Jakarta — Sejumlah analisis bermunculan terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan Israel. Di ruang publik, muncul pula wacana yang menyamakan perang tersebut dengan Perang Salib, mengingat AS dan Israel berada di satu kubu melawan Iran yang dikenal sebagai republik Islam dan berada di kawasan kaya energi.
Namun, dalam tulisan opini yang dimuat MUI Digital, penulis menilai penyamaan itu tidak tepat. Menurutnya, konflik yang berlangsung saat ini tidak berkaitan dengan Perang Salib, melainkan lebih dipicu perebutan energi di kawasan negara Teluk.
Penulis membandingkan konteks kekinian dengan Perang Salib pada abad ke-11 hingga ke-13, yang digambarkan sebagai rangkaian konflik militer bernuansa agama antara pasukan Kristen Eropa dan kekuatan Islam di Timur Tengah, dengan dalih memperebutkan Yerusalem dan wilayah Tanah Suci. Meski demikian, ia juga menekankan bahwa Perang Salib memiliki akar sejarah kompleks dan tidak semata didorong motivasi religius, melainkan juga ambisi politik dan ekonomi.
Dalam uraian tersebut, penulis menyebut beberapa faktor yang kerap dikaitkan dengan Perang Salib, seperti motivasi religius untuk menguasai kembali Yerusalem serta seruan “Perang Suci” oleh Paus Urbanus II pada 1095. Situasi saat itu, tulisnya, turut dipicu faktor politik, ketika Kaisar Bizantium meminta bantuan Barat menghadapi ancaman Dinasti Seljuk Turki, serta ambisi ekonomi untuk menguasai jalur perdagangan, memperoleh tanah baru, dan mengejar kekayaan serta kehormatan.
Sementara itu, konflik AS-Israel dan Iran dinilai memiliki konteks berbeda. Karena itu, penulis menyimpulkan bahwa menyamakannya dengan Perang Salib merupakan opini yang tidak dapat dibenarkan.
Perebutan energi dan dampak ke pasar global
Penulis berpendapat bahwa perebutan energi di Timur Tengah, khususnya di kawasan negara Teluk, menjadi faktor utama yang memicu perang AS-Israel dengan Iran. Ia menyebut konfrontasi tersebut berlangsung berkepanjangan dan menimbulkan kekhawatiran terkait krisis energi global serta perebutan kendali atas sumber daya energi di kawasan.
Menurut tulisan itu, eskalasi konflik meningkat pada awal 2026, ditandai serangan udara dan ancaman terhadap infrastruktur, yang kemudian mengguncang pasar energi global. Penulis juga merujuk laporan berbagai media yang menyebut sekitar 40 fasilitas energi mengalami kerusakan parah dalam waktu kurang dari sebulan, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Aktor dan potensi perluasan konflik
Dalam opininya, penulis menyebut dua tokoh sebagai aktor utama konflik, yakni Presiden Amerika Serikat Donald John Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menilai perang yang terus berlanjut berpotensi meluas dan dapat menyeret Eropa serta dunia Barat, mengingat kedekatan mereka sebagai sekutu Amerika Serikat.
Penulis juga menyoroti dampak lanjutan jika perang tidak segera berhenti. Menurutnya, ketegangan dapat meningkat dan memicu lonjakan harga minyak dan energi karena gangguan pasokan dari Timur Tengah. Ia menyinggung kemungkinan negara-negara di kawasan Teluk bersatu dengan Iran untuk menutup jalur perdagangan minyak melalui Selat Hormuz, yang disebut sebagai salah satu jalur utama lalu lintas perdagangan minyak dunia.
Jika situasi berlangsung lama, penulis memproyeksikan harga minyak dunia berpotensi naik drastis hingga menembus 150 dolar AS per barel, yang pada gilirannya dapat melumpuhkan perekonomian dunia.
Seruan menghentikan perang dan mencegah konflik peradaban
Di bagian akhir, penulis menekankan bahwa perang pada dasarnya tidak menguntungkan semua negara dan dampak buruknya dirasakan banyak pihak. Karena itu, ia mendorong agar negara-negara sepakat menghentikan perang dan berfokus memperkuat peradaban guna mencegah kecenderungan saling memusuhi, keserakahan, dan dendam yang memicu konflik kemanusiaan.
Penulis turut mengaitkan situasi tersebut dengan gagasan “Benturan Peradaban” (The Clash of Civilizations) yang dipopulerkan Samuel P. Huntington pada 1993, seraya menilai pencegahan konflik peradaban merupakan kewajiban semua negara. Ia menggambarkan kemajuan peradaban antara lain ditandai penguasaan teknologi, ilmu pengetahuan, seni, arsitektur monumental, serta struktur sosial-pemerintahan yang menjunjung nilai kemanusiaan dan adab dalam pergaulan internasional.
Catatan: Tulisan ini merangkum isi artikel opini yang dimuat MUI Digital dan merupakan pandangan penulisnya.

