Yayasan Rakyat Cerdas Ternutrisi Agung Anugrah Putra (Yayasan RCT) menyampaikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan salah satu media online yang memuat pernyataan Wan Safri atau BWS mengenai sejumlah isu operasional dan distribusi di MBG Sedanau, Natuna, Sabtu (4/4/2026).
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada hari yang sama, yayasan menilai beberapa informasi dalam pemberitaan tersebut perlu diluruskan agar sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.
Yayasan menyatakan kinerja Asisten Lapangan (Aslap) selama ini telah berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Seluruh kegiatan operasional, menurut yayasan, dilaksanakan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan untuk menjaga kualitas layanan kepada masyarakat.
Menanggapi isu harga bahan, termasuk tempe dan gas, yayasan menjelaskan adanya penyesuaian harga dalam proses pengadaan. Namun, penyesuaian tersebut disebut masih berada dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku dan dilakukan secara wajar dengan mempertimbangkan kondisi pasar. Yayasan juga menegaskan proses pengadaan dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Terkait temuan daging ayam dalam kondisi membusuk sebagaimana diberitakan, yayasan menyebut penerimaan barang oleh admin gudang dilakukan saat kondisi awal masih segar dan layak. Kerusakan disebut terjadi akibat kendala teknis pada sistem pendingin saat penyimpanan. Yayasan menegaskan ayam tersebut tidak diolah maupun didistribusikan kepada pihak mana pun.
Yayasan juga menyampaikan bahwa supplier tidak mengajukan klaim pembayaran atas kejadian tersebut, sehingga kerugian ditanggung sepenuhnya oleh supplier. Selain itu, sesuai prosedur, admin gudang disebut memiliki kewenangan untuk menolak barang yang tidak memenuhi standar. Peristiwa ini, menurut yayasan, menjadi bahan evaluasi internal untuk meningkatkan pengawasan dan sistem penyimpanan ke depan.
Menanggapi masukan mengenai kualitas menu, yayasan menyatakan membuka ruang klarifikasi dan berharap pihak yang menyampaikan masukan dapat memberikan informasi lebih rinci agar evaluasi dapat dilakukan secara objektif, transparan, dan berbasis data yang akurat.
Sementara itu, seorang warga Sedanau bernama Ismail saat dikonfirmasi pada Sabtu (4/4/2026) menyampaikan pandangannya terkait situasi tersebut. Ia menilai yayasan memiliki kendali penuh atas jalannya program dan diharapkan dapat mengambil langkah tegas demi keberlangsungan kegiatan.
“Pada prinsipnya yayasan memiliki hak dan kendali penuh dalam menjalankan program ini. Apabila terdapat pihak rekanan yang tidak lagi bersedia bekerja sama, maka kami berharap yayasan dapat segera mengambil langkah dengan membangun dapur baru agar program tetap berjalan. Dengan demikian, para relawan juga dapat terus bekerja dan masyarakat, khususnya anak-anak, tetap mendapatkan manfaat,” ujar Ismail.
Di akhir keterangannya, Yayasan RCT menegaskan komitmen untuk menjalankan operasional secara profesional, transparan, serta sesuai ketentuan yang berlaku. Yayasan juga mengimbau semua pihak menyampaikan informasi secara berimbang dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan demi menjaga kepercayaan publik dan keberlangsungan program.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media disebut masih berupaya meminta tanggapan kembali dari Wan Safri sebagai mitra Yayasan RCT.

