Nama Menkeu Purbaya Dicatut dalam Sejumlah Hoaks Bantuan, Beredar Video Deepfake di Media Sosial

Nama Menkeu Purbaya Dicatut dalam Sejumlah Hoaks Bantuan, Beredar Video Deepfake di Media Sosial

Jakarta - Nama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dicatut dalam sejumlah informasi palsu yang beredar di media sosial. Hoaks tersebut umumnya menjanjikan bantuan finansial dalam jumlah besar dan menyasar masyarakat yang membutuhkan.

Sejumlah konten yang beredar menampilkan video yang seolah-olah memperlihatkan Purbaya mengumumkan program bantuan. Modus ini disebut kerap memanfaatkan teknologi deepfake untuk memanipulasi suara dan citra pejabat agar tampak meyakinkan.

Berikut rangkaian klaim hoaks terkait bantuan yang mencatut nama Purbaya.

1. Klaim video bantuan untuk lansia

Salah satu unggahan di Facebook pada 4 April 2026 menampilkan video yang diklaim berisi pernyataan Purbaya tentang bantuan untuk lansia. Dalam unggahan itu, terdapat ajakan “hubungi bendahara” melalui nomor WhatsApp, disertai keterangan “HUBUNGI BENDAHARA JIKA KMU LANSIA” serta narasi yang mendorong pengguna untuk mengikuti akun dan berinteraksi di kolom komentar.

2. Klaim video bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan

Hoaks lain diunggah di Facebook pada 8 Maret 2026. Unggahan tersebut mengklaim adanya program bantuan dana dari Menkeu Purbaya untuk masyarakat yang membutuhkan, disertai ajakan agar penerima mengirim pesan langsung (DM) untuk mendaftarkan data diri.

Video yang beredar juga menampilkan logo iNews dan menyertakan narasi agar masyarakat memasukkan data untuk mendapatkan bantuan keuangan, serta menyediakan tombol kirim pesan pada postingan.

3. Klaim video bantuan THR

Pada 15 Februari 2026, beredar pula unggahan video di Facebook yang mengklaim Purbaya mengumumkan bantuan Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang Ramadan. Unggahan itu memuat ajakan untuk segera mendaftar, menghubungi pembuat unggahan, mengikuti akun, dan membagikan video untuk “konfirmasi” bahwa bantuan disebut resmi. Seperti unggahan lainnya, postingan ini juga menyediakan menu kirim pesan.

Rangkaian konten tersebut menunjukkan pola serupa, yakni menggunakan video yang mengatasnamakan pejabat dan mengarahkan masyarakat untuk menghubungi pihak tertentu melalui pesan atau nomor yang dicantumkan.