Peluang Erick Thohir Masuk Kabinet Prabowo-Gibran Dinilai Tidak Mudah

Peluang Erick Thohir Masuk Kabinet Prabowo-Gibran Dinilai Tidak Mudah

Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dinilai masih berupaya menjaga peluang agar tetap masuk dalam skenario pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Namun, ekspektasi itu disebut menghadapi tantangan besar, baik dari sisi rekam jejak di Kementerian BUMN maupun dinamika politik pasca-Pilpres 2024.

Salah satu langkah yang disorot adalah peran Erick yang disebut memanfaatkan jejaringnya untuk mempertemukan Prabowo dengan Presiden FIFA Gianni Infantino di Paris, Prancis, di sela kehadiran presiden terpilih tersebut pada pembukaan Olimpiade 2024. Modal sosial Erick di ranah olahraga dan sepak bola dipandang kuat, tetapi dinilai tidak memiliki kekuatan yang sama di ranah politik.

Di Kementerian BUMN, Erick masih dibayangi sorotan terhadap sejumlah perusahaan pelat merah yang bermasalah. Portofolionya disebut tercoreng oleh banyaknya BUMN yang mengalami persoalan tata kelola, manajemen, maupun kinerja. Upaya membubarkan tujuh BUMN yang konsisten merugi dinilai belum signifikan karena masih banyak BUMN lain yang dianggap “sakit”.

Kondisi perusahaan-perusahaan BUMN karya turut disebut sebagai salah satu persoalan yang kerap dilekatkan pada kepemimpinan Erick dan dinilai sulit terselesaikan hingga akhir masa jabatan. Isu ini juga sering diangkat oleh pegiat media sosial dan pengusaha di bidang terkait, Ronald Ariston Sinaga atau Bro Ron, yang menjadi salah satu suara kritis terhadap kinerja Erick.

Dalam konteks tersebut, penilaian terhadap Erick dikaitkan dengan konsep tanggung jawab politik (political responsibility). Merujuk pada pemikiran Iris Marion Young dalam tulisan Responsibility and Global Justice: A Social Connection Model, seorang pemimpin dipandang perlu mempertanggungjawabkan tindakan serta kebijakan yang diambil, baik secara langsung maupun tidak langsung. Meski demikian, disebut pula bahwa persoalan BUMN yang bermasalah tidak serta-merta sepenuhnya dapat dibebankan kepada Erick.

Selain beban kinerja di Kementerian BUMN, konflik peran (role conflict) juga ikut disorot. Posisi Erick di PSSI dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat kinerjanya tidak maksimal, sementara tanggung jawab dan akuntabilitas atas BUMN tetap berada di pundaknya dan menjadi bahan pertanyaan publik. Kondisi ini disebut dapat memengaruhi pertimbangan aktor politik lain dalam menentukan apakah Erick akan dilibatkan dalam pemerintahan baru.

Di luar itu, terdapat pula pembahasan mengenai “residu” politik yang dikaitkan dengan persaingan menuju pencalonan wakil presiden pada Pilpres 2024. Persaingan tersebut disebut meninggalkan dampak psikologis dan politik, meski kontestasi telah usai.

Penjelasan mengenai dinamika itu dikaitkan dengan teori group polarization yang dijelaskan Cass R. Sunstein dalam The Law of Group Polarization, yaitu kecenderungan aktor dalam kelompok dengan pandangan serupa untuk memperkuat keyakinan secara lebih ekstrem. Dalam konteks ini, narasi seputar pencalonan cawapres disebut menjadi semakin intens dan memunculkan dampak politik yang tidak kecil.

Persaingan tersebut dinilai melahirkan “perang narasi” di berbagai level, termasuk yang disebut mendiskreditkan kandidat cawapres yang akhirnya terpilih, yakni Gibran Rakabuming Raka, dan dampaknya dianggap masih terasa. Dalam telaah teoretis, konsep political residue digunakan untuk menggambarkan sisa-sisa persaingan politik yang tetap berpengaruh meski kontestasi telah berakhir.

Jika residu dan konstruksi psikologi politik itu benar terjadi, hal tersebut disebut dapat menjadi batu sandungan bagi Erick untuk kembali mendapatkan kepercayaan dalam pemerintahan berikutnya. Dengan demikian, Erick dinilai berada dalam posisi kompleks di antara harapan untuk masuk dalam skenario pemerintahan Prabowo–Gibran dan tantangan yang muncul dari kinerja di Kementerian BUMN serta dinamika politik pasca-Pilpres 2024.

Meski begitu, keseluruhan penilaian tersebut disebut sebagai interpretasi berdasarkan sejumlah variabel, konsep, dan teori yang saling berkaitan. Perkembangan selanjutnya dinilai masih perlu terus diamati, mengingat kiprah Erick selama ini juga diiringi pencapaian, kontroversi, dan berbagai narasi yang menyertainya menjelang terbentuknya pemerintahan baru.