Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, mengingatkan bahwa tingkat kepuasan publik yang tinggi tidak otomatis menjadi jaminan kemenangan politik pada kontestasi berikutnya. Menurut dia, dalam politik, approval rating tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas, sehingga euforia berlebihan justru dapat menjadi jebakan.
Pernyataan itu disampaikan Toto saat menanggapi survei yang menyebut tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen. Ia menekankan agar pihak yang tengah menikmati angka kepuasan tinggi tidak cepat berpuas diri.
“Sejumlah kasus di Pilkada membuktikan, banyak incumbent tumbang karena terlena dengan tingginya tingkat kepuasan publik. Sebab, kepuasan publik itu tak pernah berbanding lurus dengan elektabilitas,” kata Toto kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Menurut Toto, pengalaman berbagai kontestasi menunjukkan figur yang tampak kokoh di awal dapat tersalip pada fase akhir, terutama bila hanya bertumpu pada angka kepuasan. Ia menyebut sejumlah faktor dapat membuat kepuasan tidak identik dengan pilihan suara, mulai dari latar pendidikan responden, budaya sungkan, hingga faktor psikologis.
Dalam psikologi politik, Toto menjelaskan adanya perbedaan antara approval dan enthusiasm. Approval lebih bersifat administratif, yakni penilaian apakah pemerintah dinilai bekerja cukup baik. Sementara enthusiasm berkaitan dengan emosi: apakah pemimpin memberi harapan, energi, dan rasa suka. Ia menilai elektabilitas lebih sering lahir dari unsur kedua.
“Orang bisa saja mengatakan puas, karena situasi relatif stabil, bantuan sosial berjalan, dan tidak ada krisis besar yang mengguncang. Tetapi ketika ditanya, apakah anda akan memilih, jawabannya bisa jauh lebih cair, karena sering muncul keinginan pemimpin yang lebih baik,” ujarnya.
Toto juga menyoroti komposisi angka kepuasan yang kerap menggabungkan kategori “cukup puas” dan “sangat puas”. Padahal, ia menilai basis pendukung yang militan biasanya berada pada kelompok “sangat puas”. Ia mencontohkan survei Indikator Politik: dari 79,9 persen responden yang menyatakan puas, sekitar 66,9 persen mengaku cukup puas dan 13,0 persen sangat puas. Dari pengalamannya, kelompok yang benar-benar solid bisa jadi hanya 13,0 persen, sementara sisanya masih cair.
Ia menambahkan, tidak sedikit incumbent yang memiliki tingkat kepuasan 70–90 persen, tetapi elektabilitasnya tetap berada di bawah 50 persen, bahkan di bawah 40 persen. Dalam situasi seperti itu, menurut Toto, guncangan kecil dapat membuka peluang bagi kompetitor untuk menyalip.
“Banyak presiden di dunia terjebak dalam zona nyaman tingginya kepuasan publik. Tetapi, basis pendukungnya tidak militan. Sehingga, begitu muncul krisis kecil saja seperti kenaikan harga, polemik kebijakan, atau isu komunikasi publik yang buruk, dukungan bisa cepat terkikis karena ia tidak ditopang oleh ikatan emosional yang kuat,” ungkapnya.
Toto juga menilai dinamika era media sosial membuat dukungan publik semakin sulit diprediksi. Pemimpin, kata dia, tidak hanya dinilai dari kebijakan, tetapi juga dari empati, konsistensi narasi, dan kemampuan meredam kontroversi. Ia mengingatkan bahwa dalam kultur responden di Indonesia, sebagian orang cenderung memilih jawaban yang aman, sehingga ada kemungkinan kepuasan yang disampaikan bersifat permukaan.
Jika ingin membangun warisan kepemimpinan yang kokoh, Toto menilai stabilitas saja tidak cukup. Ia menyebut pemimpin umumnya dikenang bukan semata karena menjaga keadaan tetap aman, melainkan karena berani mengubah arah bangsa. Program seperti makan bergizi gratis, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan pertahanan negara, menurutnya, membutuhkan narasi besar yang menyentuh emosi, bukan sekadar capaian administratif.

