Pakar Psikologi Politik UI Ingatkan Dikotomi “Partai Tuhan” dan “Partai Setan” Berisiko Picu Radikalisme

Pakar Psikologi Politik UI Ingatkan Dikotomi “Partai Tuhan” dan “Partai Setan” Berisiko Picu Radikalisme

Pernyataan mantan Ketua MPR Amien Rais yang membagi partai politik ke dalam kategori “partai Allah” dan “partai setan” menuai kritik dari berbagai pihak. Salah satu kritik datang dari pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, yang menilai dikotomi tersebut berpotensi memicu radikalisme di tingkat akar rumput.

Hamdi mengatakan penggunaan narasi yang membawa-bawa Tuhan dan setan dalam politik dapat mendorong masyarakat meninggalkan cara berpolitik yang rasional. Ia menilai hal itu tidak perlu dilakukan karena berisiko membentuk pola pikir yang tidak sehat dalam kehidupan politik ke depan.

Menurut Hamdi, pernyataan semacam itu juga dapat ditiru masyarakat ketika menyampaikan dukungan kepada kelompok tertentu, sehingga berpotensi memancing konflik antarkelompok di tengah publik.

Karena itu, ia mendorong partai-partai politik beserta kadernya untuk berkompetisi melalui adu program, visi dan misi, ideologi, serta pencapaian yang nyata dalam merebut dukungan pemilih, bukan dengan menggunakan sentimen agama.

Di luar kritik yang muncul, pernyataan tersebut juga berujung pada langkah hukum. Sebuah lembaga bernama Cyber Indonesia dilaporkan melayangkan tuntutan hukum karena menilai pernyataan “partai Allah” dan “partai setan” bersifat provokatif.