Talkshow Penta Helix FGA di USU Bahas Stunting, Limbah, dan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Talkshow Penta Helix FGA di USU Bahas Stunting, Limbah, dan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar Talkshow Penta Helix Focus Group Action (FGA) bertajuk “Tata Kelola Limbah dan Inovasi Produk Mengatasi Stunting dan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Sumatera Utara” yang dirangkaikan dengan pelatihan dan pameran. Kegiatan ini berlangsung di Aula Raja Inal Siregar, Kamis (24/8/2023), dan bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik USU.

Wakil Rektor IV Bidang Informasi, Perencanaan, dan Pengembangan USU Prof. Dr. Drs. Opim Salim Sitompul M.Sc, yang hadir mewakili Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin S.Sos., M.Si, menyampaikan bahwa talkshow tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi dan kontribusi berbagai pihak dalam menghadapi persoalan sosial di Sumatera Utara. Isu yang disoroti meliputi stunting, pengelolaan sampah, hingga kemiskinan ekstrem.

“Terselenggaranya talk show pada hari ini itu adalah salah satu langkah yang cukup penting dan strategis dalam upaya USU untuk berkolaborasi dan berkontribusi dengan banyak pihak di dalamnya mengatasi persoalan persoalan sosial di tengah masyarakat Sumatera Utara khususnya dalam menanggulangi pengentasan kemiskinan ekstrem,” kata Opim.

Ia menegaskan, kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi, melainkan diarahkan pada implementasi aksi nyata. Menurutnya, USU diharapkan mengambil peran sebagai penggerak melalui kapasitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan.

“Peran usu itu penting sekali karena usu sumbernya. Peneliti Indonesia, penelitian pengabdian masyarakat, jadi memanglah kita yang menjadi penggerak, jadi kita harus bisa bekerja sama dengan stakholder lainnya. Fokus grupnya itu action bukan cuma diskusi,” ujarnya.

Dari sisi lingkungan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Ir. Yuliani Siregar, M.AP berharap adanya kerja sama konkret untuk mengatasi pencemaran. Ia juga menyinggung perlunya sosialisasi kepada industri, termasuk pengelolaan limbah domestik agar tidak langsung dibuang ke sungai.

“Pak kadisnya mungkin nanti kita bisa bekerja sama lebih lanjut seperti apa medan ini bisa bersih dari sampah dan sungai sungai kita juga bersih daripada pencemaran. Mungkin di sini juga kita perlu adanya penekanan untuk pengelolaan limbah domestik di mana dari hotel hotel mungkin kita nanti saling sosialisasikan. Limbah hotel itu jangan langsung dibuang ke ke sungai tapi dikelola dulu diolah dulu limbahnya,” kata Yuliani.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan dr. Suryadi Panjaitan, M.Kes, Sp.PD menekankan pentingnya penanganan persoalan lingkungan karena berdampak pada keseimbangan kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan pihaknya terus memperbaiki pengelolaan sampah. Terkait stunting, ia menyebut Kota Medan telah menyiapkan anggaran untuk menekan angkanya.

“Hal ini menimbulkan satu permasalahan besar yaitu terganggunya keseimbangan keseharian terhadap lingkungan tentunya ya, Ini kami coba terus memperbaiki pengelolaan sampah dengan lebih baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kita dihadapkan dengan permasalahan stunting. Kondisi yang membuat tumbuh kembang anak jadi lebih lambat dibanding dengan usianya. Kami sampaikan bahwa Kota Medan telah menyiapkan anggaran untuk menekan angka stunting.”

Ketua Pelaksana Talkshow Penta Helix FGA Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si berharap sosialisasi ini dapat mendorong lahirnya inovasi produk yang menjadi bagian dari perencanaan program untuk meningkatkan ekonomi produktif. Ia menilai program akan berjalan apabila lima pemangku kepentingan—akademisi, industri, pemerintah, media, dan masyarakat—dapat bekerja sama.

“Kita buat inovasi produk dikelola, banyak waktu terbuang tidak ekonomi produktif. Sehingga dengan adanya sistem atau pola pola seperti ini yang akan kita bangunkan di Sumatera utara, kita memberikan suatu output outcome nya dapat menjadi produk. Itu 5 stakeholder pertama akademisi, industri, masyarakat, media, pemerintah,” katanya.