Ancaman penularan virus corona tidak hanya memengaruhi kebiasaan sehari-hari, tetapi juga dapat mengubah respons psikologis manusia dalam berinteraksi. Paparan informasi yang terus-menerus tentang pandemi—melalui surat kabar, radio, televisi, hingga media sosial—telah dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan dan efek langsung pada kesehatan mental. Namun, menurut sejumlah temuan penelitian, rasa ancaman yang berkelanjutan juga dapat memicu perubahan psikologis lain yang berpotensi lebih meresahkan.
Sejumlah respons sosial yang muncul selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa ketakutan terhadap penularan dapat membuat orang lebih konformis, lebih berpikir secara “kesukuan”, dan lebih sulit menerima hal-hal yang dianggap berbeda atau unik. Dalam konteks tertentu, kondisi ini juga disebut dapat memengaruhi cara orang memandang isu sosial, termasuk afiliasi politik. Laporan tentang meningkatnya xenophobia dan rasisme dinilai bisa menjadi salah satu tanda awal dari perubahan tersebut, meski para peneliti menekankan bahwa dampak wabah terhadap pikiran dan perilaku manusia dapat bervariasi pada setiap individu.
Untuk memahami mengapa ancaman penyakit dapat membentuk sikap sosial, sejumlah ilmuwan mengaitkannya dengan mekanisme psikologis yang berakar pada sejarah evolusi manusia. Sebelum hadirnya kedokteran modern, penyakit menular merupakan ancaman besar bagi kelangsungan hidup. Sistem kekebalan tubuh memang memiliki kemampuan untuk melawan patogen, tetapi proses itu mahal secara fisiologis. Demam, misalnya, penting untuk respons imun yang efektif, tetapi dapat meningkatkan konsumsi energi tubuh sekitar 13%—beban yang berat ketika makanan langka.
Mark Schaller dari University of British Columbia menyebut bahwa “menjadi sakit” dan membiarkan sistem kekebalan bekerja merupakan biaya besar bagi tubuh. Karena itu, manusia diduga mengembangkan serangkaian respons psikologis tidak disadari untuk mencegah infeksi sebelum terjadi. Schaller menyebutnya sebagai “sistem kekebalan perilaku”, yakni garis pertahanan awal yang mendorong manusia mengurangi kontak dengan sumber patogen potensial.
Salah satu komponen yang paling mudah dikenali dari sistem ini adalah rasa jijik. Menghindari bau busuk atau makanan yang dianggap najis merupakan cara naluriah untuk menjauh dari potensi penularan. Penelitian juga menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih kuat mengingat hal-hal yang memicu rasa jijik, sehingga dapat membantu menghindari situasi berisiko pada masa depan.
Karena manusia berevolusi sebagai makhluk sosial yang hidup dalam kelompok, sistem kekebalan perilaku juga dapat memodifikasi cara berinteraksi dengan orang lain, termasuk memunculkan semacam jarak sosial naluriah. Namun, respons ini disebut sering bekerja dengan logika “lebih baik aman daripada menyesal”. Lene Aarøe dari Aarhus University menilai akibatnya, respons tersebut bisa salah sasaran dan dipicu oleh informasi yang tidak relevan, sehingga memengaruhi penilaian moral dan opini politik pada isu yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan ancaman penyakit.
Dalam berbagai eksperimen, rasa terancam oleh penyakit dikaitkan dengan meningkatnya kecenderungan untuk mengikuti norma dan konvensi. Schaller, misalnya, meminta peserta menggambarkan pengalaman saat pernah sakit, lalu mengukur kecenderungan mereka untuk menyesuaikan diri. Dalam salah satu tes, mahasiswa diminta menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap usulan perubahan sistem penilaian universitas dengan memasukkan satu sen ke stoples pilihan. Ketika sensitivitas terhadap penyakit meningkat, peserta lebih cenderung mengikuti pilihan yang sudah populer, alih-alih mengambil posisi berbeda.
Dalam pengukuran lain, peserta yang lebih khawatir terhadap penyakit dilaporkan lebih menyukai individu yang “konvensional” atau “tradisional” dan lebih kecil kemungkinan merasa dekat dengan orang yang “kreatif” atau “artistik”. Dalam kuesioner, mereka juga lebih cenderung menyetujui pandangan bahwa pelanggaran norma sosial dapat membawa konsekuensi berbahaya yang tidak diinginkan.
Peneliti di Universitas Hong Kong juga menemukan bahwa gambaran pandemi yang menggugah—misalnya melalui adegan film bertema wabah—dapat membuat orang lebih menghargai konformitas dan kurang menerima eksentrisitas atau pemberontakan. Temuan ini dipandang relevan dengan situasi ketika masyarakat terus-menerus menerima narasi tentang ancaman penularan.
Schaller berargumen bahwa banyak aturan sosial dan ritual dalam sejarah manusia memiliki fungsi mengurangi risiko penyakit, mulai dari cara menyiapkan makanan, batasan kontak sosial, hingga cara membuang limbah. Karena itu, dalam konteks wabah, menjadi lebih menghormati norma dapat dianggap sebagai respons yang secara evolusioner menguntungkan.
Logika yang sama juga digunakan untuk menjelaskan mengapa ketakutan terhadap penularan dapat meningkatkan kewaspadaan moral. Penelitian menunjukkan bahwa saat orang merasa terancam oleh penyakit, mereka cenderung lebih keras dalam menilai pelanggaran loyalitas atau tindakan yang dianggap tidak menghormati otoritas. Meski pelanggaran tersebut tidak selalu terkait langsung dengan penularan, tindakan menentang konvensi dapat dipersepsikan sebagai sinyal bahwa seseorang mungkin juga melanggar aturan lain yang lebih relevan untuk mencegah penyakit.
Bahkan pengingat yang sangat halus disebut dapat memengaruhi sikap. Dalam sebuah penelitian, berdiri di dekat hand sanitizer dikaitkan dengan ekspresi sikap yang lebih konservatif dalam arti penghormatan lebih besar terhadap tradisi dan konvensi. Dalam studi yang sama, pengingat untuk mencuci tangan membuat peserta lebih keras menilai perilaku seksual yang dianggap tidak konvensional.
Selain meningkatkan penilaian terhadap anggota kelompok sendiri, ancaman penyakit juga disebut dapat memperkuat ketidakpercayaan terhadap orang asing. Natsumi Sawada dari McGill University menemukan bahwa dalam profil kencan online maupun pertemuan tatap muka, orang dapat membentuk kesan pertama yang lebih buruk terhadap orang lain ketika merasa rentan terhadap infeksi. Penelitian lain juga mengindikasikan bahwa individu yang dinilai kurang menarik secara konvensional bisa dinilai lebih negatif, diduga karena ciri tertentu disalahartikan sebagai tanda kesehatan yang buruk.
Ketidakpercayaan yang meningkat ini juga dapat memengaruhi sikap terhadap orang dari latar budaya berbeda. Schaller menilai hal itu mungkin berasal dari kekhawatiran bahwa orang luar kelompok tidak mengikuti norma yang dianggap melindungi masyarakat dari infeksi. Dalam konteks modern, mekanisme tersebut dapat berujung pada prasangka, xenophobia, dan penolakan terhadap kelompok tertentu.
Aarøe, misalnya, menemukan bahwa ketakutan terhadap penyakit dapat memengaruhi sikap terhadap imigrasi. Ia menekankan bahwa ini merupakan bagian dari kecenderungan “lebih baik aman daripada menyesal” yang bisa menjadi salah tafsir terhadap isyarat yang tidak relevan, terutama ketika pola pikir yang berevolusi pada masa lalu bertemu dengan realitas multikultural dan keragaman etnis masa kini.
Para peneliti menggarisbawahi bahwa pengaruh sistem kekebalan perilaku tidak sama pada semua orang. Sebagian individu memiliki sensitivitas lebih tinggi, sehingga lebih kuat menghargai norma sosial dan lebih tidak percaya pada orang luar. Dalam situasi ancaman penyakit yang meningkat, kecenderungan ini dapat semakin menguat.
Meski demikian, data kuat mengenai sejauh mana wabah virus corona mengubah cara berpikir masyarakat secara luas disebut masih terbatas. Yoel Inbar dari University of Toronto berpendapat perubahan yang terjadi kemungkinan bersifat moderat di tingkat populasi, bukan pergeseran drastis. Ia mengamati adanya indikasi perubahan sikap sosial selama epidemi Ebola 2014 yang menjadi perhatian internasional. Dalam sampel lebih dari 200.000 orang, sikap negatif terhadap laki-laki gay dan lesbian tampak sedikit meningkat selama wabah, yang ia sebut sebagai semacam “eksperimen alami” ketika publik banyak terpapar ancaman penyakit.
Dalam konteks politik, muncul pertanyaan apakah ancaman penyakit dapat memengaruhi preferensi terhadap kandidat atau respons terhadap kebijakan tertentu. Schaller memperkirakan hal itu mungkin memainkan peran kecil, meski ia meragukan dampaknya menjadi faktor utama. Ia menilai efek yang lebih besar justru dapat datang dari persepsi publik mengenai seberapa baik pejabat pemerintah merespons situasi.
Terlepas dari apakah perubahan psikologis ini berpengaruh pada hasil politik skala besar, para peneliti menilai penting untuk menyadari bagaimana ancaman Covid-19 dapat membentuk reaksi pribadi. Ketika seseorang mengekspresikan pendapat yang konformis, menilai perilaku orang lain, atau menimbang kebijakan penahanan, ada kemungkinan keputusan itu tidak sepenuhnya lahir dari penalaran rasional, melainkan turut dipengaruhi respons kuno yang berevolusi jauh sebelum manusia memahami teori kuman.

