Klaim Cina Kembangkan Robot Berrahim untuk Menggantikan Ibu Disebut Fiksi

Klaim Cina Kembangkan Robot Berrahim untuk Menggantikan Ibu Disebut Fiksi

Unggahan bergambar robot humanoid yang tampak sedang hamil beredar di media sosial X dan Facebook sejak 26 Februari 2026. Unggahan itu disertai klaim bahwa Cina mengembangkan teknologi robot yang dapat mengandung bayi dan menggantikan peran ibu.

Dalam narasi yang menyertai unggahan, robot tersebut disebut menggunakan sistem tabung nutrisi canggih yang diklaim mampu meniru fungsi tali pusar untuk mendukung pertumbuhan janin. Pengembang dalam klaim itu juga menyebut teknologi tersebut dapat menjadi solusi bagi pasangan dengan masalah kesuburan atau kehamilan berisiko tinggi.

Hingga penulisan ini, unggahan tersebut dilaporkan telah dilihat lebih dari 3.200 kali dan memicu 55 komentar warganet. Namun, hasil penelusuran menunjukkan klaim tentang robot yang dapat mengandung bayi tidak didukung bukti pengembangan yang nyata.

Berdasarkan verifikasi menggunakan mesin pencari dan rujukan pemberitaan kredibel, belum ditemukan pengembangan robot yang dapat mengandung bayi. Cerita mengenai “robot hamil” ini disebut telah beredar di internet sebagai fiksi.

Penelusuran dengan kata kunci “robot hamil Cina”, “gestation robot”, dan “pregnancy robot” menunjukkan narasi serupa telah muncul sejak Agustus 2025. Isu tersebut juga mencatut nama Zhang Qifeng, yang diklaim sebagai ilmuwan bergelar doktor dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, serta disebut mengembangkan robot melalui perusahaan bernama Kaiwa Technology.

Dalam klaim yang beredar, prototipe robot itu disebut akan siap pada 2026 dengan harga di bawah 100 ribu yuan atau sekitar Rp 245 juta, dan kabarnya mencuat setelah wawancara dengan media teknologi asal Cina, Kuai Ke Zhi.

Namun, juru bicara NTU membantah klaim tersebut kepada organisasi pemeriksa fakta Snopes. NTU menyatakan tidak memiliki ilmuwan bernama Zhang Qifeng maupun riset terkait “robot hamil”. “Tidak ada seorang pun dengan nama 'Zhang Qifeng' yang lulus dari NTU dengan gelar PhD. Pemeriksaan kami juga menunjukkan bahwa tidak ada penelitian 'robot kehamilan' semacam itu yang telah dilakukan di NTU,” kata juru bicara tersebut.

Sementara itu, riset yang benar-benar sedang dikembangkan di bidang terkait lebih mengarah pada teknologi rahim buatan untuk membantu bayi prematur, bukan robot yang dapat mengandung. Peneliti di Children’s Hospital of Philadelphia (CHOP) mengembangkan Extend, perangkat yang dirancang sebagai lingkungan luar rahim untuk mendukung perkembangan bayi baru lahir dan menekan risiko kematian bayi prematur.

Extend didesain menyerupai kondisi rahim agar bayi dapat melewati fase kritis sekitar usia kehamilan 28 minggu. Perangkat ini menggunakan kantung berisi cairan amnion buatan kaya nutrisi. Tali pusar bayi dihubungkan ke external oxygenator sebagai pengganti plasenta untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Sistem tersebut juga dirancang melindungi bayi dari fluktuasi suhu, tekanan, cahaya, serta paparan kuman.

Sejauh ini, Extend telah diuji pada anak domba. Makalah riset pada 2017 menyebut janin domba dapat bertahan selama sebulan dengan perkembangan yang serupa seperti di dalam rahim. Riset kolaborasi dengan Universitas Duke pada 2024 juga dilaporkan menunjukkan perangkat tersebut dapat menjaga stabilitas aktivitas gen pada otak domba prematur dalam waktu lebih lama.

Inovasi serupa juga dilaporkan muncul di Aachen, Jerman. Perusahaan rintisan asal Belanda, AquaWomb, merancang tangki kaca seukuran akuarium untuk memproteksi bayi prematur ekstrem. Cairan ketuban buatan diatur pada suhu 37,61 derajat Celsius, sedikit di atas suhu inti tubuh ibu. Kantung berlapis ganda di tengah wadah dirancang melentur mengikuti pertumbuhan bayi, dari ukuran buah delima pada usia 23 minggu hingga sebesar terong pada usia 28 minggu.

Meski demikian, CEO AquaWomb Myrthe van der Ven menyebut salah satu tantangan tersulit adalah menciptakan alat yang mampu menyamai kerja paru-paru bayi prematur.

Dengan demikian, klaim bahwa Cina menciptakan robot berrahim untuk mengandung bayi dan menggantikan peran ibu tidak didukung bukti dan disebut sebagai cerita fiksi yang beredar di internet. Riset yang ada saat ini lebih berfokus pada pengembangan rahim buatan untuk perawatan bayi prematur.