Sejumlah informasi menyesatkan terkait cuaca kembali beredar di media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Hoaks semacam ini berpotensi memicu kepanikan, kesalahpahaman, hingga kerugian materiil, terutama ketika dikaitkan dengan peringatan hujan ekstrem atau prediksi kemarau panjang.
Untuk menghindari dampak tersebut, masyarakat diimbau memverifikasi setiap informasi yang diterima melalui sumber kredibel. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merupakan lembaga resmi yang berwenang menyampaikan informasi cuaca dan iklim.
Berikut rangkuman beberapa klaim terkait cuaca yang sempat beredar dan telah menjadi perhatian tim pemeriksa fakta.
Klaim: BMKG menyebut 2026 akan menjadi musim kemarau terparah dalam 30 tahun terakhir
Sebuah unggahan di Facebook pada 13 April 2026 menarasikan bahwa BMKG mengingatkan kemarau tahun 2026 di Indonesia bakal menjadi yang terparah dalam 30 tahun terakhir. Unggahan tersebut juga disertai ajakan agar petani bersiap mencari alternatif pola tanam jika kemarau panjang benar terjadi.
Klaim: BMKG mengeluarkan peringatan fenomena “Squall Line” yang akan membawa hujan lebat, angin kencang, dan petir di Jakarta
Klaim lain beredar melalui Facebook pada 29 Desember 2025. Dalam unggahan itu disebutkan BMKG merilis peringatan dini terkait fenomena Squall Line yang diklaim sedang terbentuk di Samudra Hindia dan bergerak menuju Jawa, dengan potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir pada malam 31 Desember hingga 1 Januari pagi. Narasi tersebut juga menyebut istilah Squall Line menjadi viral serta mengaitkannya dengan risiko kerusakan dan banjir kilat.
Klaim: Fenomena aphelion menyebabkan cuaca bumi lebih dingin dan menimbulkan keluhan meriang
Pada 18 Juli 2025, beredar unggahan di Facebook yang menyatakan masyarakat sedang mengalami fenomena aphelion, yaitu posisi Bumi disebut sangat jauh dari Matahari. Unggahan itu mengklaim dampaknya membuat cuaca lebih dingin hingga memicu meriang, flu, batuk, dan sesak napas, serta menganjurkan konsumsi vitamin atau suplemen untuk meningkatkan imunitas.
Di tengah maraknya klaim semacam ini, masyarakat disarankan tidak langsung mempercayai informasi cuaca yang beredar, terutama yang menyertakan prediksi ekstrem atau istilah ilmiah tanpa rujukan jelas. Informasi resmi dan pembaruan cuaca sebaiknya merujuk pada kanal tepercaya, termasuk BMKG, agar keputusan yang diambil tidak didasarkan pada kabar yang keliru.

