Jurnalis Diingatkan Jaga Hubungan Hangat dengan Publik di Tengah Krisis dan Tantangan AI

Jurnalis Diingatkan Jaga Hubungan Hangat dengan Publik di Tengah Krisis dan Tantangan AI

Jurnalis diingatkan untuk memahami cara merawat dan menjaga hubungan yang hangat dengan publik, terutama ketika dunia dihadapkan pada krisis dan derasnya arus informasi yang menyesatkan. Pesan ini mengemuka dalam pembahasan dua topik, yakni “Demokrasi dan jurnalisme di persimpangan jalan: peran media di masa krisis” serta “Aplikasi kecerdasan buatan di ruang redaksi: dari praktik ke tahap selanjutnya”.

Presiden Asosiasi Jurnalis Korea, Park Jong Hyun, menekankan bahwa dalam konteks konflik yang sedang berlangsung di Iran, disertai penyebaran misinformasi dan kebencian, jurnalis perlu mengambil tindakan yang jelas dan akurat. Menurutnya, langkah tersebut penting agar media dapat menjalankan peran memberikan informasi yang objektif dan lengkap kepada publik.

Park juga menyampaikan pesan mengenai dimensi kemanusiaan dalam kerja jurnalistik. Ia menyebut jurnalis bukan hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga membawa “percikan cahaya” yang ketika bertemu dapat membuat dunia lebih terang. Karena itu, ia mengingatkan agar jurnalis selalu mengingat dan menghargai “kehangatan” yang diberikan kepada publik.

Selain bertukar perspektif dan keterampilan jurnalistik dalam menghadapi peristiwa global yang mendesak, para jurnalis turut berbagi pengalaman terkait penerapan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), dalam praktik jurnalistik saat ini.

Diskusi menilai AI sebagai lompatan teknologi besar yang telah banyak diterapkan di ruang redaksi di berbagai negara. Tantangan utamanya adalah bagaimana memanfaatkan AI untuk membantu jurnalis memproses data, memverifikasi informasi, dan menghasilkan produk jurnalistik multimedia secara lebih cepat, dalam jumlah lebih besar, dan lebih efisien.

Dalam pembahasan tersebut, peserta sepakat bahwa kekuatan AI perlu dimanfaatkan sembari meminimalkan kelemahannya. AI dinilai sebaiknya diposisikan sebagai asisten virtual bagi jurnalis, bukan pengganti atau pemegang tanggung jawab kerja jurnalistik. Pada akhirnya, penerapan AI diarahkan untuk memenuhi kebutuhan informasi publik yang kian beragam dan menuntut penyajian yang menarik.