu Druze kembali mengemuka menyusul bentrokan pada pekan ini antara sejumlah milisi Druze dan aparat keamanan Suriah di Ashrafiyat Sahnaya dan Jaramana, dua kawasan di Rif Dimashq yang dihuni komunitas Druze. Kerusuhan dipicu beredarnya rekaman suara yang diduga berasal dari seorang warga Druze dan berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Meski demikian, ketegangan disebut mulai mereda setelah adanya deklarasi tokoh-tokoh Druze untuk menjaga stabilitas di Suriah dan menolak intervensi Israel.

Komunitas Druze di Timur Tengah disebut berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa yang tersebar di Suriah, Israel, dan Lebanon. Dari jumlah itu, sekitar 700.000 berada di Al Suwayda, Suriah.

Dalam konteks ini, disebutkan pula bahwa untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, puluhan tokoh agama Druze asal Suriah menyeberang ke Israel pada Maret untuk berziarah ke makam yang diyakini sebagai tempat suci Nabi Syu’aib di kota Julis, dekat Danau Tiberias. Kunjungan tersebut disebut berlangsung melalui koordinasi dengan otoritas Israel dan dipandang sebagai bagian dari manuver untuk memecah kesatuan Druze yang mayoritas memilih berintegrasi dengan pemerintahan baru Suriah.

Salah satu tokoh yang disebut terkait manuver tersebut adalah Mowafaq Tarif, pemimpin spiritual Druze di Israel. Dalam tulisan ini, ia digambarkan sebagai sosok pragmatis dan pro-Zionis. Disebutkan bahwa sejak 1957 komunitas Druze di Israel mematuhi wajib militer. Tarif juga disebut bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menyampaikan terima kasih atas dukungan Israel terhadap komunitas Druze di Suriah, termasuk menyebut serangan ke kompleks istana presiden di Damaskus sebagai pesan terhadap Ahmad Sharaa.

Disebutkan pula bahwa Israel mendorong pembentukan wilayah separatis di Suriah dengan membujuk sebagian kelompok Druze untuk menolak pemerintahan di Damaskus dan menuntut otonomi melalui sistem federal. Laporan Wall Street Journal yang dikutip menyebut Israel mengucurkan dana lebih dari USD 1 miliar (sekitar Rp 16,5 triliun) untuk mendukung rencana tersebut.

Namun, tulisan itu menekankan bahwa sikap komunitas Druze tidak seragam. Walid Jumblatt, pemimpin Druze di Lebanon, disebut aktif mengampanyekan anti-Zionisme dan menyerukan agar Druze lebih beradaptasi dengan dunia Arab. Di internal Druze juga terdapat kritik terhadap penyeberangan ke Israel, dengan alasan adanya diskriminasi yang dialami Druze di bawah Israel serta kekhawatiran bahwa manuver tersebut merupakan upaya memecah belah Suriah.

Beberapa tokoh Druze di Suriah disebut memiliki posisi berbeda. Jika Hikmat al-Hijri digambarkan mendukung Israel dan merongrong kekuasaan Sharaa, maka Hamoud al-Hanawi dan Yusuf al-Jarbou’ disebut sebagai pemimpin spiritual Druze yang vokal menentang separatisme.

Gubernur Al Suwayda, Mustafa Al-Bakkour, menyatakan bahwa kesepakatan damai dan stabilitas keamanan yang telah ditandatangani bersama tokoh agama dan masyarakat Druze di Al Suwayda masih berlaku. Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas bentrokan di Ashrafiyat Sahnaya dan Jaramana. Al-Bakkour juga menegaskan komunitas Druze merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan sosial Suriah, serta para pemimpin Druze menolak intervensi asing.

Dengan dinamika tersebut, serangan Israel dan isu penargetan Ahmad Sharaa dipaparkan bukan hanya sebagai eskalasi militer, melainkan juga terkait persaingan pengaruh dan upaya memanfaatkan kerentanan sosial-politik di Suriah, khususnya melalui isu minoritas Druze.