Kementerian ESDM Klaim Capaian 2025 Positif: Lifting Minyak Tembus Target, PNBP Rp138,37 Triliun

Kementerian ESDM Klaim Capaian 2025 Positif: Lifting Minyak Tembus Target, PNBP Rp138,37 Triliun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan sejumlah capaian kinerja sektor ESDM sepanjang 2025, mulai dari lifting migas, pemenuhan kebutuhan gas domestik, penerimaan negara, investasi, hingga program kelistrikan dan energi terbarukan. Laporan tersebut disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1).

Bahlil mengatakan 2025 menjadi periode yang penuh tantangan dan dinamika bagi sektor ESDM. Namun, ia menegaskan kementeriannya tetap berupaya menghadirkan layanan energi untuk mendukung target pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk agenda swasembada energi.

Dalam subsektor hulu migas, Kementerian ESDM mencatat lifting minyak bumi mencapai 605,3 ribu barel per hari (MBOPD), atau 100,05% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2025. Sementara rata-rata lifting gas bumi pada 2025 tercatat 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), lebih rendah dibanding target APBN sebesar 1.005 ribu barel.

Meski lifting gas berada di bawah target, Kementerian ESDM menyatakan seluruh kebutuhan gas pada 2025 dipasok dari produksi dalam negeri tanpa impor. Dari total 5.600 Billion British Thermal Unit Per Day (BBTUD), sebanyak 3.908 BBTUD (69%) dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, antara lain untuk hilirisasi dan kebutuhan lain seperti BBG, jaringan gas bumi (jargas), peningkatan produksi migas, ketenagalistrikan, LNG, dan LPG. Adapun 1.691 BBTUD (31%) sisanya diekspor.

Dari sisi penerimaan negara, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Kementerian ESDM dilaporkan melampaui target APBN 2025. Realisasi PNBP mencapai Rp138,37 triliun atau 108,56% dari target. Penerimaan tersebut berasal dari PNBP SDA Mineral dan Batubara (Minerba), SDA Panas Bumi, serta PNBP sektor lain seperti layanan BLU, iuran badan usaha hilir migas, DMO migas, kompensasi DMO batubara, denda smelter, denda Penertiban Kawasan Hutan (PKH), jasa layanan ketenagalistrikan, museum, pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN), dan jasa lainnya.

“Saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim. Kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas,” ujar Bahlil. Ia menambahkan penerimaan negara dibutuhkan untuk membiayai program-program kerakyatan.

Untuk investasi, total investasi sektor ESDM sepanjang 2025 tercatat USD31,7 miliar, terdiri atas subsektor minerba USD6,7 miliar, migas USD18 miliar, listrik USD4,6 miliar, serta EBTKE USD2,4 miliar. Bahlil menyampaikan pemerintah akan menugaskan PT PLN (Persero) mendorong percepatan pembangunan pembangkit baru yang telah disetujui dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Pada subsektor minerba, produksi batubara mencapai 790 juta ton. Dari jumlah tersebut, 32% dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik kelistrikan dan non-kelistrikan. Sebanyak 65,1% atau 514 juta ton diekspor, sedangkan 22 juta ton (2,8%) dialokasikan sebagai stok.

Dari sisi transisi energi, bauran energi dari energi baru terbarukan (EBT) sepanjang 2025 mencapai 15,75%, meningkat dibanding capaian 2024. Total kapasitas terpasang EBT hingga Desember 2025 tercatat 15.630 MW, dengan tambahan kapasitas pada 2025 disebut menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir. Rinciannya meliputi hidro 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, surya 1.494 MW, gasifikasi batubara 450 MW, angin 152 MW, sampah 36 MW, dan lainnya 18 MW.

Kementerian ESDM juga melaporkan implementasi kebijakan B40, yakni campuran 40% minyak sawit dan 60% solar. Pemanfaatan biodiesel domestik pada Januari–Desember 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter (kL) atau 105,2% dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) sebesar 13,5 juta kL. Mandatori B40 disebut menurunkan impor solar hingga 3,3 juta kL, menghemat devisa Rp130,21 triliun, mengurangi emisi 38,88 juta ton CO2 ekuivalen, serta meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.

Di sektor kelistrikan, konsumsi listrik per kapita pada 2025 mencapai 1.584 kWh atau 108,2% dari target 1.464 kWh, naik dari 1.411 kWh pada tahun sebelumnya. Kapasitas terpasang pembangkit listrik juga meningkat 7 gigawatt (GW) dibanding 2024 menjadi 107,51 GW.

Untuk memperluas akses listrik, pemerintah menjalankan program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang 2025, program Lisdes melistriki 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi. Sementara hingga 31 Desember 2025, BPBL terpasang untuk 205.968 rumah tangga. Bahlil menyebut arahan Presiden Prabowo menargetkan elektrifikasi seluruh desa atau dusun pada 2029–2030.

Selain capaian kinerja, pemerintah juga menerbitkan sejumlah kebijakan reformasi sektor ESDM pada 2025, antara lain Pertambangan Inklusif dan Partisipatif melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2025, Sumur Minyak Masyarakat melalui Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, Tata Kelola RKAB melalui Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2025, serta percepatan pengembangan EBT melalui Permen ESDM Nomor 4, 5, dan 10 Tahun 2025.

Dalam aspek ketenagakerjaan, Kementerian ESDM mencatat penyerapan tenaga kerja mencapai 871.574 orang di subsektor migas, minerba, ketenagalistrikan, dan EBTKE.