Konflik antara Israel dan Palestina kembali memanas pada Mei 2021, yang menurut BBC merupakan eskalasi terburuk sejak 2014. Konflik yang berlangsung selama 11 hari ini berawal dari ketegangan di Yerusalem Timur dan berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi oleh Mesir. Selama bentrokan tersebut, sekitar 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak, meninggal dunia, sementara pihak Israel kehilangan 12 orang, termasuk dua anak.
Pemberitaan media di berbagai negara, termasuk Indonesia, memuat beragam aspek konflik ini, mulai dari jumlah korban, dukungan internasional, hingga penggunaan senjata oleh kedua belah pihak. Namun, seperti yang diungkapkan oleh sejumlah penelitian, pemberitaan konflik Israel-Palestina sering kali mengandung bias tertentu yang dipengaruhi oleh latar belakang media, kepentingan politik, hingga pilihan narasumber dan bahasa yang dipakai.
Bias Media dalam Liputan Konflik Israel-Palestina
Penelitian oleh Elad Segev dan Regula Miesch (2011) mengungkap bahwa bias dalam peliputan konflik Israel-Palestina tidak bisa benar-benar dihindari karena melibatkan faktor-faktor seperti kepemilikan media, pandangan jurnalis, serta pemilihan kata dan sudut pandang. Gerard McTigue dari Syracuse University menambahkan bahwa lokasi media dan hubungan politik antarnegara turut memengaruhi liputan yang diberikan.
Dalam konteks media Indonesia, Tirto melakukan analisis terhadap pemberitaan daring mengenai konflik ini pada periode 10-22 Mei 2021 dengan menggunakan Media Cloud. Dari 5.172 judul berita yang terkumpul, setelah disaring menjadi 3.752 judul dari 19 media daring, berita tersebut dikategorikan menjadi empat kelompok: pro-Palestina, pro-Israel, netral, dan tidak berhubungan langsung dengan konflik.
Kategori dan Temuan dalam Pemberitaan Media Indonesia
- Pro-Palestina: Berita yang menggambarkan Israel sebagai pihak agresor dan Palestina sebagai korban. Termasuk di dalamnya berita yang mengutuk tindakan Israel dan menyerukan dukungan untuk Palestina. Kategori ini mendominasi pemberitaan media daring Indonesia, mencapai 79,2 persen dari total berita yang dianalisis.
- Pro-Israel: Berita yang menonjolkan sudut pandang Israel, menyebut Hamas sebagai pelaku agresi, atau menyoroti dukungan negara-negara pendukung Israel. Porsi berita ini relatif kecil, hanya sekitar 6,9 persen.
- Netral: Berita yang menyajikan informasi seimbang tanpa memihak salah satu pihak, seperti desakan internasional untuk menahan diri atau upaya gencatan senjata. Kompas menjadi media dengan persentase berita netral tertinggi, sekitar 19,9 persen.
- Tidak Berhubungan: Berita yang menggunakan kata kunci Israel atau Palestina namun tidak membahas konflik secara langsung, misalnya berita terkait demonstrasi atau komentar personal. Sekitar 263 judul termasuk dalam kategori ini.
Media seperti Tribunnews dan Republika menjadi yang paling produktif dalam memberitakan konflik ini, dengan masing-masing menerbitkan 1.188 dan 886 berita terkait dalam rentang waktu tersebut. Sementara Okezone berada di posisi ketiga dengan sekitar 300 berita.
Label dan Narasi dalam Pemberitaan
Analisis terhadap kata-kata yang digunakan dalam judul berita menunjukkan bahwa istilah 'militan' dan 'pejuang' sering dikaitkan dengan pihak Palestina, khususnya Hamas. Sedangkan Israel sering dilabeli dengan istilah seperti 'penjajah', 'teroris', dan 'pembunuh'. Tidak ditemukan penggunaan kata-kata negatif seperti 'serangan' atau 'pembantaian' yang diarahkan pada Palestina dalam berita-berita Indonesia.
Fenomena pelabelan ini sejalan dengan perubahan narasi global terhadap Palestina dan Israel sejak Intifada Kedua, di mana media mulai menggambarkan orang Palestina lebih negatif akibat eskalasi kekerasan yang melibatkan senjata api, sementara Israel lebih sering diposisikan sebagai korban teror.
Konteks Politik dan Peran Media Indonesia
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Wisnu Prasetya Utomo, menyatakan bahwa sikap media Indonesia yang pro-Palestina dapat dipahami karena tidak adanya hubungan dagang atau politik dengan Israel, serta solidaritas agama dan sejarah hubungan antara kedua bangsa. Presiden Indonesia Joko Widodo sendiri secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dalam forum internasional, termasuk PBB.
Wisnu juga mengingatkan media Indonesia agar berhati-hati dalam merujuk sumber berita dari media Barat yang berpotensi membawa bias pro-Israel. Ia menyarankan agar media Indonesia mempertimbangkan sumber dari media Timur Tengah seperti Al Jazeera untuk mendapatkan perspektif berbeda.
Isu Sensasional dan Engagement Pembaca
Selain pemberitaan serius, terdapat juga berita yang mengangkat isu-isu yang kurang relevan dengan inti konflik, seperti fokus pada kecantikan tentara perempuan Israel atau figur publik seperti Gal Gadot. Pendekatan ini dianggap sebagai upaya media untuk meningkatkan keterlibatan pembaca terhadap isu yang secara geografis dan sosial jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Kesimpulan
Analisis pemberitaan media daring Indonesia pada Mei 2021 menunjukkan kecenderungan kuat untuk memihak Palestina dalam peliputan konflik Israel-Palestina, sejalan dengan dukungan politik dan solidaritas sosial yang ada. Meskipun demikian, terdapat variasi dalam tingkat keberpihakan antar media dan sejumlah berita yang bersifat netral atau tidak berhubungan langsung dengan konflik.
Fenomena bias dalam peliputan konflik ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi persoalan global yang dipengaruhi oleh berbagai faktor politik, sosial, dan kepentingan media. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis dari media dan pembaca dalam mengkonsumsi informasi terkait isu yang kompleks dan sensitif ini.