Profesi guru kerap menjadi sasaran hoaks yang beredar di media sosial. Informasi menyesatkan itu muncul dalam beragam bentuk, mulai dari klaim terkait kesejahteraan hingga status kepegawaian. Situasi tersebut dapat memicu keresahan dan kebingungan di kalangan pendidik.
Dampak hoaks tidak berhenti pada kesalahan informasi. Sejumlah modus berpotensi menimbulkan kerugian finansial, membuka peluang penyalahgunaan data pribadi, hingga merusak reputasi individu maupun institusi.
Karena itu, guru dan masyarakat diimbau tetap waspada serta memverifikasi setiap informasi yang diterima sebelum membagikannya. Memahami pola dan jenis hoaks yang kerap menyasar tenaga pendidik dinilai menjadi langkah awal untuk mencegah penyebaran informasi palsu.
Berikut rangkuman sejumlah klaim yang menargetkan guru dan sempat ditelusuri dalam rubrik cek fakta.
1) Klaim link pendaftaran bantuan insentif guru ASN dan honorer
Salah satu unggahan Facebook pada 14 April 2026 memuat klaim adanya link pendaftaran bantuan insentif untuk guru ASN dan guru honorer. Unggahan tersebut menyebut bantuan sebesar Rp 2.100.000 dicairkan serentak di seluruh Indonesia dan mengajak pengguna mendaftar melalui “link resmi”.
Postingan itu disertai poster bertuliskan “Bantuan Insentif” dan tombol/menu pendaftaran. Saat tombol diklik, pengguna diarahkan ke halaman situs yang menampilkan formulir digital dan meminta data pribadi, termasuk nomor Telegram.
2) Klaim guru ASN membayar iuran BPJS 26 kali dalam setahun
Klaim lain beredar melalui video reels di Facebook pada 31 Januari 2026. Dalam video tersebut tertulis bahwa ASN guru membayar iuran BPJS 26 kali dalam setahun, dengan rincian potongan dari gaji bulanan 12 kali, dari TPG 12 kali, serta dari THR 2 kali.
Unggahan itu juga disertai keterangan yang menekankan narasi potongan BPJS untuk ASN guru sebanyak 26 kali dalam setahun.
3) Klaim link pendaftaran bantuan insentif untuk semua guru pada 2026
Unggahan Facebook lain pada 20 Januari 2026 menampilkan klaim link pendaftaran bantuan insentif untuk semua guru pada 2026. Postingan tersebut menyebut program bantuan insentif untuk guru ASN/PNS serta memuat narasi “info Taspen (pensiunan)”.
Unggahan itu juga menyertakan ajakan pendaftaran online dengan alasan kuota cepat penuh. Tombol pendaftaran yang disertakan mengarah ke situs berisi formulir digital yang meminta data pribadi, seperti nama hingga nomor Telegram.
Sejumlah contoh di atas menunjukkan hoaks dapat dikemas menyerupai pengumuman resmi, lengkap dengan poster dan tautan pendaftaran. Masyarakat diimbau berhati-hati, terutama ketika sebuah tautan meminta data pribadi melalui formulir digital.

