Tingkat polusi udara yang tinggi di Jakarta dinilai berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Dampaknya tidak hanya terkait gangguan saluran pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, kesehatan pencernaan, penyakit mata dan kulit, menyerang organ lain, hingga berujung pada kematian.
Untuk meningkatkan pemahaman publik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Unit Continuing Medical Education (CME) FKUI menggelar webinar bertajuk “Tinjauan Guru Besar FKUI: Dampak Polusi Udara pada Kesehatan” pada 24 Agustus 2023. Webinar ini menghadirkan sejumlah guru besar FKUI, yakni Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR; Prof. dr. Bambang Supriyatno, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., M.M.B; serta Prof. dr. Muchtaruddin Mansyur, MS, PKK, PGDRM, Sp.OK, Ph.D. Acara dimoderatori Ketua CME FKUI Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, Sp.A(K).
Dalam presentasi berjudul “Dampak Kualitas Udara Buruk Pada Sistem Pernapasan”, Prof. Agus yang juga Direktur Utama RSUP Persahabatan menjelaskan cara sederhana mengenali kualitas udara melalui “visual index”. Menurutnya, kualitas udara dapat diperkirakan dari jarak pandang: baik bila jarak pandang mencapai 15 km, sedang 10–14 km, tidak sehat untuk kelompok sensitif 4–9 km, tidak sehat 2,5–4 km, sangat tidak sehat 1,5–2,4 km, dan berbahaya bila kurang dari 1,4 km.
Prof. Agus juga menekankan bahwa paparan polusi udara sebanding dengan asap rokok karena mengandung zat berbahaya yang sama. Ia menyebut empat kelompok yang paling berisiko, yakni ibu hamil, anak-anak, orang tua, dan pekerja luar ruangan. Efek jangka pendek kualitas udara buruk meliputi iritasi mukosa, ISPA, pneumonia, peningkatan serangan asma, PPOK, serta meningkatnya kunjungan ke IGD dan kebutuhan perawatan. Sementara efek jangka panjangnya antara lain penurunan fungsi paru, asma, PPOK, risiko TBC, dan kanker paru.
Topik dampak pada anak disampaikan Prof. Bambang Supriyatno melalui paparan “Waspada Penyakit Pernapasan Akibat Polusi Udara pada Anak”. Ia mengingatkan anak termasuk kelompok rentan. Dampak jangka pendek pada anak dapat berupa ISPA atas, ISPA bawah (pneumonia), tuberkulosis, dan asma. Adapun dampak jangka panjang mencakup penurunan uji fungsi paru, intrauterine growth restriction, gangguan fungsi jantung, prematuritas, dan bronchopulmonary dysplasia. Prof. Bambang menambahkan, paparan udara kotor yang terus-menerus pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan kecil.
Dampak polusi terhadap organ selain paru-paru dibahas Dekan FKUI Prof. Ari Fahrial Syam dalam topik “Dampak Polusi Udara pada Kesehatan Gastrointestinal”. Ia menjelaskan polusi udara dapat berdampak pada multiorgan, termasuk saluran cerna. Menurutnya, dari berbagai polutan di udara, partikulat merupakan zat yang dapat mencapai saluran cerna, baik melalui udara yang dihirup maupun tertelan. Ia menyebut makanan yang dikonsumsi juga dapat terkontaminasi polutan, sehingga memengaruhi mukosa epitel saluran cerna.
Prof. Ari menambahkan, konsumsi makanan yang terkontaminasi polusi dapat menjadi racun di dalam tubuh. Ia juga menyampaikan bahwa jika kuman baik di dalam tubuh mati akibat polutan yang dikonsumsi, kondisi tersebut dapat memicu penyakit seperti diabetes, obesitas, gangguan metabolik, dan inflammatory bowel disease (IBD). Selain itu, integritas mukosa usus dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko IBD, yaitu peradangan usus kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Gejala IBD antara lain diare kronik, nyeri perut, buang air besar berdarah, lemas, dan penurunan berat badan. Dalam situasi polusi udara, Prof. Ari mengingatkan pentingnya menjaga gaya hidup sehat, tidak merokok, istirahat cukup, serta menjaga keseimbangan sistem saluran cerna dengan menghindari makanan berlemak, rajin mengonsumsi sayur dan buah, serta probiotik.
Upaya pencegahan umum disampaikan Prof. Muchtaruddin Mansyur melalui topik “Menjaga Kesehatan di Tengah Polusi Udara Ibukota”. Ia menyarankan, ketika polusi berada pada tingkat sedang, masyarakat perlu mengamati gejala yang dialami dan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan. Bila sudah berada pada tingkat sangat tidak sehat dan berbahaya, ia menyarankan menghindari seluruh aktivitas di luar, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita penyakit kronik dan lansia. Ia juga menekankan perlunya perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, menjaga gizi seimbang dengan pedoman “Isi Piringku”, tetap beraktivitas fisik yang cukup, dan tidak merokok.
Perlindungan bagi anak sekolah, menurut Prof. Muchtar, dapat dilakukan melalui sistem ventilasi yang baik di ruang kelas, pemantauan kualitas udara luar ruangan disertai pembatasan aktivitas di luar, serta penetapan rute berjalan kaki dan bersepeda yang lebih aman menuju sekolah untuk meminimalkan pajanan dari jalan sibuk dan area lalu lintas padat.
Para narasumber juga sepakat menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat berada di luar ruangan. Jenis masker N95 atau N99 disebut dapat membantu filtrasi partikel halus. Namun, bila pengguna merasa sesak atau tidak nyaman, masker medis dapat digunakan dengan tingkat filtrasi sekitar 50%.

