Kelompok Houthi di Yaman kembali terlibat dalam eskalasi konflik regional yang dipicu perang Iran, dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb—jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Pada Sabtu dini hari, kelompok yang didukung Iran itu menyatakan telah meluncurkan rudal ke Israel. Serangan tersebut disebut sebagai aksi pertama mereka sejak gencatan senjata yang mengakhiri perang di Gaza pada Oktober lalu. Kurang dari 24 jam kemudian, juru bicara resmi Houthi, Yahya Saree, mengumumkan serangan lanjutan berupa rudal jelajah dan drone.
Houthi menguasai wilayah Yaman utara dan memiliki persenjataan strategis, termasuk drone bersenjata rakitan, rudal anti-kapal, dan rudal balistik. Banyak di antaranya berbasis desain Iran dan diproduksi secara lokal. Kemampuan ini berkembang selama perang panjang melawan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab pada 2015–2022. Setelah Israel memulai perang di Gaza pada Oktober 2023, Houthi juga meluncurkan drone jarak jauh dan rudal sebagai bentuk solidaritas terhadap Hamas, sekaligus menargetkan kapal-kapal dagang yang melintas di Laut Merah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Houthi juga sempat berhadapan dengan Angkatan Laut Amerika Serikat, terakhir pada Maret–April 2025 dalam operasi militer AS bernama sandi Rough Rider. Beberapa hari sebelum serangan terbaru, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi menyatakan gerakannya akan “membalas kesetiaan dengan kesetiaan” kepada Iran di tengah serangan yang berlangsung. Pejabat Houthi sebelumnya juga berulang kali menyatakan kesiapan bertindak sejak perang AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Namun, analis keamanan Alex Almeida dari Horizon Engage menilai Houthi kemungkinan menahan diri sebelumnya demi mempertahankan posisi mereka. Dalam penilaiannya, kelompok itu mungkin melihat Yaman sebagai “benteng terakhir Revolusi Islam” jika rezim Iran runtuh, sehingga enggan terlibat langsung dalam perang besar yang berisiko membuka banyak front. Selain itu, kekhawatiran atas respons keras Arab Saudi—termasuk kemungkinan kembalinya serangan udara Saudi di Yaman—disebut menjadi faktor penting.
Faktor ekonomi dan politik juga dinilai memengaruhi perhitungan Houthi. Analis Mohammed Al-Basha menyebut penundaan langkah Houthi dipengaruhi kombinasi pertimbangan politik, ekonomi, dan militer. Salah satunya terkait tekanan ekonomi dan kepentingan menjaga negosiasi yang sedang berlangsung dengan Arab Saudi, terutama mengenai kompensasi serta dukungan finansial dalam kerangka peta jalan PBB. Eskalasi konflik dinilai berisiko menggagalkan kemajuan tersebut.
Perang panjang Houthi dan Arab Saudi yang dimulai pada 2015 berakhir dengan gencatan senjata pada 2022, yang hingga kini masih bertahan. Sementara itu, keseimbangan kekuatan di Yaman disebut berubah: dengan berkurangnya peran Uni Emirat Arab, Arab Saudi menjadi aktor eksternal utama, dan pasukan yang didukungnya dinilai menunjukkan koordinasi yang lebih baik. Kondisi ini membuat Houthi mempertimbangkan ulang risiko serangan terhadap Saudi yang dapat memicu respons lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Di sisi lain, sejak Houthi mulai menyerang Israel pada 2023, Israel melancarkan serangan udara jarak jauh terhadap infrastruktur penting yang dikuasai Houthi sejak Juli 2024. Serangan berulang menargetkan pelabuhan Hodeidah di Laut Merah dan Bandara Internasional Sanaa, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan besar. Pada 28 Agustus 2025, serangan udara Israel juga menewaskan sejumlah pejabat Houthi, termasuk Kepala Staf mereka, Mohamed al-Gomari. Dampak serangan ini terlihat dari meningkatnya simbol dan pesan publik di Sanaa yang menyoroti kehilangan tersebut. Israel juga memperingatkan Houthi akan “membayar harga” atas serangan terbaru mereka.
Eskalasi terbaru memunculkan kembali kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan global. Sejak Sabtu, muncul risiko Houthi kembali menargetkan pelayaran di Laut Merah atau bahkan menutup Selat Bab el-Mandeb. Jika situasi itu terjadi bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, dampaknya terhadap ekonomi global dinilai bisa sangat besar.
Almeida menilai, jika AS berupaya membuka kembali Selat Hormuz secara paksa atau menguasai Pulau Kharg, Houthi kemungkinan menyerang jalur ekspor alternatif, termasuk terminal pipa minyak Saudi di Yanbu, serta menutup Bab el-Mandeb bagi pelayaran internasional. Ia juga menyebut Houthi memiliki kemampuan menyerang target militer AS di kawasan, termasuk kemungkinan menargetkan Yanbu, Jeddah, serta pangkalan udara di Arab Saudi barat yang digunakan oleh AS.
Jika AS mengirim kelompok kapal induk melalui Bab el-Mandeb, Houthi diperkirakan dapat mencoba menyerangnya dengan rudal anti-kapal. Sejak operasi Rough Rider pada 2025, Angkatan Laut AS disebut lebih berhati-hati mengoperasikan kapal induk di wilayah yang berada dalam jangkauan rudal darat.
Menurut Al-Basha, meski sebelumnya Houthi menahan diri, situasi tetap dinamis. Jika kelompok itu menilai sekutunya—seperti Iran dan Hizbullah—membutuhkan dukungan, mereka dapat kembali beroperasi, seperti yang terjadi pada Sabtu lalu.

