Ketegangan AS–Iran Memanas, Penumpukan Militer dan Retorika Ancaman Menguat

Ketegangan AS–Iran Memanas, Penumpukan Militer dan Retorika Ancaman Menguat

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat seiring penumpukan kekuatan militer AS di kawasan dan menguatnya retorika ancaman dari Presiden AS Donald Trump. Dalam situasi ini, muncul kekhawatiran bahwa Washington dapat melangkah menuju konflik terbuka, meski sejumlah penilaian internal menyebut risiko perang berkepanjangan dan korban yang tinggi.

Dalam ulasan yang membandingkan dinamika saat ini dengan cara Presiden Rusia Vladimir Putin mempersiapkan invasi ke Ukraina, Trump digambarkan mendekati opsi perang dengan keyakinan tinggi, sembari menampilkan citra bahwa keputusan berada sepenuhnya di tangannya. Trump, dalam pernyataannya, menegaskan dirinya sebagai pengambil keputusan dan menyebut kegagalan mencapai kesepakatan akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran.

Di sisi lain, terdapat perbedaan antara penilaian militer yang disampaikan kepada Trump dan narasi yang muncul ke publik. Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan, disebut menyampaikan tiga poin utama dalam pengarahan di Gedung Putih: pasukan AS di Timur Tengah dapat menahan serangan “kecil atau menengah” tetapi tidak untuk perang panjang; risiko korban Amerika berpotensi tinggi; serta penggunaan rudal dalam tempo cepat dapat menguras stok persenjataan AS. Namun, dalam versi Trump atas pengarahan yang sama, Caine disebut menyatakan bahwa aksi militer apa pun akan menjadi “sesuatu yang mudah dimenangkan”.

Indikasi persiapan konflik juga terlihat dari aktivitas militer di kawasan. Langit Yordania disebut dipenuhi aktivitas militer AS, sementara pasukan AS yang dikerahkan kembali dari Irak dilaporkan muncul di sebuah pangkalan di Lebanon. Sebelas pesawat tempur F-22 Raptor mendarat di pangkalan udara Ovda di gurun Negev, Israel, setelah terbang dari RAF Lakenheath di Inggris dengan dukungan tujuh pesawat tanker pengisian bahan bakar udara. Perkembangan ini terjadi setelah pemerintah Inggris menyatakan Perdana Menteri Keir Starmer menolak izin penggunaan pangkalan udara Inggris sebagai landasan peluncuran serangan ke Iran.

Di Israel, pemimpin oposisi Yair Lapid menyatakan kepada Knesset bahwa perbedaan politik dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan “dibekukan” bila terjadi perang dengan Iran. Lapid juga menyampaikan kesediaannya melakukan diplomasi publik untuk mendukung serangan terhadap Iran dan menyerukan agar pemerintahan para ayatollah diakhiri. Rumah sakit di Israel dilaporkan mulai bersiap, termasuk mengubah area parkir bawah tanah menjadi bangsal perawatan akut.

Retorika Trump mengenai alasan penumpukan militer juga dinilai bergeser. Dalam pidato kenegaraan terbaru, Trump menyatakan Iran “sedang bekerja membangun rudal yang segera akan mencapai Amerika Serikat.” Beberapa jam sebelumnya, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mengklaim Iran berada di ambang kemampuan menghasilkan bahan pembuat bom, bahkan menyebut “mungkin tinggal seminggu lagi” dari memiliki bahan pembuat bom “tingkat industri.” Klaim-klaim ini dipandang sebagai upaya menegaskan ancaman yang bersifat segera.

Proses pengambilan keputusan di lingkaran Trump disebut menjadi perhatian di Iran. Selain Witkoff, menantu Trump Jared Kushner dan Wakil Presiden JD Vance digambarkan turut melakukan “perhitungan dingin,” namun cenderung berada di latar saat keputusan diambil. Dalam konteks ini, Trump dinilai telah menempatkan dirinya dalam posisi sulit: penumpukan kekuatan laut dan udara membuatnya memiliki ruang keluar yang sempit kecuali mampu mengklaim konsesi Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sejumlah pengamat menilai ketidakpastian sikap Trump menjadi faktor penting. Istilah “teori Taco” (Trump Always Chickens Out) digunakan untuk menggambarkan pandangan bahwa Trump kerap mundur pada saat-saat terakhir. Namun Aaron David Miller, mantan negosiator perdamaian AS–Timur Tengah, menyampaikan variasi pandangan yang tetap mengarah pada risiko perang. Ia menilai Trump telah memojokkan dirinya sendiri: jika tidak berhasil mengekstrak konsesi besar dari Iran untuk menghindari perang yang sebenarnya tidak diinginkan, maka ia berpotensi terdorong masuk ke dalamnya. Miller menyebut situasi ini sebagai krisis yang diciptakan sendiri.

Di tengah dinamika itu, Netanyahu disebut memiliki visi yang lebih jelas tentang tujuan serangan terhadap Iran dan dinilai memengaruhi Trump melalui “intelijen” mengenai dugaan dimulainya kembali program pengayaan nuklir Iran. Sementara itu, Trump dinilai belum membangun landasan dukungan yang konsisten untuk perang, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tidak ada pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB, dan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah disebut menolak mengizinkan pangkalan mereka dipakai sebagai landasan peluncuran.

Di Teheran, Iran digambarkan menyiapkan skenario perang panjang, atau setidaknya kemampuan bertahan pada gelombang serangan awal dengan sistem komando dan kendali tetap utuh. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei disebut mempercayakan Ali Larijani—pejabat keamanan nasional tertinggi Iran—untuk menjaga kelangsungan negara jika para pemimpin tertinggi dibunuh. Disebut pula bahwa setiap pejabat militer dan pemerintah senior memiliki empat pengganti.

Larijani digambarkan sebagai figur yang menarik: mantan ketua parlemen yang mendukung mantan presiden reformis Hassan Rouhani dan pendukung kuat kesepakatan nuklir 2015, namun juga mantan anggota Garda Revolusi dengan pengalaman keamanan eksekutif, termasuk pernah menjadi sekretaris Dewan Keamanan Nasional. Dalam tulisan ini, Larijani disebut sebagai pemimpin perang Iran.

Penolakan Iran untuk menyerah meski menghadapi armada besar AS dijelaskan melalui latar sejarah para pemimpinnya yang ditempa perang, terutama pengalaman pahit perang Iran–Irak delapan tahun, termasuk serangan kimia. Disebutkan perkiraan satu juta warga Iran—militer dan sipil—terpapar agen perang kimia, dengan lebih dari 100.000 tercatat menerima perawatan darurat akibat cedera kimia. Pada periode itu, Saddam Hussein disebut dibiayai Arab Saudi dan Kuwait serta didukung AS dan Eropa, sementara perusahaan-perusahaan Jerman disebut mengirim lebih dari 1.000 ton prekursor bahan kimia yang memungkinkan produksi gas beracun.

Iran juga disebut telah memberi tahu negara-negara tetangga bahwa setiap pangkalan AS di wilayah mereka akan menjadi target sah jika perang terjadi. Jika terminal minyak utama Iran di Pulau Kharg diserang, kilang-kilang di sepanjang Teluk disebut akan rentan. Untuk bersiap, Iran dilaporkan memuat hampir tiga kali lipat volume minyak biasanya ke kapal tanker.

Di dalam negeri, Iran disebut menghadapi krisis internal setelah pembunuhan ribuan demonstran dalam pemberontakan Januari dan penangkapan puluhan ribu orang. Meski demikian, kepemimpinan Iran digambarkan tidak akan menyerah, dan tekad menghadapi perang disebut dibagi oleh dua faksi politik utama elite Iran.

Faktor yang belum jelas adalah bagaimana reaksi China. Namun disebutkan bahwa China telah menarik garis merah terhadap perubahan rezim di Iran, yang tetap menjadi mitra energi utama Beijing.

Keseluruhan situasi ini dinilai memiliki ciri-ciri perang regional yang lebih luas, yang menurut banyak pengamat telah lama diperingatkan sejak Israel memulai serangannya di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon. Di tengah penumpukan kekuatan dan meningkatnya retorika, pertanyaan apakah Trump akan mundur pada saat terakhir tetap terbuka, sementara risiko eskalasi yang sulit dikendalikan terus membayangi.