Asia Pulp and Paper (APP) Group menyatakan memperkuat komitmen keberlanjutan dengan mengedepankan transparansi sebagai dasar pertanggungjawaban lingkungan, seiring meningkatnya perhatian global terhadap isu deforestasi dan pengelolaan sumber daya alam.
Perusahaan menyebut telah menerapkan Sistem Pelacakan Produk untuk memastikan produk yang dipasarkan tidak berasal dari lahan yang mengalami deforestasi atau degradasi. Sistem tersebut diklaim memuat data rinci, termasuk koordinat geografis sumber bahan baku, guna memastikan transparansi dan akuntabilitas di seluruh rantai pasok serta mendukung pemenuhan berbagai regulasi nasional dan internasional.
APP menilai kepatuhan tidak semata mengikuti aturan, melainkan bagian dari visi jangka panjang pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Di saat yang sama, perusahaan menyoroti perubahan perilaku konsumen global yang disebut semakin memilih merek dengan prioritas keberlanjutan, sehingga mendorong tuntutan akuntabilitas yang lebih tinggi di industri.
Dalam penjelasannya, APP menyatakan sistem pelacakan itu dirancang agar pelanggan dapat mengetahui asal-usul produk secara lebih terbuka. Sistem memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) dan blockchain untuk memungkinkan pelacakan perjalanan produk dari sumber bahan baku hingga menjadi produk akhir.
Teknologi GIS digunakan untuk pemetaan dan pemantauan sumber bahan baku, termasuk membedakan antara hutan industri dan hutan alami sebagai bagian dari praktik pengadaan yang berkelanjutan. Sementara itu, teknologi blockchain diklaim menjaga keamanan data, transparansi, serta ketidakubahannya sehingga informasi dapat diverifikasi oleh pelanggan dan pemangku kepentingan.
APP menyebut pelanggan dapat melacak perjalanan produk melalui Nomor Nota Pengiriman pada platform khusus perusahaan. APP juga mengklaim 100% pasokan kayu dan pulp dapat dilacak hingga tingkat perkebunan.
Selain sistem pelacakan, APP menyampaikan sejumlah langkah keberlanjutan, termasuk klaim bahwa 100% seratnya bersertifikat PEFC, yang berarti bahan baku berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan dan tersertifikasi Program Pengakuan Sertifikasi Hutan (PEFC). Perusahaan juga menyatakan bekerja sama dengan pemasok agar memenuhi kriteria keberlanjutan dengan hanya memperoleh bahan baku dari hutan industri.
APP turut menyebut kepatuhan terhadap Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/FCP) sejak 1 Februari 2013. Dalam kebijakan tersebut, perusahaan menyatakan tidak ada pengembangan di lahan hutan yang diidentifikasi melalui penilaian independen Nilai Konservasi Tinggi (HCV) dan Cadangan Karbon Tinggi (HCS).
Menurut APP, integrasi pemetaan GIS dan blockchain ditujukan untuk menetapkan standar baru transparansi dan tanggung jawab lingkungan, dengan fitur seperti pelacakan data bahan baku, pemantauan geospasial, dan pelacakan end-to-end. Perusahaan menyatakan sistem ini diterapkan untuk berbagai produk, mulai dari notebook, kertas fotokopi, tisu, hingga cangkir kertas.
APP juga menyebut sistem tersebut bersifat skalabel dan berpotensi diterapkan di industri lain, termasuk pertanian, sebagai solusi pengadaan yang bertanggung jawab. Dengan pendekatan transparansi, inovasi, dan kolaborasi, perusahaan menyatakan targetnya tidak hanya memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga berkontribusi pada upaya global memerangi deforestasi dan melindungi ekosistem.

