Setiap 2 Desember diperingati sebagai Hari Pencegahan Polusi Sedunia atau World Pollution Prevention Day. Peringatan ini menjadi pengingat untuk menghadapi tantangan lingkungan, sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang polusi dan dampaknya bagi kesehatan manusia serta bumi.
Hari Pencegahan Polusi Sedunia juga mendorong masyarakat memahami langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, serta menyebarkan pengetahuan tersebut kepada orang-orang yang belum mengetahuinya.
Latar belakang dan tujuan
Menurut keterangan yang dikutip dari Days of The Year, Hari Pencegahan Polusi Sedunia bermula dari respons global atas meningkatnya kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan. Gagasan ini pertama kali dibahas oleh para ahli dan pemimpin dalam sebuah konferensi besar tentang keamanan lingkungan pada akhir 1980-an.
Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya pencegahan kecelakaan industri dan pembatasan emisi berbahaya. Kesimpulan utamanya, tindakan dini sebelum polusi menyebar dinilai dapat menyelamatkan nyawa dan ekosistem. Seiring waktu, peringatan ini kemudian mendapat perhatian lebih luas.
PBB dan kelompok lingkungan turut membantu menyebarkan gagasan ini ke berbagai negara, dengan tujuan mendorong tindakan pencegahan sebelum polusi berkembang menjadi krisis.
Peringatan ini tidak hanya mengajak penerapan kebiasaan yang lebih bersih, tetapi juga menyerukan perubahan dalam cara pabrik, pertanian, dan kota beroperasi. Udara bersih, air yang aman, serta tanah yang sehat disebut sebagai kebutuhan dasar, dan peringatan ini menekankan bahwa pencegahan dimulai dari kesadaran.
Cara merayakan Hari Pencegahan Polusi Sedunia
Sejumlah langkah sederhana dapat dilakukan untuk memperingati Hari Pencegahan Polusi Sedunia, sebagaimana dilansir National Today.
Pertama, menanam pohon dan tanaman hijau. Menanam pohon disebut sebagai salah satu metode yang sudah lama dilakukan dan dinilai efektif untuk menghijaukan lingkungan sekitar.
Kedua, menerapkan prinsip daur ulang, gunakan kembali, dan kurangi. Masyarakat diajak mempertimbangkan kembali sebelum membuang wadah dan botol plastik, mengingat plastik tidak dapat terurai secara alami dan berbahaya bagi lingkungan. Karena itu, penggunaan kembali atau mendaur ulang menjadi langkah yang dapat dilakukan.
Ketiga, mengurangi penggunaan plastik. Jika belum bisa menghentikan pemakaian plastik sepenuhnya, masyarakat dapat memulai dengan memilih alternatif seperti tas kain, botol kaca, sikat gigi kayu atau bambu, serta tisu kain.

