Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar kerap menjadi sasaran informasi palsu atau hoaks yang beredar di media sosial maupun aplikasi percakapan. Sejumlah unggahan menampilkan nama dan foto Menag, disertai narasi yang memancing reaksi publik.
Berikut beberapa klaim yang beredar dan telah menjadi bahan pemeriksaan fakta.
1. Klaim pemerintah akan membentuk dan mengelola kas masjid
Sejak awal pekan, beredar unggahan yang mengklaim pemerintah akan membentuk rekening kas masjid dan mengelolanya. Salah satu unggahan ditemukan di Facebook pada 21 April 2026, menampilkan foto Menag Nasaruddin Umar dengan narasi: “Pembentukan rekening kas masjid yang nanti akan dikelola oleh pemerintah”. Unggahan itu juga disertai komentar bernada mempertanyakan kebijakan tersebut.
2. Klaim video Menag mengumumkan dana hibah Arab Saudi untuk masyarakat
Klaim lain yang beredar adalah video yang menarasikan Menag Nasaruddin Umar menyampaikan bantuan dana hibah dari Kerajaan Arab Saudi untuk masyarakat Indonesia. Informasi ini diunggah oleh salah satu akun di Facebook pada 10 Maret 2026, disertai keterangan yang mengajak masyarakat mendaftar melalui “sistem elektronik” dan menyediakan menu kirim pesan.
Dalam narasi pidato yang menyertai video tersebut, disebutkan bahwa bantuan dana hibah “resmi dibagikan ke seluruh Indonesia” dan masyarakat yang belum menerima diminta mendaftar untuk mendapatkan bantuan.
3. Klaim artikel Menag tak bisa berbuat banyak karena uang haji dipakai Jokowi
Di media sosial juga beredar unggahan berupa artikel yang mengklaim Menag Nasaruddin Umar “tak bisa berbuat banyak” karena uang haji dipakai Jokowi. Salah satu unggahan ditemukan di Facebook pada 12 Juni 2025, menampilkan judul yang diklaim berasal dari Detik.com: “Menag Nazaruddin Umar saya tidak bisa berbuat banyak Pak Jokowi Tahun Ini Pakai uang haji lagi apalah Daya saya cuma Menteri Agama”. Unggahan tersebut disertai narasi tambahan berisi ajakan dan pernyataan bernada provokatif.
Rangkaian klaim di atas menunjukkan bagaimana nama pejabat publik dapat dicatut dalam berbagai unggahan yang beredar luas. Masyarakat diimbau untuk berhati-hati, memeriksa konteks informasi, serta memastikan kebenaran sebelum membagikan konten yang mencatut nama tokoh tertentu.

