Sejumlah akun media sosial menyebarkan narasi yang menyebut Indonesia berada di peringkat kelima dunia dengan jumlah populasi lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) terbanyak. Unggahan yang beredar di Instagram, Facebook, Tiktok, dan YouTube sejak 10 April 2026 itu mencatut Central Intelligence Agency (CIA) sebagai sumber data.
Dalam narasi tersebut disebutkan bahwa pada 2015 CIA merilis data yang menyatakan sekitar 3 persen penduduk Indonesia, atau setara 7,5 juta orang, merupakan kelompok LGBT. Unggahan itu juga menuai respons besar di media sosial dengan puluhan ribu tanda suka, ribuan komentar, serta dibagikan ulang ratusan hingga ribuan kali.
Namun, hasil penelusuran menunjukkan klaim tersebut tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi. Tempo, melalui pemeriksaan fakta, menyimpulkan CIA tidak pernah merilis data mengenai populasi LGBT, termasuk yang memeringkat Indonesia dalam daftar negara dengan komunitas LGBT terbanyak.
Penelusuran Tempo menemukan konten yang beredar di media sosial itu merujuk pada dua artikel Radar Jember yang terbit pada 28 Oktober 2025 dan 9 April 2026. Meski menyebut CIA, kedua artikel tersebut tidak menyertakan tautan atau rujukan langsung ke publikasi resmi CIA.
CIA merupakan lembaga pemerintah Amerika Serikat yang menyediakan informasi intelijen tentang negara asing dan isu global untuk presiden, Dewan Keamanan Nasional, serta pembuat kebijakan terkait keamanan nasional. Tempo melakukan penelusuran di situs CIA menggunakan kata kunci “LGBT” dan “LGBTQ” dan tidak menemukan laporan atau artikel yang memuat data populasi LGBT di dunia maupun di Indonesia.
Hasil pencarian di situs CIA lebih banyak mengarah pada dokumen yang berkaitan dengan kebijakan internal, narasi sejarah “Lavender Scare” dan diskriminasi terhadap pegawai homoseksual, serta analisis risiko keamanan dan potensi manipulasi terhadap orang homoseksual di dunia intelijen. Tempo juga mencatat informasi bahwa pada 20 Februari 2026 CIA mencabut 19 penilaian intelijen selama satu dekade terakhir yang dinilai bias secara politik, salah satunya terkait LGBT karena dianggap tidak memenuhi standar imparsialitas.
Sementara itu, data lain yang menyinggung identifikasi orientasi seksual dicatat oleh World Population Review (WPR). Dalam pembaruan data hingga 2021, WPR menyebut sekitar 8 persen penduduk dunia mengidentifikasi diri sebagai homoseksual, biseksual, atau panseksual. WPR juga mencatat kelompok heteroseksual mendominasi sebesar 80 persen, sedangkan 12 persen lainnya memilih tidak mengungkap identitas seksual.
Menurut WPR, Brasil, Kanada, Swedia, Amerika Serikat, dan Jerman termasuk lima negara dengan populasi LGBTQ+ teridentifikasi terbanyak. Namun WPR memberikan catatan bahwa tidak semua orang LGBT di berbagai negara dapat atau bersedia mengidentifikasi diri secara terbuka karena risiko terhadap pekerjaan, penerimaan sosial, akses bantuan sosial tertentu, hingga keselamatan pribadi. Situasi ini membuat data yang benar-benar akurat sulit diperoleh, bahkan di negara yang relatif toleran.
Di sisi lain, narasi statistik populasi LGBT yang beredar di ruang digital dinilai berisiko memicu kepanikan moral dan memperbesar tekanan psikologis pada kelompok minoritas. Aktivis Pelangi Nusantara, Arisdo Gonzalez, menilai penyebaran klaim semacam itu dapat meningkatkan “minority stress”, yakni kondisi ketika kelompok minoritas terus-menerus merasa diawasi dan diposisikan sebagai masalah sosial. Ia mengatakan dampaknya membuat sebagian orang takut menjadi sasaran perundungan hingga memilih menjauh dari media sosial.
Arisdo juga menyoroti peran media yang dinilai dapat memperkuat narasi anti-LGBTIQA+ melalui judul sensasional demi mengejar keterlibatan pembaca. Ia menyebut isu keberagaman seksual kerap dijadikan komoditas klik dan sasaran kemarahan publik, sementara persoalan lain yang mendesak menjadi terpinggirkan. Di tingkat daerah, ia menyinggung kemunculan regulasi yang menyasar kelompok queer dengan dalih ketertiban umum atau aturan anti-maksiat.
Berdasarkan hasil penelusuran tersebut, klaim bahwa Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan komunitas LGBT terbanyak di dunia menurut data CIA dinyatakan keliru.

