AS Klaim Ada Kemajuan Dialog, Iran Membantah: Negosiasi atau Perang Narasi?

AS Klaim Ada Kemajuan Dialog, Iran Membantah: Negosiasi atau Perang Narasi?

Kontradiksi pernyataan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pejabat Iran memunculkan pertanyaan: apakah benar ada negosiasi yang berjalan, atau kedua pihak sedang bertarung dalam perang narasi. Sorotan ini antara lain muncul dari analisis yang menilai perbedaan perhitungan politik Washington dan Teheran semakin terlihat di ruang publik.

Trump berulang kali menyampaikan optimisme mengenai kemajuan pembicaraan untuk mengakhiri perang. Pada Senin lalu, ia mengatakan AS dan Iran sedang melakukan “diskusi yang baik” dan menyebut Iran “ingin perdamaian.” Namun, penilaian sejumlah pengamat menyebut dorongan Trump tidak semata meredakan ketegangan militer, melainkan juga terkait risiko politik di dalam negeri. Kekhawatiran itu mencakup potensi reaksi publik yang dapat memukul Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November, terlebih ketika konflik berada di wilayah yang menjadi titik kritis pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga bensin.

Dalam konteks itu, strategi Trump yang terus menekankan adanya negosiasi dinilai bertujuan menaikkan harapan bahwa perang akan segera berakhir. Dampaknya disebut tercermin pada penurunan harga minyak dunia lebih dari 10 persen dan kondisi pasar yang relatif lebih tenang. Sejumlah analis menilai Trump kemungkinan sedang membeli waktu untuk kepentingan politik dan militer sambil menunggu pengiriman peralatan militer tambahan ke wilayah konflik.

Di sisi lain, Teheran mengambil pendekatan berlawanan dengan menolak mengakui adanya komunikasi resmi. Sikap ini dinilai sebagai upaya mempermalukan Trump di depan publik sekaligus menjaga harga minyak tetap tinggi sebagai alat tawar. Meski demikian, laporan-laporan tersebut menyebut komunikasi setidaknya tetap berlangsung melalui saluran tidak langsung, sehingga muncul pertanyaan mengapa Iran enggan mengakuinya secara terbuka.

Di tengah tarik-menarik narasi, ruang diplomasi juga dinilai sempit. Upaya mediasi disebut melibatkan sejumlah pihak, termasuk mediator dari Turki, Mesir, dan Pakistan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan tidak ada niat untuk bernegosiasi, meski mediator Arab disebut meyakini Iran lebih terbuka dalam pertemuan tertutup.

Kesenjangan tuntutan kedua pihak tetap lebar. Iran menuntut kompensasi atas kerugian perang dan penutupan basis militer AS di wilayahnya. Selain itu, Iran ingin mengenakan biaya pada pengiriman internasional sebagai imbalan atas hak melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, AS menuntut Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, menjamin kebebasan navigasi, serta membatasi program rudal dan milisi regional.

Mantan Direktur urusan Timur Tengah di Dewan Keamanan Nasional AS, Michael Singh, menilai salah satu kemungkinan jalan keluar adalah gencatan senjata sementara sebelum negosiasi lanjutan membahas agenda yang lebih luas. Namun ia memperingatkan, upaya memaksakan tercapainya semua tujuan sejak awal berisiko menggagalkan peluang perdamaian. Mantan Duta Besar AS untuk Israel, Daniel Shapiro, juga menilai perang kerap berakhir secara kacau, dan rasa sakit akibat konflik dapat mendorong kedua pihak menerima “penyelesaian parsial yang samar” untuk menghentikan pertempuran tanpa menyelesaikan isu utama.

Dari perspektif pengamat di Washington, Trump disebut mulai kehilangan kendali narasi, sementara Iran dinilai berhasil memegang inisiatif di ruang publik. Iran menuduh AS “bernegosiasi dengan diri sendiri” dan menertawakan interpretasi posisi Amerika yang dinilai terus berubah. Juru bicara militer Iran, Ibrahim Zolfaghari, menyatakan secara sinis bahwa pihaknya tidak akan pernah setuju dengan AS. Tokoh politik Iran lainnya, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga membantah adanya negosiasi dan memperingatkan AS agar tidak “menguji tekad” Iran untuk membela wilayahnya.

Penolakan Iran juga disorot terkait “rencana perdamaian 15 poin” yang disebut diajukan AS melalui Pakistan. Rencana itu ditolak keras, bukan hanya karena substansinya, tetapi juga karena identitas mediator yang terlibat, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang oleh Iran disebut sebagai “pengkhianat” terkait operasi militer sebelumnya terhadap fasilitas nuklirnya.

Kontradiksi lain muncul dalam klaim militer Trump. Ia mempromosikan rencana untuk “memusnahkan kemampuan nuklir Iran sepenuhnya,” namun rencana yang disebutkan hanya menarget fasilitas Natanz, Isfahan, dan Fordo. Ini dinilai menunjukkan fasilitas tersebut masih aktif dan tetap dipandang sebagai ancaman.

Secara keseluruhan, situasi menggambarkan dilema yang memadukan kepentingan politik, militer, dan pertarungan persepsi. Trump berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan misi dan menekan ancaman Iran, sementara Iran dinilai masih memiliki kemampuan memengaruhi ekonomi global dan melontarkan ancaman balasan. Dalam salah satu contoh pesan simbolik, disebut beredar video propaganda Iran yang menampilkan versi AI dari almarhum Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menyaksikan roket menghantam Patung Liberty dengan slogan “Satu Balas untuk Semua,” yang dibaca sebagai sinyal bahwa Iran tidak akan membiarkan AS mengontrol akhir konflik maupun narasi penutupnya.