Umar bin Khattab Turun Tangan Redakan Ketegangan Rumah Tangga Nabi di Madinah

Umar bin Khattab Turun Tangan Redakan Ketegangan Rumah Tangga Nabi di Madinah

Umar bin Khattab dibuat terkejut ketika mendapati istrinya menyampaikan usulan urusan rumah tangga dengan nada menuntut. Ia menilai situasi itu berbeda dibanding tradisi Quraisy pada masa jahiliah, ketika perempuan nyaris tidak diberi ruang untuk mencampuri urusan publik maupun keluarga. Namun di Madinah, dinamika sosial berubah seiring Islam menetapkan hak-hak hukum yang lebih jelas bagi perempuan.

Keterkejutan Umar bertambah saat ia mengetahui putrinya, Hafsah, bersama Aisyah, disebut berani mendebat Nabi Muhammad hingga membuat Nabi gusar sepanjang hari. Umar kemudian bergerak cepat untuk meluruskan persoalan yang dikhawatirkan meluas, mengingat urusan rumah tangga Nabi kerap berkelindan dengan wibawa dan stabilitas daulah di Madinah.

Kisruh domestik di kediaman Nabi bermula dari akumulasi kecemburuan sosial di antara para Ummul Mukminin. Dalam laporan tersebut, ketegangan dipicu oleh utusan Zainab binti Jahsy yang memprotes perlakuan yang dianggap kurang adil, terkait besarnya cinta Nabi kepada bayinya, Ibrahim, yang lahir dari Maria. Situasi memanas ketika Hafsah dan Aisyah memimpin protes, Nabi tersinggung, lalu memilih mengasingkan diri (ila) di sebuah kamar atas yang disebut masyrabah, sembari mengancam akan menceraikan seluruh istrinya.

Rumor perceraian massal itu menyebar di kalangan muslimin yang tengah berkumpul di masjid. Kabar tersebut memunculkan kesedihan dan kecemasan, karena persoalan keluarga Nabi dipandang memiliki dampak sosial-politik di tengah komunitas yang sedang bertumbuh.

Umar mengambil langkah personal. Ia mendatangi Hafsah untuk memberi peringatan keras agar tidak terperdaya oleh kecantikan diri atau kedekatan emosional. Umar juga menemui Ummu Salamah, kerabatnya, untuk membicarakan hal serupa, meski ia sempat ditegur karena dianggap terlalu jauh mencampuri urusan privat Nabi.

Ketegangan kian memuncak ketika seorang sahabat Ansar mendatangi rumah Umar dengan panik, mengabarkan bahwa Nabi telah meninggalkan semua istrinya akibat tekanan dari kelompok yang dipimpin Hafsah dan Aisyah. Mendengar kabar itu, Umar segera menuju masyrabah.

Di ruangan atas yang diakses melalui anak tangga dari batang kurma berlekuk, pintu dijaga seorang pelayan bernama Rabah. Umar disebut dua kali meminta izin menghadap namun tidak mendapat jawaban. Pada permintaan ketiga, Umar menaikkan suaranya dan menyatakan kesetiaan mutlak: ia mengatakan bahwa bila Nabi memerintahkannya memenggal leher Hafsah, ia akan melakukannya. Pernyataan ini dicatat Muhammad Husain Haekal dalam biografi Al-Faruq Umar yang diterjemahkan Ali Audah dan diterbitkan PT Pustaka Litera AntarNusa.

Setelah itu, Nabi memberi izin Umar masuk. Di dalam masyrabah, Umar berupaya meredakan situasi dengan pendekatan persuasif. Ia menceritakan kembali dialognya dengan Ummu Salamah yang disebut sempat membuat Nabi tersenyum. Umar juga menyampaikan penghiburan bernuansa teologis, menegaskan bahwa jika perceraian terjadi, Allah, Jibril, Mikail, Abu Bakr, dan orang-orang beriman akan tetap berada di pihak Nabi. Perlahan, kemarahan Nabi mereda hingga beliau tertawa, menandai berakhirnya masa pengasingan diri yang disebut berlangsung selama satu bulan.

Dalam narasi tersebut, langkah proaktif Umar yang sebelumnya diprotes sebagian istri Nabi kemudian memperoleh legitimasi melalui turunnya Surah At-Tahrim ayat 4–5. Ayat itu memuat peringatan agar pihak yang terlibat bertobat, sekaligus menegaskan perlindungan bagi Nabi. Diksi dalam ayat tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan peringatan yang sebelumnya disampaikan Umar kepada para Ummul Mukminin.

Pasca turunnya wahyu, ketegangan disebut mereda. Tata tertib domestik kembali pulih dan Nabi kembali berkumpul bersama para istrinya. Peristiwa ini dipaparkan sebagai pelajaran tentang pentingnya stabilitas keluarga dalam menjaga ketertiban sosial, serta bagaimana intervensi yang terukur dapat membantu meredakan konflik ketika dampaknya melebar ke ruang publik.