ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA

Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang bertarung. Tapi saya dan ratusan warga negara lain yang kebetulan sedang berkunjung ikut terkena getahnya.

Tiga jam saya berdiri, berjalan ke kiri dan ke kanan, mengikuti jalur pita, bersama para penumpang lain, hanya untuk sampai ke proses boarding.

Banyak penumpang bahkan sudah berada di sana sejak pukul dua dini hari. Di George Bush Intercontinental Airport, udara terasa dingin, tetapi suasana justru panas oleh kegelisahan.

Saya dan rombongan tiba dengan harapan sederhana: check-in, melewati pemeriksaan, lalu duduk tenang menunggu penerbangan.

Namun yang saya temui bukanlah alur yang lancar, melainkan lautan manusia. Barisan panjang mengular, berkelok seperti sungai yang kehilangan muara. Wajah-wajah lelah memenuhi ruang.

Beberapa duduk di lantai. Ada yang tertidur bersandar pada koper. Seorang ibu memeluk anaknya yang kelelahan. Seorang pria tua berkali-kali melihat jam tangannya, cemas akan tertinggal.

Saya berdiri dalam barisan yang bergerak sangat pelan. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.

Ketika akhirnya saya melewati pemeriksaan dan melangkah menuju gate, saya tidak merasa lega. Justru muncul satu pertanyaan yang mengganggu.

Bagaimana mungkin di negara paling maju di dunia, sistem bisa lumpuh oleh sesuatu yang tidak terlihat?

Jawabannya tidak ada di bandara.
Jawabannya ada di politik Washington.

-000-

Antrean tiga jam itu bukan sekadar masalah operasional. Ia adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam, kemacetan politik di Amerika Serikat.

Akar persoalannya adalah apa yang disebut government shutdown, situasi ketika pemerintah federal tidak memiliki anggaran yang disetujui oleh Kongres. Dalam kondisi ini, banyak lembaga pemerintah berhenti beroperasi. Namun ada satu ironi besar.

Sebagian pegawai tetap harus bekerja, tetapi tidak dibayar.

Di bandara, aktor utamanya adalah Transportation Security Administration (TSA). Mereka penjaga gerbang keamanan. Tanpa mereka, sistem tidak bisa berjalan.

Namun dalam situasi shutdown:
• gaji mereka tertunda
• motivasi runtuh
• banyak yang tidak masuk kerja
• sebagian bahkan memilih berhenti

Akibatnya, kapasitas bandara turun drastis. Jalur pemeriksaan berkurang. Antrean mengular. Sistem yang biasanya efisien berubah menjadi rapuh.

Inilah paradoks modernitas.

Infrastruktur secanggih apa pun akan runtuh jika manusia di dalamnya tidak dihargai.

Yang lebih dalam lagi, ini bukan soal teknis. Ini soal politik.

Di Washington, Partai Republik dan Partai Demokrat berdebat keras soal anggaran, tentang imigrasi, pajak, dan prioritas belanja. Tidak ada kompromi. Tidak ada jalan tengah.

Negara terbesar di dunia tersandera oleh ketidaksepakatan.

Dan dampaknya tidak abstrak.

Ia terasa nyata:
• pada koper yang terlambat
• pada anak kecil yang kelelahan
• pada penumpang yang kehilangan penerbangan
• pada saya, yang berdiri tiga jam dalam kejenuhan

Di sinilah politik bertemu kehidupan sehari-hari. Bukan di parlemen. Tapi di antrean.

Seorang petugas TSA menatap saya dengan mata merah kelelahan; ia bekerja dalam senyap tanpa kepastian gaji, pengabdian yang tersandera oleh ego politik yang menolak berkompromi demi martabat warga.

-000-

Fenomena shutdown bukan hal baru di Amerika. Sejak 1976, sudah terjadi lebih dari dua puluh kali.

Namun yang paling panjang terjadi pada 2018 hingga 2019, berlangsung selama 35 hari di era Donald Trump.

Penyebabnya adalah kebuntuan soal pendanaan tembok perbatasan dengan Meksiko.

Selama periode itu:
• ratusan ribu pegawai federal tidak dibayar
• bandara mengalami gangguan serius
• ekonomi kehilangan miliaran dolar
• kepercayaan publik menurun tajam

Itu adalah salah satu titik terendah.

Namun yang paling buruk bukan hanya lamanya. Yang paling buruk adalah pesan yang disampaikan.

Bahwa bahkan negara dengan institusi terkuat pun bisa lumpuh oleh konflik politik internal.

Shutdown menjadi simbol dari demokrasi yang tidak lagi bergerak mulus, tetapi tersendat oleh kepentingan yang saling bertabrakan.

-000-

Apakah ini kelemahan demokrasi?

Shutdown biasanya berakhir dengan satu hal, kompromi.

Cepat atau lambat, tekanan publik, tekanan ekonomi, dan realitas politik memaksa para pemimpin untuk duduk bersama. Anggaran disetujui. Pemerintah dibuka kembali. Gaji dibayarkan.

Namun proses menuju ke sana sering kali menyakitkan.

Sebagian akan mengatakan bahwa ini sisi buruk demokrasi. Demokrasi lambat, berisik, dan penuh konflik.

Namun ada cara lain untuk melihatnya.

Demokrasi adalah sistem yang memungkinkan konflik terlihat, bukan disembunyikan. Ia memberi ruang bagi perbedaan, meski konsekuensinya adalah ketidakpastian.

Yang terjadi di Amerika bukan semata kelemahan demokrasi, tetapi polarisasi politik yang ekstrem.

Masalahnya bukan pada sistemnya.
Masalahnya pada bagaimana manusia menjalankan sistem itu.

-000-

Berikut dua buku yang secara mendalam menjelaskan akar persoalan kemacetan politik, polarisasi, dan dampaknya pada kehidupan nyata seperti shutdown dan disfungsi institusi.

Pertama, buku How Democracies Die.

Ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Buku ini menjelaskan bahwa demokrasi modern tidak runtuh secara dramatis melalui kudeta, tetapi perlahan melemah dari dalam.

Kematian demokrasi terjadi ketika norma tak tertulis dihancurkan. Dua norma utama yang disoroti adalah mutual toleration, yaitu mengakui lawan politik sebagai sah, dan institutional forbearance, yaitu menahan diri dalam menggunakan kekuasaan secara ekstrem.

Dalam konteks shutdown, kebuntuan anggaran bukan sekadar perbedaan kebijakan, tetapi tanda bahwa elite politik tidak lagi melihat kompromi sebagai kewajiban moral.

Akibatnya, institusi menjadi rapuh. Proses legislasi berubah dari negosiasi menjadi kebuntuan. Negara tetap berjalan, tetapi tersendat, seperti antrean panjang di bandara.

Pesan utamanya sederhana namun menggetarkan. Demokrasi tidak mati dalam satu malam. Ia terkikis sedikit demi sedikit hingga suatu hari kehilangan fungsinya.

-000-

Kedua, buku Why We’re Polarized karya Ezra Klein.

Buku ini menjelaskan akar polarisasi ekstrem di Amerika Serikat. Politik tidak lagi sekadar perbedaan ide, tetapi pertarungan identitas.

Partai politik menjadi representasi siapa kita, bukan sekadar apa yang kita yakini. Ketika identitas melebur dengan politik, kompromi menjadi hampir mustahil.

Mengalah terasa seperti mengkhianati diri sendiri.

Sistem politik, media partisan, dan algoritma digital memperkuat ekstremitas. Politisi moderat tersingkir. Yang paling keras justru naik ke permukaan.

Hasilnya adalah kondisi yang saya lihat di Houston.

Sistem tetap ada.
Aturan tetap berlaku.
Namun kemampuan untuk membuat keputusan bersama, hilang.

Masalahnya bukan karena orang Amerika tidak peduli. Justru karena mereka terlalu peduli, dengan cara yang membuat mereka tidak lagi bisa bertemu di tengah.

-000-

Dua buku ini, jika dibaca bersama, seperti dua sisi cermin.

Yang satu menunjukkan keretakan sistem. Yang lain menunjukkan api di dalam manusia yang menggerakkan keretakan itu.

Dan di antara keduanya, kita menemukan satu pelajaran besar.

Krisis politik bukan hanya soal elit di Washington. Ia menjalar perlahan hingga terasa di tempat paling sederhana, seperti antrean panjang di sebuah bandara, di tengah malam, di Houston.

-000-

Tiga jam di bandara Houston bukan sekadar pengalaman perjalanan. Ia adalah metafora.

Tentang dunia yang semakin kompleks, tetapi tetap bergantung pada hal-hal sederhana, kepercayaan, kerja sama, dan kemampuan untuk berkompromi.

Sebab yang paling menakutkan dari shutdown bukanlah antrean, melainkan normalisasi kelumpuhan. Itu terjadi ketika masyarakat terbiasa pada negara yang sering mogok, standar kewajaran runtuh pelan-pelan tanpa disadari.

Di ujung antrean itu, saya belajar satu hal.

Sebuah negara bisa memiliki teknologi paling canggih, tetapi tetap tersendat jika politiknya kehilangan arah.

Dan mungkin, di balik setiap antrean panjang, selalu ada cerita yang lebih besar.
Tentang manusia, tentang kekuasaan, dan tentang rapuhnya peradaban yang kita bangun bersama.



REFERENSI
1. How Democracies Die
Steven Levitsky & Daniel Ziblatt
Crown Publishing Group, 2018
2. Why We’re Polarized
Ezra Klein
Avid Reader Press, 2020