Medan — Memasuki satu tahun kepemimpinan Rico Waas, pendekatan kehati-hatian disebut menjadi karakter utama dalam setiap langkah kebijakannya. Di tengah tekanan percepatan program dan tingginya ekspektasi publik, Rico dinilai memilih memastikan setiap keputusan diambil melalui proses yang terukur dan berdasarkan pertimbangan matang.
Sekretaris BM-3 Kota Medan, Dr. M. Taufiq Hidayah Tanjung, menilai sikap tersebut bukan bentuk keraguan, melainkan strategi komunikasi yang menyadari risiko. Menurutnya, kehati-hatian dapat menjadi pesan simbolik bahwa seorang pemimpin memahami konsekuensi dari kebijakan yang diambil.
“Kehati-hatian adalah pesan simbolik yang kuat. Seorang pemimpin yang tidak tergesa-gesa menunjukkan bahwa ia memahami konsekuensi dari setiap kebijakan yang diambil,” ujar Taufiq.
Taufiq yang juga Sekretaris Eksekutif Diagram Indonesia menambahkan, gaya kepemimpinan yang tidak populis namun konsisten dapat menjadi modal penting untuk membangun legitimasi jangka panjang. Ia menilai Rico Waas tidak terjebak pada politik pencitraan dan lebih mengutamakan ketepatan substansi sebelum kebijakan dipublikasikan secara luas.
“Kita melihat Rico Waas tidak terjebak pada politik pencitraan. Ia lebih memilih memastikan kebijakan itu benar secara substansi sebelum dipublikasikan secara luas. Ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap amanah masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menilai kehati-hatian tersebut terlihat dalam proses penataan birokrasi. Sejumlah posisi strategis yang belum terisi disebut bukan semata kelalaian, melainkan bagian dari proses seleksi yang ketat dan penuh pertimbangan untuk menghindari kesalahan penempatan figur yang berdampak jangka panjang.
“Kekosongan jabatan bukan selalu berarti stagnasi. Bisa jadi itu adalah bentuk kehati-hatian untuk menghindari kesalahan penempatan figur yang berdampak jangka panjang,” kata Taufiq.
Menurutnya, publik kerap menuntut percepatan, namun kecepatan tanpa akurasi berpotensi memunculkan persoalan baru. Ia menekankan, pemimpin tidak hanya diuji dari seberapa cepat bergerak, tetapi juga dari ketepatan arah kebijakan yang diambil.
“Pemimpin diuji bukan hanya dari seberapa cepat ia bergerak, tetapi seberapa tepat arah kebijakan yang ia ambil. Konsistensi lebih penting daripada sensasi,” ujarnya.
Taufiq menilai satu tahun masa kepemimpinan belum cukup untuk memberikan penilaian final. Namun, pilihan Rico Waas untuk mengedepankan prinsip kehati-hatian disebut dapat menjadi fondasi awal dalam menjaga kepercayaan publik.

