Perdebatan soal keamanan pemanis buatan kembali mengemuka seiring perhatian terhadap erythritol, pemanis jenis gula alkohol yang banyak digunakan pada produk diet, keto, dan makanan bebas gula. Selama ini, erythritol kerap dipandang sebagai alternatif gula yang relatif aman karena hampir tanpa kalori dan dinilai tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis.
Namun, temuan penelitian terbaru menyoroti potensi risiko ketika kadar erythritol dalam darah berada pada tingkat tinggi. Studi tersebut mengaitkan kadar erythritol yang tinggi dengan peningkatan pembekuan darah, yang dapat berujung pada naiknya risiko serangan jantung maupun stroke.
Menurut paparan dalam laporan tersebut, mekanisme yang disorot berkaitan dengan trombosit atau keping darah. Erythritol disebut dapat membuat trombosit menjadi lebih reaktif. Dalam kondisi trombosit yang terlalu sensitif, penggumpalan dapat terjadi lebih mudah meski tidak ada luka yang perlu diperbaiki. Gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah dinilai berbahaya karena dapat menyumbat aliran darah. Bila sumbatan terjadi pada pembuluh darah menuju otak, risiko stroke iskemik meningkat. Sementara bila terjadi pada pembuluh darah jantung, kondisi tersebut dapat memicu serangan jantung.
Temuan ini menjadi perhatian terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko kardiovaskular, seperti riwayat tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung. Dalam konteks pencegahan, laporan tersebut menekankan pentingnya tidak hanya membatasi gula, tetapi juga lebih cermat memilih alternatif pemanis serta memantau kondisi kesehatan secara berkala.
Laporan itu juga memuat sejumlah faktor pemicu risiko stroke yang perlu diwaspadai, antara lain hipertensi yang tidak terkontrol, kadar gula darah tinggi secara konsisten, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan pemanis buatan tertentu secara berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih.
Selain itu, disebutkan beberapa langkah gaya hidup yang dapat mendukung kesehatan jantung, seperti memperbanyak konsumsi makanan utuh (whole foods) dan mengurangi makanan olahan kemasan, rutin berolahraga aerobik intensitas sedang, mengelola stres, serta membatasi penggunaan pemanis buatan bila memungkinkan.
Terkait kapan perlu mencari pertolongan medis, laporan tersebut menyarankan agar individu dengan riwayat penyakit jantung atau diabetes, atau yang mengalami gejala seperti nyeri dada, pusing mendadak, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau kebingungan, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut.
Dalam bagian “studi terkait”, disebutkan adanya penelitian yang dipublikasikan pada jurnal kardiologi internasional pada 2026. Studi itu melibatkan lebih dari 4.000 partisipan dan melaporkan bahwa individu dengan kadar erythritol darah pada persentil teratas memiliki risiko 2,5 kali lipat lebih tinggi mengalami Major Adverse Cardiovascular Events (MACE), seperti serangan jantung atau stroke, dibandingkan mereka yang kadarnya lebih rendah.
Masih pada 2026, laporan tersebut juga menyebut adanya uji klinis lanjutan yang menemukan konsumsi satu porsi minuman manis ber-erythritol standar (sekitar 30 gram) dapat meningkatkan reaktivitas trombosit selama berhari-hari pada individu sehat. Temuan ini dipaparkan sebagai penguat hipotesis bahwa erythritol dapat memengaruhi proses pembekuan darah.
Seiring berkembangnya temuan ilmiah, laporan tersebut menekankan pentingnya membaca label komposisi dengan teliti, terutama bagi orang dengan riwayat penyakit kardiovaskular. Bagi kelompok ini, pembatasan konsumsi produk yang mencantumkan erythritol disarankan, disertai konsultasi dengan dokter atau ahli gizi klinis untuk menentukan pilihan yang lebih sesuai.