Politisi Lansia Maju Pemilu: Sejauh Mana Usia Mempengaruhi Kemampuan Memimpin?

Politisi Lansia Maju Pemilu: Sejauh Mana Usia Mempengaruhi Kemampuan Memimpin?

Pertanyaan tentang pada usia berapa seseorang dianggap “terlalu tua” untuk memimpin kembali mengemuka seiring banyaknya kandidat dan pejabat berusia lanjut yang tetap aktif dalam politik. Di Indonesia, Wakil Presiden Ma’ruf Amin kini berusia 80 tahun, sementara Prabowo Subianto kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada usia 71 tahun. Di Amerika Serikat, Presiden Joe Biden maju lagi sebagai petahana pada usia 80 tahun, dengan Donald Trump yang berpotensi menjadi pesaing berusia 77 tahun. Di ranah yudisial, Pauline Newman yang berusia 96 tahun masih menjabat sebagai hakim federal AS, meski sedang menghadapi tuntutan hukum dari rekan-rekannya yang menginginkan ia pensiun.

Namun, ilmu saraf dan psikologi menunjukkan bahwa penuaan tidak berdampak seragam pada setiap orang. Kinerja kognitif dapat sangat bervariasi seiring bertambahnya usia, sehingga sulit menetapkan batas tegas mengenai kapan seseorang tidak lagi layak memimpin. Sejumlah kemampuan memang cenderung menurun, tetapi ada pula keterampilan yang dapat meningkat. Bahkan, sebagian lansia yang disebut super agers dilaporkan memiliki ketajaman mental setara orang yang jauh lebih muda.

Dari sisi biologis, volume otak manusia berkurang seiring waktu. Pada orang sehat, korteks prefrontal merupakan wilayah yang mengalami kehilangan volume paling besar akibat usia, sekitar 5% per dekade. Bagian otak ini berperan penting dalam fungsi eksekutif—serangkaian proses mental kompleks yang terkait dengan pemecahan masalah, penetapan tujuan, dan pengendalian impuls. Fungsi eksekutif disebut menurun bertahap sejak usia 30-an, lalu penurunannya lebih cepat saat memasuki usia 70-an.

Selain itu, penyakit white matter—kelompok kondisi akibat kerusakan materi putih di otak—juga dapat berkontribusi pada disfungsi eksekutif dan memengaruhi sekitar sepertiga orang berusia 65 tahun ke atas. Disfungsi eksekutif dapat tampak dalam berkurangnya kontrol impuls serta meningkatnya pengulangan pikiran dan perilaku. Mark Fisher, yang memimpin Pusat Neuropolitik di Universitas California, Irvine, menilai usia 65 tahun sebagai ambang yang “wajar” untuk mulai mempertimbangkan perubahan terkait penuaan, sekaligus menekankan bahwa perubahan struktural otak dan penurunan kecepatan pemrosesan mental dapat makin menonjol pada rentang usia ini.

Meski demikian, Fisher menilai angka rata-rata sering mengaburkan kenyataan bahwa terdapat “variabilitas individu yang luar biasa” dalam fungsi eksekutif. Menurutnya, serangkaian pengujian dapat menjadi cara terbaik untuk menilai fungsi eksekutif secara formal, tetapi hasilnya tetap akan menunjukkan variasi yang lebar antarinvidu.

Salah satu faktor pembeda yang penting adalah penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan hipertensi. Kondisi-kondisi ini dapat memengaruhi fungsi otak, terutama fungsi eksekutif. Fisher menyebut hipertensi, selain penuaan itu sendiri, sebagai faktor yang sangat penting dan berdampak pada penuaan otak serta fungsi eksekutif. Karena itu, diagnosis dini dan pengobatan hipertensi dipandang sebagai intervensi penting untuk melindungi kesehatan otak, dengan catatan bahwa pengetahuan dan pengobatan di area ini terus berkembang.

Otak juga memiliki kemampuan kompensasi: bagian tertentu dapat membantu menutupi kerusakan terkait usia di bagian lain. Namun, menurut Mark Mapstone, ahli saraf translasi di University of California, Irvine, ada kelompok yang mengalami kegagalan kompensasi tersebut, seperti pada penyakit Alzheimer.

Di sisi lain, penuaan tidak selalu identik dengan penurunan menyeluruh. Mapstone menjelaskan bahwa meski kemampuan menerima informasi baru dapat menurun, kemampuan untuk mengarahkan dan bertindak berdasarkan informasi dapat meningkat hingga usia 70-an. Karena itu, seseorang yang lebih tua mungkin memproses informasi baru lebih lambat dibanding yang lebih muda, tetapi bisa lebih baik dalam menyintesisnya. Ia juga menyebut bahwa orang berusia 60 tahun umumnya memiliki kosakata lebih baik dibanding orang berusia 20 tahun; sebuah penelitian bahkan menemukan skor kosakata meningkat hingga pertengahan usia 60-an.

Rose McDermott, pakar psikologi politik di Brown University, menyebut peningkatan ini berkaitan dengan “kecerdasan terkristalisasi”, yakni skema dan cara berpikir yang lebih mapan sehingga seseorang dapat mengintegrasikan informasi baru ke dalam struktur yang sudah ada, bahkan secara kreatif.

Kelompok super agers menjadi contoh ekstrem dari variasi tersebut. Mereka adalah orang berusia 80 tahun ke atas dengan kesehatan kognitif yang disebut setara dua hingga tiga dekade lebih muda. Mereka dilaporkan memiliki neuron yang lebih besar dan lebih sehat di korteks entorhinal, wilayah yang penting untuk memori, sehingga performa tes memori mereka lebih baik daripada rekan sebayanya. Aktivitas fisik, stimulasi mental, dan hubungan sosial disebut penting untuk menjaga jaringan dan fungsi otak—dan kehidupan politik, setidaknya, menawarkan tantangan mental serta interaksi sosial. Para pemimpin juga kerap memiliki hak istimewa seperti keamanan finansial dan akses layanan kesehatan yang baik. Sejumlah ilmuwan bahkan menganggap pemimpin seperti Biden sebagai super agers.

Namun, penuaan juga dapat menghadirkan tantangan khusus dalam konteks kepemimpinan. Barbara Sahakian, profesor neuropsikologi klinis di Universitas Cambridge, menekankan pentingnya fleksibilitas kognitif bagi pemimpin politik untuk membuat keputusan berkualitas dalam situasi penuh ketidakpastian dan risiko, sering kali dalam tekanan waktu. Fleksibilitas kognitif ini, menurutnya, biasanya berkurang seiring bertambahnya usia.

Fisher dan rekan-rekannya juga melaporkan temuan studi pada pensiunan di California Selatan dengan usia rata-rata 95 tahun. Dalam periode enam bulan, ideologi politik secara umum tetap konsisten, tetapi pada mereka yang mengalami gangguan kognitif ditemukan ketidakkonsistenan antara orientasi politik dan pilihan kebijakan. Fisher menilai hal itu sebagai konsekuensi gangguan kognitif, ketika perilaku politik seseorang menjadi kurang selaras dengan kebijakan yang mereka tetapkan. Meski demikian, bidang “neuropolitik”—gabungan ilmu saraf dan ilmu politik—juga menuai kritik, termasuk dari sebagian pakar disabilitas yang menilai penjelasan biologis atas perilaku politik dapat terlalu menyederhanakan persoalan.

Dalam konteks kekhawatiran publik terhadap dampak penuaan, Fisher dan sejumlah koleganya dari berbagai disiplin menyerukan pemeriksaan kognitif bagi politisi, yang tidak selalu bergantung pada usia. Ia menyamakan gagasan ini dengan pengungkapan keuangan yang lazim diharapkan dari politisi. Mapstone menjelaskan bahwa fungsi kognitif terutama dinilai melalui evaluasi neuropsikologis, berupa serangkaian tes standar yang dapat sangat rinci dan berlangsung selama beberapa hari.

Manijeh Berenji, spesialis kedokteran okupasi dan anggota fakultas klinis di UC Irvine, menilai penilaian terhadap politisi semacam itu dapat dilakukan dan bersifat adil. Namun, gagasan ini tetap kontroversial dan mudah dipolitisasi. Kandidat presiden dari Partai Republik, Nikki Haley, misalnya, mendorong agar politisi berusia di atas 75 tahun menjalani tes kompetensi mental, tetapi pendekatan ini dikritik karena dianggap kuno dan sulit diterapkan.

Hans Förstl, profesor psikiatri emeritus di Universitas Teknik Munich, meragukan kemampuan tes untuk menangkap kompleksitas tuntutan kepala negara. Menurutnya, kinerja kognitif dalam rutinitas dan tantangan sehari-hari lebih menentukan dibanding performa dalam tes. Ia menilai tidak ada tes yang mampu mengukur secara memadai perpaduan kebugaran, kecerdasan, pengalaman, dan kebijaksanaan yang dituntut dari seorang pemimpin nasional.

McDermott juga menilai bahwa meskipun tes tersebut terdengar masuk akal, penerapannya di AS sulit secara politik. Ia mempertanyakan apakah publik akan mempercayai hasil tes, bahkan jika seorang kandidat dinyatakan lolos, mengingat polarisasi keyakinan politik.

Perdebatan mengenai kandidat lansia juga memunculkan isu lain: sebagian komentator melihatnya sebagai kesempatan untuk menyoroti “toxic ageism” dan kebutuhan mendukung pekerja lanjut usia secara umum. Sejumlah ahli berpendapat banyak orang kemungkinan harus bekerja lebih lama di masa depan, meski pandangan ini tidak disepakati semua pihak.

Di sisi pemilih, kekhawatiran mengenai usia tetap kuat. Jajak pendapat Associated Press dan Norc Center for Public Affairs menemukan mayoritas pemilih memandang usia Joe Biden sebagai kekhawatiran signifikan. Survei CBS dan YouGov juga menunjukkan mayoritas responden menilai jabatan presiden akan “terlalu menuntut” bagi seseorang yang berusia di atas 75 tahun—pandangan yang, jika dijadikan patokan, akan menyingkirkan Biden dan Trump.

Pada akhirnya, temuan ilmiah yang ada menggambarkan penuaan sebagai proses yang kompleks: ada penurunan pada sejumlah aspek, ada pula peningkatan pada aspek lain, dengan perbedaan besar antarinvidu. Di tengah meningkatnya jumlah politisi lansia yang tetap bertarung dalam pemilu, perdebatan publik pun bergeser dari sekadar soal angka usia menuju pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana menilai kapasitas memimpin secara adil, akurat, dan dapat dipercaya.