Ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat (AS)–Israel yang kian meningkat memunculkan pertanyaan di berbagai ibu kota dunia: apakah China akan datang membantu Iran, dan seperti apa bentuk dukungan tersebut.
Menurut ulasan Nelson Wong, China kecil kemungkinan terlibat langsung lewat pengerahan pasukan atau ikut bertempur. Namun, ketidakhadiran Beijing di medan perang tidak serta-merta berarti sikap pasif. Dukungan China terhadap Iran digambarkan hadir dalam lapisan diplomatik, institusional, militer terbatas, dan terutama ekonomi—dengan pendekatan yang berbeda dari pola aliansi militer tradisional.
Di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), China disebut konsisten menggunakan pengaruhnya, termasuk hak veto, dengan menekankan prinsip Piagam PBB dan hukum internasional. Dalam pertemuan darurat bulan lalu, Duta Besar China Sun Lei menyampaikan pernyataan yang menolak penggunaan kekuatan. “Penggunaan kekuatan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Justru akan membuatnya lebih kompleks dan tak teratasi. Segala aksi militer hanya akan mendorong kawasan ini ke jurang yang tidak bisa diprediksi,” kata Sun Lei, sebagaimana dikutip dalam tulisan tersebut.
Beijing juga menyatakan dukungan terhadap “perlindungan kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran,” serta menolak “ancaman atau penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.” Dalam kerangka ini, China dinilai memberi Iran dukungan berupa legitimasi dan narasi tandingan terhadap tekanan Barat di panggung internasional.
Di tingkat penjajaran strategis, posisi Iran berubah setelah diterima sebagai anggota penuh Shanghai Cooperation Organisation (SCO) pada 2021, lalu bergabung dalam BRICS. Meski bukan pakta militer, kedua forum itu disebut membangun mekanisme konsultasi dan koordinasi yang lebih permanen. Tahun lalu, diplomat China, Rusia, dan Iran bertemu di Beijing dan sepakat “memperkuat koordinasi” di organisasi internasional seperti BRICS dan SCO. Dalam pandangan penulis, hal ini membuat isu keamanan Iran secara implisit menjadi perhatian bagi kekuatan-kekuatan yang diposisikan sebagai penyeimbang hegemoni AS.
Di sisi militer, kerja sama disebut terlihat namun tetap dibatasi. Awal bulan ini, Rusia, China, dan Iran menggelar latihan keamanan bersama di Selat Hormuz, jalur strategis penting. Seorang pejabat presiden Rusia mengaitkan latihan tersebut dengan upaya membangun “tatanan dunia multipolar di lautan” sebagai penyeimbang hegemoni Barat.
Tulisan itu juga menyinggung laporan Middle East Eye tahun lalu yang menyebut Iran menerima baterai rudal permukaan-ke-udara buatan China untuk memperkuat kembali pertahanan udaranya, dalam skema kesepakatan minyak-dengan-senjata yang disebut memungkinkan Teheran menghindari sanksi AS. Selain itu, ada pula laporan mengenai kemungkinan Iran menerima jet tempur J-20, pesawat J-10C, dan sistem pertahanan udara HQ-9, meski disebut belum ada konfirmasi resmi.
Simbol kerja sama pertahanan juga disorot. Dalam perayaan Hari Angkatan Udara Iran bulan ini, seorang atase militer China memberikan model pesawat tempur siluman J-20 kepada komandan Angkatan Udara Iran. Gestur tersebut ditafsirkan luas sebagai sinyal babak baru dalam keterlibatan pertahanan kedua negara, meski tidak disertai pengumuman resmi terkait transfer persenjataan.
Namun, dukungan paling menentukan disebut berada pada ranah ekonomi, terutama energi. China digambarkan tetap menjadi mitra energi utama Iran di tengah sanksi dan tekanan AS, dengan sekitar 90% ekspor minyak Iran disebut mengarah ke China.
AS, menurut tulisan itu, telah merespons dengan sanksi. Tahun lalu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap sebuah kilang di Provinsi Shandong yang dituding membeli minyak Iran senilai lebih dari 1 miliar dolar AS. Pemerintahan Trump disebut berjanji “menghentikan ekspor minyak ilegal Iran, termasuk ke China.” Kedutaan Besar China di Washington mengecam langkah tersebut, menyebutnya “merusak tatanan dan aturan perdagangan internasional” serta “melanggar hak dan kepentingan sah perusahaan China.”
Meski demikian, hubungan ekonomi kedua negara juga disebut menghadapi hambatan, misalnya ketika kilang negara China menghentikan pembelian untuk mengurangi risiko finansial akibat tekanan AS. Kendati begitu, tren besarnya dinilai tetap menunjukkan bahwa China menyediakan “oksigen ekonomi” yang membantu Iran bertahan di bawah tekanan eksternal.
Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan apakah China akan “menyelamatkan” Iran bergantung pada definisi bantuan. Jika yang dimaksud adalah pengerahan pasukan dan kapal perang, tulisan tersebut menyimpulkan jawabannya tidak. Tetapi jika bantuan berarti memastikan Iran mampu bertahan, menahan tekanan, dan bernegosiasi dari posisi yang lebih kuat, maka dukungan itu dinilai ada—dalam bentuk yang lebih senyap, konsisten, dan strategis.

