Cek Fakta: Klaim Netanyahu Tewas dalam Serangan Iran Tidak Terbukti, PM Israel Justru Muncul Beri Pernyataan

Cek Fakta: Klaim Netanyahu Tewas dalam Serangan Iran Tidak Terbukti, PM Israel Justru Muncul Beri Pernyataan

Kabar yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tewas dalam serangan Iran tidak didukung bukti dari sumber resmi. Berdasarkan penelusuran, tidak ada pernyataan dari otoritas Israel, pemerintah Iran, maupun lembaga pemberitaan internasional yang membenarkan klaim tersebut sejak serangan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Di sisi lain, Netanyahu justru muncul menyampaikan pernyataan terbuka. Mengutip Al Jazeera, ia mengatakan serangan terhadap Teheran akan meningkat dalam beberapa hari mendatang dengan dukungan Amerika Serikat. Netanyahu juga menyebut serangan terhadap Teheran sebagai tujuan yang telah lama diimpikan sejak sekitar 40 tahun lalu.

Dalam pernyataan video, Netanyahu menegaskan Iran tidak boleh dibiarkan memperoleh senjata nuklir dan mendesak warga Israel untuk bersatu setelah Israel dan AS melancarkan serangan. “Rezim teroris yang kejam ini tidak boleh diizinkan untuk mempersenjatai diri dengan senjata nuklir yang akan memungkinkannya mengancam seluruh umat manusia,” kata Netanyahu. Ia menambahkan, “Bersama-sama kita akan berdiri, bersama-sama kita akan berjuang, dan bersama-sama kita akan memastikan keabadian Israel.”

Sementara itu, BBC melaporkan Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, tewas dalam gelombang pertama serangan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/3/2026). Kabar tewasnya Khamenei disebut diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Minggu (1/3/2026) dini hari.

Selain Khamenei, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi puluhan tokoh politik senior Iran dan pemimpin berpengaruh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) turut tewas dalam serangan gelombang pertama. Disebutkan, Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani, Menteri Pertahanan Brigjen Aziz Nasirzadeh, serta komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour termasuk di antara yang tewas. IRGC kemudian menunjuk Ahmad Vahidi sebagai panglima tertinggi baru.

Hingga Senin (2/3/2026), Bulan Sabit Merah Iran mencatat sedikitnya 555 orang tewas di 130 lokasi akibat agresi militer Tel Aviv dan Washington. Laporan yang sama menyebut lebih dari 150 orang, termasuk anak-anak, tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan yang berada tidak jauh dari pangkalan IRGC.

Di tengah eskalasi tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan serangan AS dan Israel terhadap Iran telah merusak perdamaian dunia. Pelapor Khusus PBB Balakrishnan Rajagopal, dikutip Anadolu Agency, menyampaikan penyesalannya atas serangan tersebut serta keterlibatan negara-negara yang menyetujui atau memilih diam. “Begitu banyak orang yang tidak bersalah akan mati dan rumah-rumah orang akan hancur karena hal ini. Saat ini, AS dan Israel sedang menghancurkan perdamaian dan ketertiban dunia,” ujarnya pada Sabtu (28/2/2026).