Di tengah hiruk-pikuk kota, aksi mahasiswa kembali menjadi kata kunci yang ramai dicari.
Google Trends merekamnya sebagai percakapan nasional.
Pemicunya adalah demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh fakultas Universitas Indonesia di Bundaran HI.
Mereka membawa lima tuntutan kepada pemerintah.
Isi tuntutan itu mencakup penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok.
Di dalam tuntutan itu juga ada penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis.
Detail tuntutan lain disebut ada, namun tidak seluruhnya dipaparkan dalam data yang tersedia.
Di ruang publik, aksi ini dibaca sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang sedang retak.
Ray Rangkuti menilai kemarahan itu terkait rasa dongkol pada elit politik.
Kalimat itu memantul, lalu menyebar, lalu menjadi bahan diskusi.
Yang membuat tren bukan hanya aksi di jalan.
Tren lahir dari perasaan kolektif yang menemukan peristiwa untuk menempel.
-000-
Mengapa Isu Ini Meledak di Pencarian
Alasan pertama adalah simbol.
Bundaran HI bukan sekadar lokasi, melainkan panggung nasional.
Ketika mahasiswa memilih titik itu, pesan mereka ikut membesar.
Orang yang tidak hadir pun merasa perlu tahu, lalu mengetik, lalu mencari.
Alasan kedua adalah ekonomi rumah tangga.
Tuntutan menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok menyentuh urat nadi sehari-hari.
BBM memengaruhi ongkos logistik.
Kebutuhan pokok memengaruhi piring makan.
Ketika dua hal itu disebut, publik membaca ancaman pada kestabilan hidup.
Alasan ketiga adalah krisis kepercayaan.
Pernyataan tentang “dongkol dengan elit politik” memberi bingkai emosional yang mudah dipahami.
Ia menyederhanakan kompleksitas menjadi satu kata: kejengkelan.
Dalam iklim politik yang bising, kejengkelan adalah bahan bakar viral.
-000-
Aksi Mahasiswa, Tradisi Kritik, dan Pertanyaan tentang Negara
Mahasiswa sering dipanggil sebagai “penjaga nurani”.
Namun label itu tidak otomatis menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Aksi BEM UI memperlihatkan sebuah mekanisme demokrasi yang paling dasar.
Warga menyampaikan tuntutan, negara mendengar, lalu publik menilai responsnya.
Di sinilah isu ini menjadi kontemplatif.
Demokrasi bukan hanya pemilu.
Demokrasi juga adalah kemampuan menampung ketidakpuasan tanpa mematikan suara.
Ketika mahasiswa turun ke jalan, mereka menguji dua hal sekaligus.
Mereka menguji daya tahan kebijakan.
Mereka juga menguji kelapangan politik untuk menerima kritik.
-000-
Harga BBM dan Kebutuhan Pokok sebagai Bahasa Keadilan
Permintaan penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok bukan sekadar angka.
Ia adalah bahasa keadilan yang paling mudah diterjemahkan.
Dalam teori ekonomi politik, harga energi sering disebut penentu biaya hidup.
Energi mengalir ke transportasi, produksi, dan distribusi.
Ketika biaya itu naik, masyarakat merasakan efek berantai.
Di titik tertentu, keluhan berubah menjadi kemarahan.
Riset lembaga internasional seperti Bank Dunia kerap menekankan arti inflasi pangan.
Inflasi pangan berdampak besar pada kelompok berpendapatan rendah.
Alasannya sederhana.
Porsi belanja makanan mereka lebih besar dibanding kelompok kaya.
Karena itu, tuntutan soal kebutuhan pokok cepat menjadi isu lintas kelas.
Ini bukan hanya soal mahasiswa.
Ini tentang keluarga yang menghitung ulang isi keranjang belanja.
-000-
Penolakan Program Makan Bergizi Gratis dan Debat Prioritas
Dalam tuntutan yang disebutkan, mahasiswa meminta penghentian program Makan Bergizi Gratis.
Di sini muncul perdebatan tentang prioritas dan desain kebijakan.
Program sosial biasanya membawa dua wajah.
Di satu sisi, ia menjanjikan perlindungan.
Di sisi lain, ia menuntut tata kelola yang rapi, data yang akurat, dan anggaran yang dipercaya.
Ketika ada penolakan, publik bertanya: apa yang dinilai bermasalah.
Data yang tersedia tidak memuat alasan rinci penolakan tersebut.
Namun tren pencarian menunjukkan satu hal.
Masyarakat ingin memahami pertarungan gagasan di balik kebijakan.
Dalam literatur kebijakan publik, legitimasi program lahir dari transparansi.
Ketika transparansi dirasa kurang, program mudah dipersoalkan.
Di titik ini, demonstrasi menjadi sinyal permintaan penjelasan.
-000-
“Dongkol dengan Elit Politik” dan Retaknya Representasi
Ray Rangkuti menyebut aksi itu sebagai ekspresi dongkol terhadap elit politik.
Kalimat ini mengandung kritik pada representasi.
Dalam demokrasi perwakilan, rakyat menitipkan suara pada wakil.
Namun ketika jarak terasa melebar, kepercayaan berubah menjadi sinisme.
Sinisme itu bukan selalu lahir dari kebencian.
Sering kali ia lahir dari kekecewaan yang berulang.
Riset Edelman Trust Barometer, misalnya, kerap menunjukkan fluktuasi kepercayaan pada institusi.
Walau angkanya berbeda tiap negara, polanya mirip.
Ketika kepercayaan turun, masyarakat mencari saluran lain untuk bersuara.
Aksi jalanan menjadi salah satu saluran paling terlihat.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Ekonomi, Tata Kelola, dan Ruang Sipil
Aksi ini menempel pada tiga isu besar Indonesia.
Pertama, ketahanan biaya hidup.
Indonesia terus berjuang menjaga stabilitas harga di tengah gejolak global.
Ketika isu BBM dan kebutuhan pokok muncul, itu menyentuh agenda negara paling dasar.
Kedua, kualitas tata kelola program sosial.
Publik menuntut kebijakan yang bukan hanya baik di niat.
Mereka menuntut kebijakan yang kuat di desain dan bersih di pelaksanaan.
Ketiga, kesehatan ruang sipil.
Demonstrasi menguji apakah kritik diperlakukan sebagai musuh atau sebagai koreksi.
Negara yang kuat bukan yang sunyi dari protes.
Negara yang kuat adalah yang mampu mengubah protes menjadi perbaikan.
-000-
Rujukan Global: Saat Mahasiswa Menjadi Termometer Publik
Di banyak negara, mahasiswa kerap menjadi termometer sosial.
Ketika suhu naik, mereka sering lebih dulu turun ke jalan.
Contoh yang sering dibahas di luar negeri adalah gelombang protes mahasiswa di Chile.
Protes itu menuntut perubahan kebijakan pendidikan dan ketimpangan.
Di Prancis, demonstrasi besar kerap muncul saat kebijakan ekonomi dinilai menekan.
Di Hong Kong, aksi mahasiswa pernah menjadi simbol pertarungan ruang demokrasi.
Setiap konteks berbeda.
Namun ada benang merah yang serupa.
Ketika kebijakan menyentuh hidup sehari-hari, protes cepat membesar.
Ketika kepercayaan pada elit menipis, protes cepat menyebar.
Indonesia kini berada pada persimpangan yang mirip.
Bukan meniru negara lain, melainkan belajar dari pola yang berulang.
-000-
Membaca Aksi sebagai Peringatan Dini, Bukan Gangguan
Aksi BEM UI bisa dibaca sebagai peringatan dini.
Ia memberi tahu bahwa ada kelompok warga yang merasa tidak didengar.
Dalam manajemen kebijakan, peringatan dini adalah kesempatan.
Kesempatan untuk mengoreksi sebelum masalah membesar.
Jika responsnya defensif, ketegangan bisa meningkat.
Jika responsnya dialogis, energi publik bisa diarahkan menjadi solusi.
Di sini, bahasa menjadi penting.
Pejabat yang memilih meremehkan akan memperlebar jarak.
Pejabat yang memilih menjelaskan akan membuka pintu.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, pemerintah perlu merespons tuntutan dengan penjelasan yang terukur.
Bukan sekadar pernyataan umum.
Publik membutuhkan alasan, data, dan pilihan kebijakan yang terang.
Kedua, buka kanal dialog yang kredibel dengan perwakilan mahasiswa.
Dialog yang baik punya agenda, notulensi, dan tindak lanjut.
Tanpa itu, dialog hanya menjadi foto bersama.
Ketiga, jaga ruang sipil agar aman dan tertib.
Pengamanan perlu proporsional.
Hak menyampaikan pendapat perlu dihormati.
Keempat, mahasiswa perlu menjaga disiplin tuntutan dan akurasi pesan.
Jika ada kritik pada program, jelaskan kerangka kritiknya secara terbuka.
Kelima, publik perlu menahan diri dari polarisasi.
Isu harga dan kebijakan sosial mudah dipelintir menjadi kubu-kubuan.
Yang dibutuhkan adalah evaluasi, bukan fanatisme.
-000-
Penutup: Jalan Pulang dari Bundaran HI
Demonstrasi berakhir, tetapi pertanyaan tidak ikut bubar.
Apakah negara mendengar hanya saat jalanan penuh.
Atau negara mampu mendengar bahkan ketika suara disampaikan dengan tenang.
Tren di mesin pencari menunjukkan satu hal yang jujur.
Warga ingin ikut menilai, bukan hanya menonton.
Di situlah harapan demokrasi bekerja.
Bahwa kritik tidak dianggap ancaman.
Bahwa kebijakan tidak dianggap dogma.
Bahwa elit politik tidak kebal dari pertanyaan.
Dan bahwa mahasiswa, dengan segala keterbatasannya, masih berani mengetuk pintu yang besar.
Selebihnya, bangsa ini diuji oleh kesediaannya untuk belajar.
Karena, seperti kata Nelson Mandela, “Saya tidak pernah kalah. Saya menang atau saya belajar.”

